languages languagesicone
site loader
site loader
September 6, 2024 Gairah Seks yang Hampir Tidak Tersalurkan dari Istriku

Gairah Seks yang Hampir Tidak Tersalurkan dari Istriku

Namaku Budi. Akibat dampak krisis yang berkepanjangan, menyebabkan aku dipecat dari perusahaan. Dengan modal seadanya aku berusaha wiraswasta kecil-kecilan. Baru mulai dapat pasar, pemasukan sudah mulai membaik, eh peralatan di tempat usahaku dicuri maling. Apes benar yah. Sekejam-kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibu kota, memang ada benarnya.
Akhirnya dengan meminjam modal pada saudara (jelas tidak mungkin kalau ke bank, apa yang mau diagunkan). Setelah modal cukup aku coba lagi diusaha yang sama, hanya beda lokasi (mungkin hong sui yang dulu nggak bagus – pasar ada tetapi nggak aman).
Pemasukan dari usaha ini tidak begitu baik, tetapi tetap bersyukur, karena tempatnya aman. Yah aku coba jalani saja, hingga suatu saat..
Aku punya istri, namanya Ida. Dia bekerja di perusahaan swasta sebagai staf pemasaran. Gaji yang dia dapat tidak mencukupi karena (setelah) dipotong dengan biaya transpotasi dan makan, hanya tinggal beberapa ratus ribu rupiah. Sementara fixed cost COM (Cost Of Marriage) alias biaya tetap operasional rumah tangga cukup besar yang tidak sebanding dengan pemasukan, sehingga aku usulkan dia berhenti bekerja saja, agar membantu usahaku dengan demikian aku dapat mengurangi karyawanku dan menambah pemasukan. Alhasil pemasukan hanya dari hasil wiraswastaku, mangan ora mangan ngumpul.
Setelah dicoba beberapa bulan, akhirnya dia menolak dengan alasan pemasukanku fluktuatif, sementara dia mempunyai penghasilan tetap. Selain itu pekerjaan di rumah monoton, dan buat apa dia belajar bila tidak dipraktekkan. Semua alasannya masuk akal, sehingga dengan berat hati aku menyetujuinya untuk kembali bekerja di kantor yang sama. Beruntung sebelumnya dia mendapat cuti di luar tanggungan, belum mengundurkan diri, sehingga dapat kembali lagi dengan hak yang sama.

Beberapa bulan kemudian istriku bilang ingin mempunyai anak. Saat ini dia menggunakan spiral sebagai kontrasepsi (kita sepakat sebelum nikah agar tidak mempunyai anak bila belum siap secara materiil dan moril). Aku bilang kondisi saat ini tidak memungkinkan. Dia tetap bersikeras bahwa banyak anak banyak rejeki. Aku tertawa mendengarnya. Akhirnya dia menerima untuk sementara waktu tidak hamil dulu. Aku berikan alasan bahwa biaya terbesar untuk mempunyai anak adalah pendidikan dan kedua kesehatan, sehingga dengan kondisi yang belum stabil, aku belum berani ambil resiko – kita selalu bermusyawarah dengan memberikan alasan yang masuk akal, sehingga tidak ada larangan tanpa alasan – alias otoriter.
Suatu siang gairah seks ku naik sehingga, aku jadi “pingin” banget, kita berdua tinggal di rumah kontrakan di pinggiran Selatan kota Jakarta, yang hanya mempunyai tiga ruang dengan masing-masing ukuran tiga kali tiga, ruang pertama ruang tamu, ruang tengah, ruang tidur yang mempunyai pintu, sedangkan ruang ketiga adalah dapur dan kamar mandi, sehingga secara keseluruhan rumah kontrakan ini berukuran tiga kali sembilan meter, dan itupun berjajar sebanyak lima buah berdempetan.

Kondisi rumah yang kecil dan panas yang terik, membuat dia tidur hanya mengenakan CD dan bra, sementara tak jauh darinya kipas angin dengan kecepatan rendah, sedang berputar. Pagi hari menjelang siang aku “meminta” tetapi dia menolak karena capek. Tapi desakan “arus bawah” ini nggak tahu diri, akhirnya aku berusaha masuk ke kamar. Ternyata kamar dikunci. Dengan tidak kehilangan akal aku berusaha melepas anak kunci di dalam kamar dengan menusuk dari luar dengan obeng, agar jatuh ke koran yang aku letakkan di bawah pintu. Aduh mau minta “jatah” sama istri sendiri saja susahnya minta ampun. Saat anak kunci jatuh, dia terbangun dan anak kunci itu dengan sekali gerakan dengan kakinya keluar dari koran. Yah apes, gagal.

Aku coba cara lain. Kabel kipas angin tertancap di stop kontak di luar kamar tidur (karena stop kontak di kamar tidur lagi rusak) aku cabut sehingga udara yang dihembuskan terhenti. Tak berapa lama, dia mulai berkeringat, dan berusaha menekan tombol-tombol kipas yang tak bertegangan.
Karena panas dia keluar dan.. “Mas, aku capek tolong jangan dulu, pasang lagi kabel kipas anginnya!” katanya. Tanpa komentar kulakukan apa yang dia minta. Yah terpaksa mengalah lagi. Dia kembali masuk ke kamar untuk melanjutkan tidur tanpa mengunci kamar. Gagal lagi.

Suatu hari dia memintaku agar bekerja di kantoran, yang penting mempunyai penghasilan tetap. Aku bilang umurku sudah tidak muda lagi. Mana ada kantor yang mau. Yang ada juga sekarang pada di PHK, kubilang.
Saat malam, aku benar-benar “pingin” banget, soalnya yaitu, dia kalau tidur nggak siang atau malam selalu hanya CD dan bra hitamnya saja, sementara kulitnya lumayan putih, jadi kan “arus bawah” selalu meronta. Aku mulai mendekati dan merayunya, karena sudah beberapa hari ini aku hanya masturbasi.
“Ma, aku pingin, nih..” sambil mengusap paha bagian dalamnya, posisinya tidur telungkup. Dia langsung membalik badan dan duduk serta.. “Kamu disuruh kerja nggak mau, aku pingin punya anak kamu nggak mau, apa-apa nggak mau, mati aja sana! ngentot mulu yang dipikirin..” katanya dengan suara cukup keras, malu juga aku didenger oleh tetangga. “Ya sudah Ma. Kalau nggak mau yah jangan teriak-teriak gitu dong. Didengerin sama tetangga kan malu!” jawabku. Mungkin dia ada masalah di kantor atau kurang sehat, aku memaklumi, aku keluar kamar dan tidur di ruang tamu.
Di suatu sore, saat sampai di rumah dari pulang kerja, setelah membersihkan diri dan makan, dia minta tolong aku untuk ngerokin badannya. Katanya masuk angin. Aku sedang tanggung memperbaiki peralatan usahaku di ruang tamu. Ternyata karena nggak sabar menungguku, dia minta tolong dengan Mbak sebelah untuk ngerokin badannya di kamar tidur kami.
Setelah selesai memperbaiki peralatan, aku menuju kamar tidur dan kulihat dia sedang tidur-tiduran (dia selalu tidur dengan telungkup, aku nggak bisa membayangkan saat dia nanti hamil, kalau jadi, khan repot). Aku coba memijat pundaknya, dan mengurut punggungnya. Karena terhalang oleh tali surga alias tali bra, kucoba melepaskan. Dia diam saja, dan aku terus memijat dengan siku tanganku secara perlahan, kuturunkan sedikit bagian belakang celana dalamnya hingga belahan pantatnya tampak semua (kalau dia protes, akan kujawab CD-nya mengganggu).
Nampaknya dari hasil pijatanku dia tertidur. Dengan perlahan kulepas CD-nya, pelan-pelan. Setelah terlepas, kupijat telapak kakinya sedikit demi sedikit menuju ke bagian atas sambil melebarkan bentangan kaki kiri dan kanan, kemudian ke arah betisnya, pangkal pahanya, dan kuusap paha bagian dalamnya, dan dia mengubah arah kepalanya dengan membelakangiku (jangan-jangan dia pura-pura tidur??).
Saat ini rudalku sudah siaga satu, nampak seperti joystick. Bedanya nggak ada push-button-nya.
Saat kupijat paha bagian dalam sengaja kelingkingku tidak ikut menekan tetapi kubiarkan menunjuk. Kadang kugesek ke anusnya, kadang ke klitorisnya (dia mempunyai klitoris yang sangat besar serta keluar dari penutupnya, baik dalam posisi terangsang ataupun tidak – mungkin itu sebabnya dinamakan IDA alias Itil kuDA). Dia ini tergolong wanita dengan bulu lebat, hingga lubang anusnya pun banyak ditumbuhi bulu. Takut dianya marah aku pindah memijat kaki sebelahnya tanpa merubah posisi dudukku, dan kuulangi lagi mengarah ke atas. Kali ini aku tidak menyentuh anus atau klitorisnya, tapi kuusap bulu kemaluan serta bulu sekitar anus tanpa menyentuh kulitnya.

Aku lepaskan pakaianku. Kebetulan hawanya panas sekali saat itu. Kuusap kemaluannya, terasa ada sedikit lendir, kubalikkan badannya, dan.. “Ma, main, yah?” bisikku ke telinganya sambil menjilat daging lunak sekitar telinga. “Hmm..” tanpa kata, tapi aku dapat menangkap maksudnya, pasti bukan penolakan. Segera kutindih badannya, dan kuhisap putingnya yang berwarna coklat muda secara bergantian (lucu deh, balita aja kalah mimik asi-nya). Kemudian kucium mulut dan kujilati sekitar telinganya, aku tidak berani mencium lehernya karena masih ada sisa balsem, bukan terangsang yang kudapat malah kepedasan nanti.

Aku tidak berani memegang rudalku, karena tangan bekas memijat tadi terkena balsem bekas kerokan yang ada di punggung istriku. Sehingga dengan penuh perjuangan aku mencoba memasukkan rudalku ke dalam vagina istriku tanpa memegangnya, seperti max biagi habis finish terus lepas tangan, tusukan pertama gagal akibatnya terpeleset dan menggesek klitorisnya, istriku coba mengangkang lebih lebar agar lebih leluasa memasukkannya, kutusuk lagi, dan terpeleset dan..
“Pa, pelesetin terus aja enak kok,” katanya ngeledek. Dalam hati iya enak di kamu, nggak enak di aku. Kucoba yang ke tiga, akhirnya masuk, tetapi belum masuk semua hanya bagian kepalanya saja karena agak sempit. Nggak apa-apa deh yang penting sudah masuk sasaran tembak. Ya sudah, aku coba tarik-tekan dengan “space” yang kecil tadi, dengan kesabaran akhirnya semakin basah dan..
“Mph, eh,” cuman itu yang keluar dari mulut istriku, dengan raut muka seperti orang tidur.
Lama kelamaan vaginanya semakin basah sepertinya mempersilakan rudalku masuk lebih dalam. Kutekan lebih dalam dan masuk semua, baru tarik-tekan, empat kali, aku sudah keluar.
“Ma, maaf yah, soalnya sudah lama nggak main jadi keluarnya cepet,” kataku. Dia tidak menjawab tetapi mengeluarkan lenguhan nafas panjang, artinya dia nggak puas. Yah siapa sih tahan “palkon” (kepala kontol, red) belum masuk semua, tapi digesek-gesek sekitar vagina soalnya belum dipersilakan masuk. Coba deh masturbasi, tapi yang diurut hanya “palkon”nya saja, kalau nggak cepet keluar (ya lecet). Udah gitu aku khan udah lama nggak main jadi yah cepet keluar. Aku agak heran sampe ada yang main bisa lama saat merawanin anak orang. Biasanya untuk pertama kali yang cewek akan merasakan lebih banyak sakitnya ketimbang enaknya, sementara cowok lebih cepat keluar karena “palkon”nya akan terjepit dinding vagina karena si cewek menahan rasa sakit. Yah kecuali kalau cowoknya memakai obat atau si Cowo sudah pengalaman alias nggak perjaka.
Setelah itu aku berdiri dengan ke dua lututku. Tampak cairan putih alias spermaku meleleh dari vagina istriku. Ada sebagian orang yang mengatakan itu cairan yang menjijikan, didorong bagaimanapun caranya tetap akan keluar dari kedudukannya (si istri pingin hamil jadi berusaha spermanya nggak keluar) – beda dengan pejabat di negara berkembang udah menjijikan didorong pakai apapun tetap nggak mau turun juga.
Kubersihkan dengan CD hitamnya, dan aku ke belakang untuk mencuci “rudalku”. Setelah selesai aku kembali ke kamar tidur. Posisi tidur istriku belum berubah, masih terlentang dengan kaki terbuka lebar dan mata terpejam (yang jelas bukan tidur kemungkinan kesel, ya).
“Ma, nambah yah?” kataku. Dia diam aja. Aku duduk di depan vaginanya. Tampak vagina labia minoranya sudah menutup, tetapi klitorisnya masih tersembul keluar. Kubuka labia minoranya yang tertutup bulu hitam keriting, saat akan kujilat..
“Jangan, Pa, kotor..” kata istriku, sambil bangun terus memegang bagian belakang kepalaku dengan kedua tangannya serta menghisap bibir bawahku, menghisap dengan sangat kuatnya dan mencari-cari lidahku. Setelah dapat, dihisapnya lidahku, terlepas, dimainkannya lidahnya di gusiku. Saat dia melakukan semua gerakan kulihat matanya terpejam, saat mendapatkan lidahku, matanya setengah terbuka yang tampak bagian putihnya saja.

Dijilati leherku, terus ke dua putingku, hingga “rudal”ku bergerak tetapi belum mengeras hanya “waspada satu”. Selanjutnya dia menjilati lubang “rudal”ku. Poupss, rasanya mak.. Dia suka meng-oral-ku, tetapi kalau di-oral nggak mau, alasannya kotor bekas darah menstruasi, keputihan, bau, pokoknya nggak boleh, yah sudah aku nurut aja, toh aku yang diuntungkan.
Dia memasukkan hanya sebatas kepala “rudal” ke dalam mulutnya, dihisap, dilepas (hingga bunyi “plop”), dijilati kepalanya, dihisap lagi, begitu keras menjadi “siaga satu”, dimasukkan semuanya ke dalam mulut, dilakukan berulang-ulang. Rasanya “rudal”ku sudah keras, tetapi ada sedikit rasa linu (mungkin setelah keluar yang pertama tadi dan kencing saat dibersihkan sekarang dipaksa tegang lagi), sehingga rasa linu ini mengalahkan rasa nikmat untuk segera “keluar”.

Tahu kalau sudah “siaga satu”, dia segera mengangkangi rudalku dan memasukkan ke vaginanya, bergerak naik turun dengan sangat cepat.
“Oh.. oh.. ohh..” suaranya keras bener, membuat rasa linuku hilang berubah menjadi nikmat. Kucoba menutup mulutnya agar tidak didengar tetangga, malah jariku dijilati, auw, enak bener. Nggak lama digigit, langsung segera kutarik tanganku (ganas bener, anjing kalah?), Eh, malah lebih keras lagi suaranya. Bodo ah, biarin tetangga denger, kadang seperti orang kepedesan (sshuah – shuah, padahal nggak ada cabenya), kadang seperti orang merintih kesakitan.
Sudah capek dengan gerakan cepat naik-turun. Dia terduduk tetapi tetap bergerak memutar secara perlahan, kemudian dia roboh, telungkup memelukku, dan menghisap bibirku. Terasa “rudalku” seperti ada yang menekan, saat dia melakukan penekanan dengan rongga vagina pada “rudalku”, dia mengangkat sedikit pantatnya dan menjatuhkannya kembali, akhirnya dia nggak bergerak.
“Capek aku, Pa,” katanya dengan napas ngos-ngosan. Kubalik badannya tanpa melepas “rudal”ku. Tampak hidungnya kembang-kempis, capek benar kayaknya. Kucabut “rudalku”. Tampak banyak lendir berwarna putih menyelimuti “rudal”ku, dan di sekitar labia minoranya ini sih bukan becek tapi banjir, tetapi aku tetap senang (wanita tidak mengeluarkan atau menyemprot cairan sperma seperti pria, hanya lendir bening, akibat dikocok terus menerus maka berubah manjadi putih susu).
Kalau ada yang bilang “jangan sama orang Sunda”, “jangan sama orang Cina”, “jangan sama orang berkulit putih”, banjir, becek, menurutku “SALAH”, banjir dan becek itu menandakan wanita itu terangsang “BUKAN” dari warna kulit, sehingga memudahkan penetrasi. Sebaliknya bila kering akan sulit sekali penetrasi, kalau dipaksakan akan berakibat iritasi selain itu akan menyebabkan ejakulasi premature karena sentuhan yang diterima sangat luar biasa. Mau tahu buktinya mana ada pemerkosa lama, paling nggak lebih dari dua menit (aku bukan pemerkosa lho) yah kalau dia kelamaan keburu ketangkep, tul nggak? Kalau iritasi perihnya minta ampun. Ada cerita yang mengatakan pelacurnya nggak tahu kalau tamunya sudah keluar – itu bisa terjadi bila: pelacurnya acting, pelacurnya lagi ngelamun atau pelacurnya masih perawan, lha wong tiap hari ditusukin pasti dia tahu. Mungkin lebih tahu dari tamunya, soalnya dia berusaha agar secepatnya ejakulasi, khan prestasi kerjanya di situ.

Aku bersihkan “rudal”ku dan labia minoranya dengan GT MAN-ku. Selanjutnya kumasukkan kembali, kuangkat kakinya ke pundakku. Gerakanku pelan (kan habis di bersihkan jadi agak berkurang lendirnya) begitu mulai basah kutambah kecepatannya, hingga tak lama akan keluar..
“Mas jangan dikeluarin dulu, Papa berdiri deh,” kata istriku. Segera aku bangun dan dihisapnya. Saat akan keluar, disemprotkan spermaku ke wajahnya, dan dioleskan “rudalku” ke wajahnya. “Kamu kok aneh sih, Ma?” tanyaku. “Nggak. Kata teman sperma itu obat manjur untuk jerawat. Selain itu juga mengencangkan wajah!” katanya. “Kata siapa?” katanya. “Mbak Maryanah,” jawabnya. Hah, Mbak Maryanah itu tetangga sampingku, orangnya kalem, sopan, guru TK. Nggak nyangka. Pantes kok nggak pernah jerawatan dan memang sih wajahnya putih kenceng. Tapi masak sih orang seperti itu mau melakukan kayak gitu, yah dalamnya laut siapa tahu? “Pasti ngelamunin ya?” tanyanya, sambil mencubit pantatku. “Tahu aja, habis nggak nyangka sih.” “Sebetulnya dia keberatan ngasih tahunya, tapi aku desak terus menerus untuk memberikan resep bebas jerawat dan wajah kencengnya. Kata dia sih cuman aku yang tahu, jangan diberitahukan ke siapa-siapa, malu katanya,” jawab istriku.
Setelah kita berdua membersihkan organ vital, kita menuju peraduan. “Ma, kamu itu jerawatan bukan pakai sperma obatnya, tetapi jangan stres!” kataku sambil tidur miring menghadap ke arahnya. “Papa ini gimana sih, namanya orang hidup khan pasti punya masalah, nah khan mesti dipikir!” jawabnya nggak kalah sengit sambil menekan jidatku. “Tetapi menurutku jerawatmu itu karena nafsumu yang nggak tersalurkan, jadi timbul di wajahmu terus sering marah-marah,” kataku. “Itu maunya Papa agar bisa sering main, tapi gimana yah, aku khan nggak bisa nafsu kalau aku ada masalah sama kamu.” “Jadi kamu selingkuh dengan orang lain, memangnya ada masalah apa denganku.” “Selingkuh, nggak lha yau, nggak selingkuh aja sudah pusing apa lagi selingkuh,” jawabnya tegas. Wah kaget juga hampir ngantukku hilang. Biasa, habis main biasanya ngantuk bawaannya.
“Terus masalahmu apa sama aku?” tanyaku. “Pa, aku bingung ngurus keuangan rumah tangga, semua keperluan kamar mandi naik, listrik naik, kontrakan naik.

Cuma susuku sama spermamu saja yang turun,” katanya sambil megang susunya sendiri serta “rudalku”. “Yah larinya kok kesitu lagi,” kataku. “Lho memang kenyataan begitu, kalau sudah gitu khan pusing, gimana mau main, coba.” “Kok hari ini kamu tumben mau, biasanya marah-marah melulu?” tanyaku. “Tadi aku periksa ke tempatmu kerja, kata Lili (kasirku) banyak pengunjung, jadi pasti kamu bawa uang banyak,” jawabnya sambil senyum. “Oohh,” kataku sambil senyum juga. “Jadi kalau gitu masuk angin dan kerokannya hanya akting. Pantes nggak merah? agar mancing aku untuk bersetubuh, memuaskan kamu, dan jerawatmu?” tanyaku kesal, tapi ngecret juga sih. “Nggak juga Pa, memang tadi badanku terasa nggak enak, terus aku di jalan lihat orang di bajaj mesra banget, bayangin di bajaj aja mesra, kalau di mobil mewah sih wajar, jadi ingat kamu. Tapi yang lebih penting sih kamu bawa uang lebih,” katanya. “Lho kok masalah uang lagi?” tanyaku. “Iya memang itu sumber masalahnya,” jawabnya. “Katanya dulu waktu pacaran sudah siap hidup susah, yang penting saling mencinta,” rayuku. “Makan tuh cinta,” katanya. Aku tersenyum. “Jadi ada uang abang sayang, nggak ada uang abang ditendang?” kataku. “Ember,” jawabnya sambil senyum. “Tahu gini mendingan beli sate dari pada pelihara kambing,” kataku meledek. “Sapa suruh luh kawin,” katanya sambil menaikkan dagunya yang lancip, sambil merubah posisi tidur dengan wajah membelakangiku. “Dasar perempuan, tugasnya ngabisin uang suami,” kataku, yang masih tetap tidur miring menghadap ke istriku. “Kodrat” jawabnya singkat.
Yah, itulah sebagian kecil kehidupan rumah tangga yang selalu banyak masalah silih berganti, padahal sebelum nikah, aku sudah membaca segala macam buku. Kalau ujian mungkin dapat nilai “A”. Ternyata setelah nikah, segala teori yang di buku hanya sebagian kecil yang terjadi.

September 6, 2024 Pertama Kalinya Aku Menikmati Sex Dengan Mbak Yuyun

Pertama Kalinya Aku Menikmati Sex Dengan Mbak Yuyun

Kejadian ini terjadi ketika aku lulus dari SMU. Perkenalkan, nama aku Aris. Kejadian ini tak akan terlupakan karena ini adalah pertama kalinya aku merasakan nikmatnya sex yg sebenarnya.

Pada waktu itu aku making love dgn Mbak Yuyun yg umurnya kira-kira 10 tahun lebih tua dariku. Parasnya manis dan kulitnya putih.
Mbak Yuyun adalah anak tetangga nenekku di desa daerah Cilacap yg ikut dgn keluargaku di Kota Semarang sejak SMP. Waktu SD ia sekolah di desa, setelah itu ia diajak keluargaku di kota untuk melanjutkan sekolah sekaligus membantu keluargaku terutama merawat aku. Kita sangat akrab bahkan dia juga sering ngeloni aku. Mbak Yuyun ikut dgn keluargaku sampai dia lulus SMA atau aku kelas 2 SD dan dia kembali ke desa. Namanya juga anak kecil, jadi aku belum ada perasaan apa-apa terhadapnya.
Setelah itu kita jarang bertemu, paling-paling hanya setahun satu atau dua kali. Tiga tahun kemudian ia menikah dan waktu aku kelas dua SMP aku harus pindah luar Jawa ke Kota Makassar mengikuti ayah yg dipindah tugas.Setelah itu kita tak pernah bertemu lagi. Kita hanya berhubungan lewat surat dan kabarnya ia sekarang telah memiliki seorang anak. pada waktu aku lulus SMA aku pulang ke rumah nenek dan berniat mencari tempat kuliah di Kota Yogya.
Sesampai di rumah nenek aku tahu bahwa Mbak Yuyun telah punya rumah sendiri dan tinggal
bersama suaminya di desa seberang. Setelah dua hari di rumah nenek aku berniat mengunjungi rumah Mbak Yuyun. Setelah diberi tahu arah rumahnya (sekitar 1 km) aku pergi kira-kira jam tiga sore dan berniat menginap. Dari sinilah pertama kalinya aku menikmati sex dengan Mbak Yuyun ini berawal.

Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, akhirnya aku sampai di rumah yg ciri-cirinya sama dgn yg dikatakan nenek. Sejenak kuamati kelihatannya sepi, kemudian aku coba mengetok pintu rumahnya. “Ya sebentar..” terdengar sahutan wanita dari dalam.
Tak lama kemudian keluar seorang wanita dan aku masih kenal paras itu walau lama tak bertemu. Mbak Yuyun terlihat manis dan kulitnya masih putih seperti dulu. Dia sepertinya tak mengenaliku.
“Cari siapa ya? tanya Mbak Yuyun”.
“Anda Mbak Yuyun kan?” aku balik bertanya.
“Iya benar, anda siapa ya dan ada keperluan apa?” Mbak Yuyun kembali bertanya dgn raut muka yg berusaha mengingat-ingat.
“Masih inget sama aku nggak Mbak? aku Aris Mbak, masak lupa sama aku”, kataku.
“Kamu Aris anaknya Pak Tono?” kata Mbak Yuyun setengah nggak percaya.
“Ya ampun Ris, aqu nggak ngenalin kamu lagi. Berapa tahun coba kita nggak bertemu.” Kata Mbak Yuyun sambil memeluk badanku dan menciumi parasku.
aku kaget setengah mati, baru kali ini aku diciumi seorang wanita. aku rasakan payudaranya menekan dadaku. Ada perasaan lain muncul waktu itu.
“Kamu kapan datangnya, dgn siapa” kata Mbak Yuyun sambil melepas pelukannya.
“Saya datang dua hari yang lalu, saya hanya sendiri.” kataku.
“Eh iya ayo masuk, sampai lupa, ayo duduk.” Katanya sambil menggeret tanganku.
Kami kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol sana-sini, maklum lama nggak ketemu. Mbak Yuyun duduk berhimpitan dgnku. Tentu saja payudaranya menempel di lenganku. aku sedikit terangsang karena hal ini, tapi aku coba menghilangkan pikiran ini karena Mbak Yuyun telah aku anggap sebagai keluarga sendiri.
“Eh iya sampai lupa buatin kamu minum, kamu pasti haus, sebentar ya..” kata Mbak Yuyun ditengah pembicaraan.
Tak lama kemudian ia datang, “Ayo ini diminum”, kata Mbak Yuyun.
“Kok sepi, pada kemana Mbak?” Tanyaku.
“Oh kebetulan Mas Hermanto (suaminya Mbak Yuyun) pergi kerumah orang tuanya, ada keperluan, rencananya besok pulangnya dengan si Dani (anaknya Mbak Yuyun) ikut” jawab Mbak Yuyun.
“Belum punya Adik Mbak dan Mbak Yuyun kok nggak ikut?” tanyaku lagi.
“Belum Ris padahal udah pengen lho.. tapi memang dapatnya lama mungkin ya, kayak si Dani dulu. Mbak Yuyun ngurusi rumah jadi nggak bisa ikut” katanya.
“Eh kamu nginep disini kan? Mbak masih kangen lho sama kamu” katanya lagi.
“Iya Mbak, tadi telah pamit kok” kataku.
“Kamu mandi dulu sana, ntar keburu dingin” kata Mbak Yuyun.
Kemudian aku pergi mandi di belakang rumah dan setelah selesai aku lihat-lihat kolam ikan dibelakang rumah dan kulihat Mbak Yuyun gantian mandi. Kurang lebih lima belas menit, Mbak Yuyun selesai mandi dan aku terkejut karena ia hanya mengenakan handuk yg dililitkan di badannya. aku pastikan ia tak memakai BH dan mungkin CD juga karena tak aku lihat tali BH menggantung di pundaknya.
“Sayang Ris ikannya masih kecil, belum bisa buat lauk” kata Mbak Yuyun sambil melangkah ke arahku kemudian kita ngobrol sebentar tentang kolam ikannya.
Kulihat payudaranya sedikit menyembul dari balutan handuknya dan ditambah bau harum
badannya membuatku terangsang. Tak lama kemudian ia pamit mau ganti baju. Mataqu tak lepas memperhatikan badan Mbak Yuyun dari belakang. Kulitnya benar-benar putih. Sepasang pahanya putih mulus terlihat jelas bikin kemaluanku berdiri. Ingin rasanya aku lepas handuknya kemudian meremas, menjilat payudaranya, dan menusuk-nusuk selangkangannya dgn kemaluanku seperti dalam bokep yg sering aku lihat. Sejenak aku berkhayal kemudian kucoba menghilangkan khayalan itu.
Haripun berganti petang, udara dingin pegunungan mulai terasa. Setelah makan malam kita nonton tv sambil ngobrol banyak hal, sampai tak terasa telah pukul sembilan.
“Ris nanti kamu tidur sama aku ya, Mbak kangen lho ngeloni kamu” kata Mbak Yuyun.
“Apa Mbak?” Kataku terkejut.
“Iya.. Kamu nanti tidur sama aku saja. Inget nggak dulu waktu kecil aku sering ngeloni kamu”
katanya.
“Iya Mbak aku inget” jawabku.
“Nah ayo tidur, Mbak udah ngantuk nih” kata Mbak Yuyun sambil beranjak melangkah ke kamar tidur dan aku mengikutinya dari belakang, pikiranku berangan-angan ngeres. Sampai dikamar tidur aku masih ragu untuk naik ke ranjang.
“Ayo jadi tidur nggak?” tanya Mbak Yuyun.
Kemudian aku naik dan tiduran disampingnya. aku deg-degan. Kita masih ngobrol sampai jam 10 malam.
“Tidur ya.. Mbak udah ngantuk banget” kata Mbak Yuyun.
“Iya Mbak” kataku walaupun sebenarnya aku belum ngantuk karena pikiranku semakin ngeres saja terbayang-bayang pemandangan menggairahkan sore tadi, apalagi kini Mbak Yuyun terbaring disampingku, kurasakan kemaluanku mengeras.

aku melirik ke arah Mbak Yuyun dan kulihat ia telah tertidur lelap. Dadaku semakin berdebar kencang tak tahu apa yg harus aku lakukan. Ingin aku onani karena telah tak tahan, ingin juga aku memeluk Mbak Yuyun dan menikmati badannya, tapi itu tak mungkin pikirku.

Aku berusaha menghilangkan pikiran kotor itu, tapi tetap tak bisa sampai jam 11 malam. Kemudian aku putus kan untuk melihat paha Mbak Yuyun sambil aku onani karena bingung dan udah tak tahan lagi.Dgn dada berdebar-debar aku buka selimut yg menutupi kakinya, kemudian dgn pelan-pelan aku singkapkan roknya hingga celana dalam hitamnya kelihatan, dan terlihatlah sepasang paha putih mulus didepanku begitu dekat dan jelas.
Semula aku hanya ingin melihatnya saja sambil berkhayal dan melakukan onani, tetapi aku penasaran ingin merasakan bagaimana meraba paha seorang wanita tapi aku takut kalau dia terbangun. Kurasakan kemaluanku melonjak-lonjak seakan ingin melihat apa yg membuatnya terbangun. Karena telah dikuasai birahi akhirnya aku nekad, kapan lagi, kalau tak sekarang pikirku.
Dengan hati-hati aku mulai meraba paha Mbak Yuyun dari atas lutut kemudian keatas, terasa halus sekali dan kulakukan beberapa kali. Karena semakin penasaran aku coba meraba celana dalamnya, tetapi tiba-tiba Mbak Yuyun terbangun.
“Aris! Apa yg kamu lakukan!” kata Mbak Yuyun dgn terkejut.
Ia kemudian menutupi pahanya dgn rok dan selimutnya kemudian duduk sambil menampar pipiku. Terasa sakit sekali.
“Kamu kok berani berbuat kurang ajar pada Mbak Yuyun. Siapa yg ngajari kamu?” kata Mbak Yuyun dgn marah.
aku hanya bisa diam dan menunduk takut. Kemaluanku yg tadinya begitu perkasa aku rasakan langsung mengecil seakan hilang.
“Tak kusangka kamu bisa melakukan hal itu padaku. Awas nanti kulaporkan kamu ke nenek dan bapakmu” kata Mbak Yuyun.
“Ja.. jangan Mbak” kataku ketakutan.“
Mbak Yuyun kan juga salah” kataku lagi membela diri.
“Apa maksudmu?” tanya Mbak Yuyun.
“Mbak Yuyun masih menganggap saya anak kecil, padahal saya kan udah besar Mbak, telah lebih dari 17 tahun. Tapi Mbak Yuyun masih memperlakukan aku seperti waktu aku masih kecil, pakai ngeloni aku segala. Trus tadi sore juga, habis mandi Mbak Yuyun hanya memakai handuk saja didepanku. Saya kan lelaki normal Mbak” jelasku.
Kulihat Mbak Yuyun hanya diam saja, kemudian aku berniat keluar dari kamar.
“Mbak.. permisi, biar saya tidur saja di kamar sebelah” kataku sambil turun dari ranjang dan berjalan
keluar.
Mbak Yuyun hanya diam saja. Sampai di kamar sebelah aku rebahkan badanku dan mengutuki diriku
yg berbuat bodoh dan membayangkan apa yg akan terjadi besok. Kurang lebih 15 menit kemudian
kudengar pintu kamarku diketuk.
“Ris.. kamu masih bangun? Mbak boleh masuk nggak?” Terdengar suara Mbak Yuyun dari luar.
“Ya Mbak, silakan” kataku sambil berpikir mau apa dia.
Mbak Yuyun masuk kamarku kemudian kita duduk di tepi ranjang. aku lihat parasnya telah tak marah lagi.
“Ris.. Maafkan Mbak ya telah nampar kamu” katanya.
“Seharusnya saya yg minta maaf telah kurang ajar sama Mbak Yuyun” kataku.
“Nggak Ris, kamu nggak salah, setelah Mbak pikir, apa yg kamu katakan tadi benar. Karena lama nggak bertemu, Mbak masih saja menganggap kamu seorang anak kecil seperti dulu aku ngasuh kamu. Mbak tak menyadari bahwa kamu sekarang telah besar” kata Mbak Yuyun.Aku hanya diam dalam hatiku merasa lega Mbak Yuyun tak marah lagi.
“Ris, kamu bener mau sama Mbak?” tanya Mbak Yuyun.
“Maksud Mbak?” kataku terkejut sambil memandangi parasnya yg terlihat bagitu manis.
“Iya.. Mbak kan udah nggak muda lagi, masa’ sih kamu masih tertarik sama aku?” katanya lagi.
aku hanya diam, takut salah ngomong dan membuatnya marah lagi.
“Maksud Mbak.., kalau kamu bener mau sama Mbak, aqu rela kok melakukannya dgn kamu”

katanya lagi.

Mendengar hal itu aqu tambah terkejut, seakan nggak percaya.
“Apa Mbak” kataku terkejut.
“Bukan apa-apa Ris, kamu jangan berpikiran enggak-enggak sama Mbak. Ini hanya untuk meyakinkan Mbak bahwa kamu telah dewasa dan lain kali tak menganggap kamu anak kecil lagi” kata Mbak Yuyun
Lagi-lagi aku hanya diam, seakan nggak percaya. Ingin aku mengatakan iya, tapi takut dan malu.
Mau menolak tapi aku pikir kapan lagi kesempatan seperti ini yg selama ini hanya bisa aku bayangkan.
“Gimana Ris? Tapi sekali aja ya.. dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berdua” kata Mbak Yuyun.
aku hanya mengangguk kecil tanda bahwa aku mau.
“Kamu pasti belum pernah kan?” kata Mbak Yuyun.
“Belum Mbak, tapi pernah lihat di film” kataku.
“Kalau begitu aku nggak perlu ngajari kamu lagi” kata Mbak Yuyun.
Mbak Yuyun kemudian mencopot bajunya dan terlihatlah payudaranya yg putih mulus terbungkus BH hitam, aku diam sambil memperhatikan, birahiku mulai naik. Kemudian Mbak Yuyun mencopot roknya dan paha mulus yg aku gerayangi tadi terlihat.
Tangannya diarahkan ke belakang pundak dan BH itupun terlepas, sepasang payudara berukuran sedang terlihat sangat indah dipadu dgn puting susunya yg mencuat kedepan. Mbak Yuyun kemudian mencopot CD hitamnya dan kini ia telah telanjang bulat. Kemaluanku terasa tegang karena baru pertama kali ini aku melihat wanita telanjang langsung dihadapanku. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya terlentang. aku
begitu takjub, bayangkan ada seorang wanita telanjang dan pasrah berbaring di ranjang tepat dihadapanku.
aku tertegun dan ragu untuk melaqukannya.
“Ayo Ris.. apa yg kamu tunggu, Mbak udak siap kok, jangan takut, nanti Mbak bantu” kata Mbak Yuyun.
Segera aqu melepaskan semua pakaianku karena sebenarnya aku telah tak tahan lagi. Kulihat Mbak Yuyun memperhatikan kemaluanku yg berdenyut-denyut, aku kemudian naik ke atas ranjang.
Karena telah tak sabar, langsung saja aku memulainya. Langsung saja aku kecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, aku pikir mungkin suaminya tak pernah melakukannya, tapi tak aku hiraukan, terus aku lumat bibirnya. Sementara itu kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, kemudian aku elus-elus dan remas payudaranya sambil sesekali memelintir puting susunya.

“Ooh.. Ris.. apa yg kau lakukan.. ergh.. sshh..” Mbak Yuyun mulai mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali kurasakan ia menelan ludahnya yg mulai mengental. Setelah puas dgn bibirnya, kini mulutku kuarahkan ke bawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum payudara.
Sejenak aku pandangi payudara yg kini tepat berada di hadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah lelaki. Langsung aku jilati mulai dari bawah kemudian ke arah putingnya, sedangkan payudara kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.
“Emmh oh aarghh” Mbak Yuyun mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.
Kulirik parasnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jariku kuarahkan ke selangkangannya. Disana kurasakan ada rumput yg tumbuh di sekeliling kemaluannya. Jari-jariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu telah sangat basah, tanda bahwa ia telah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari klentitnya. Kugerakkan jari-jariku keluar masuk di dalam lubang yg semakin licin tersebut.
“Aargghh.. eemhh.. Ris kam.. mu ngapainn oohh..” kata Mbak Yuyun meracau tak karuan, kakinya
menjejak-jejak sprei dan badannya mengeliat-geliat. Tak kupedulikan kata-katanya. Badan Mbak
Yuyun semakin mengelinjang dikuasai birahi birahi. Kuarasakan badan Mbak Yuyun menegang dan
kulihat parasnya memerah bercucuran keringat, aku pikir dia telah mau orgasme. Kupercepat gerakan
jariku didalam kemaluannya.
“Ohh.. arghh.. oohh..” kata Mbak Yuyun dgn nafas tersengal-sengal dan tiba-tiba..
“Oohh aahh..” Mbak Yuyun mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya bergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi kemaluannya.
“Ohh.. ohh.. emhh..” Mbak Yuyun masih mendesah-desah meresapi kenikmatan yg baru diraihnya.
“Ris apa yg kamu lakukan kok Mbak bisa kayak gini” tanya Mbak Yuyun.
“Kenapa emangnya Mbak? Kataku.
“Baru kali ini aku merasakan nikmat seperti ini, luar biasa” kata Mbak Yuyun.
Ia kemudian bercerita bahwa selama bersama suaminya ia tak pernah mendapatkan kepuasan,
karena mereka hanya sebentar saja bercumbu dan dalam bercinta suaminya cepat selesai.
“Mbak sekarang giliranku” kubisikkan ditelinganya, Mbak Yuyun mengangguk kecil.
aku mulai mencumbunya lagi. Kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yg kulumat, kemudian payudaranya yg aku nikmati, tak lupa jari-jariku kupermainkan di dalam kemaluannya.
“Aarghh.. emhh.. ooh..” terdengar Mbak Yuyun mulai mendesah-desah lagi tanda ia telah
terangsang.
Setelah aku rasa cukup, aku ingin segera merasakan bagaimana rasanya menusukkan kemaluanku ke dalam kemaluannya. aku mensejajarkan badanku diatas badannya dan Mbak Yuyun tahu, ia kemudian mengangkangkan pahanya dan kuarahkan kemaluanku ke kemaluannya. Setelah sampai didepannya aku ragu untuk melakukannya.
“Ayo Ris jangan takut, masukin aja” kata Mbak Yuyun.
Perlahan-lahan aku masukkan kemaluanku sambil kunikmati, bless terasa nikmat saat itu.
Kemaluanku mudah saja memasuki kemaluannya karena telah sangat basah dan licin. Kini mulai kugerakkan pinggulku naik turun perlahan-lahan. Ohh nikmatnya.
“Lebih cepat Ris arghh.. emhh” kata Mbak Yuyun terputus-putus dgn mata merem-melek.
aku percepat gerakanku dan terdengar suara berkecipak dari kemaluannya.
“Iya.. begitu.. aahh.. ter.. rrus.. arghh..” Mbak Yuyun berkata tak karuan.
Keringat kita bercucuran deras sekali. Kulihat parasnya semakin memerah.
“Ris, Mbak mau.. enak lagi.. oohh.. ahh.. aahh.. ahh..” kata Mbak Yuyun sambil mendesah panjang, badannya bergetar dan kurasakan kemaluannya dipenuhi cairan hangat menyiram kemaluanku.
Remasan dinding kemaluannya begitu kuat, akupun percepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai orgasme aahh.., kubiarkan air maniku keluar di dalam kemaluannya. Kurasakan nikmat yg luar biasa, berkali-kali lebih nikmat dibandingkan ketika aku onani. aku peluk badannya erat-erat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yg sesungguhnya yg baru aku rasakan
pertama kali dalam hidupku. Setelah cukup kumenikmatinya aku cabut kemaluanku dan
merebahkan badanku disampingnya.
“Mbak Yuyun, terima kasih ya..” kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.
“Mbak juga Ris.. baru kali ini Mbak merasakan kepuasan seperti ini, kamu hebat” kata Mbak Yuyun

kemudian mengecup bibirku.

Kami berdua kemudian tidur karena kecapaian.
Kira-kira jam 3 pagi aku terbangun dan merasa haus sekali, aku ingin mencari minum. Ketika aku baru mau turun dari ranjang, Mbak Yuyun juga terbangun.
“Kamu mau kemana Ris..” katanya.
“aku mau cari minum, aku haus. Mbak Yuyun mau?” Kataku.
Ia hanya mengangguk kecil. aku ambil selimut untuk menutupi anuku kemudian aku ke dapur dan kuambil sebotol air putih.
“Ini Mbak minumnya” kataku sambil kusodorkan segelas air putih.
aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi Mbak Yuyun yg badannya ditutupi selimut meminum air yg kuberikan.
“Ada apa Ris, kok kamu memandangi Mbak” katanya.
“Ah nggak Papa. Mbak cantik” kataku sedikit merayu.
“Ah kamu Ris, bisa aja, Mbak kan udah tua Ris” kata Mbak Yuyun.
“Bener kok, Mbak malah makin cantik sekarang” kataku sambil kukecup bibirnya.
“Ris.. boleh nggak Mbak minta sesuatu” kata Mbak Yuyun.
“Minta apa Mbak?” tanyaku penasaran.
“Mau nggak kamu kalau..” kata Mbak Yuyun terhenti.
“Kalau apa Mbak?” kataqu penuh tanda tanya.
“Kalau.. kalau kamu emm.. melakukannya lagi” kata Mbak Yuyun dgn malu-malu sambil menunduk, terlihat pipinya memerah.
“Lho.. katanya tadi, sekali aja ya Ris.., tapi sekarang kok?” kataku menggodanya.
“Ah kamu, kan tadi Mbak nggak ngira bakal kayak gini” katanya manja sambil mencubit lenganku.
“Dgn senang hati aku akan melayani Mbak Yuyun” kataku.
Sebenarnya aku baru mau mengajaknya lagi, e.. malah dia duluan. Ternyata Mbak Yuyun juga
ketagihan. Memang benar jika seorang wanita pernah merasa puas, dia sendiri yg akan meminta.
Kita mulai bercumbu lagi, kali ini aku ingin menikmati dgn dgn sepuas hatiku. Ingin kunikmati setiap inci badannya, karena kini aku tahu Mbak Yuyun juga sangat ingin.
Seperti tadi, pertama-tama bibirnya yg kunikmati. Dgn penuh kelembutan aku melumat-lumat bibir Mbak Yuyun. aku makin berani, kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku. Mbak Yuyun pun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kita saling beradu, membuatku semakin betah saja berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku juga seperti tadi, beroperasi didadanya, kuremas-remas dadanya yg kenyal mulai dari lembah hingga ke puncaknya kemudian aku pelintir putingnya sehingga membuatnya menggeliat dan mengelinjang. Dua bukit kembar itupun semakin mengeras. Ia menggigit bibirku ketika kupelintir putingnya.
aku telah puas dgn bibirnya, kini mulutku mengulum dan melumat payudaranya. Dgn sigap lidahku menari-nari diatas bukitnya yg putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas payudaranya yg kanan. Kulihat mata Mbak Yuyun sangat redup, dan ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.

“Oohh.. arghh.. en.. ennak Ris.. emhh..” kata Mbak Yuyun mendesah-desah.
Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yg sedang meremas-remas dadanya dan menyeretnya ke selangkangannya. aku paham apa yg diinginkannya, rupanya ia ingin aku segera mempermainkan kemaluannya. Jari-jarikupun segera bergerilya di kemaluannya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klentitnya membuatnya semakin menggelinjang tak karuan.
“Ya.. terruss.. aarggghh.. emmhh.. enak.. oohh..” mulut Mbak Yuyun meracau.
Setiap kali Mbak Yuyun terasa mau mencapai orgasme, aku hentikan jariku menusuk kemaluannya,
setelah dia agak tenang, aku permainkan lagi kemaluannya, kulakukan beberapa kali.
“Emhh Ris.. ayo dong jangan begitu.. kau jahat oohh..” kata Mbak Yuyun memohon.
Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi aku tak akan membuatnya orgasme dgn jariku tetapi dgn mulutku, aku benar-benar ingin mencoba semua yg pernah aku lihat di bokep.
Segera aqu arahkan mulutku ke selangkangannya.
Kusibakkan rumput-rumpuat hitam yg disekeliling kemaluannya dan terlihatlah kemaluannya yg merah dan mengkilap basah, sungguh indah karena baru kali ini melihatnya. aku agak ragu untuk melakukannya, tetapi rasa penasaranku seperti apa sih rasanya menjilati kemaluan lebih besar. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.
“Ris.. apa yg kamu laqukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh..” kata Mbak Yuyun.
Ia terkejut aku menggunakan mulutku untuk menjilati kemaluannya, tapi aku tak pedulikan kata-katanya. Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan badannya menggeliat tak karuan dan tak lama kemudian badannya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkeram sprei dan mulutku di penuhi cairan yg keluar dari liang kewanitaannya.
“Ohmm.. emhh.. ennak Ris.. aahh..” kata Mbak Yuyun ketika ia orgasme.
Setelah Mbak Yuyun selesai menikmati kenikmatan yg diperolehnya, aqu kembali mencumbunya lagi karena aku juga ingin mencapai kepuasan.
“Gantian Mbak diatas ya sekarang” kataku.
“Gimana Ris aku nggak ngerti” kata Mbak Yuyun.
Daripada aku menjelaskan, langsung aku praktekkan. aku tidur telentang dan Mbak Yuyun aku suruh melangkah diatas kemaluanku, tampaknya ia mulai mengerti.
Tangannya memegang kemaluanku yg tegang hebat kemudian perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan kemaluannya diarahkan ke kemaluanku dan dalam sekejap bless kemaluanku hilang ditelan kemaluannya. Mbak Yuyun kemudian mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggangnya dan ketika sampai di kepala kemaluanku ia turunkan lagi. Mula-mula ia pelan-pelan tapi ia kini mulai mempercepat gerakannya.
Kulihat parasnya penuh dgn keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesis-desih. Sungguh sangat sexy paras wanita yg sedang dikuasai birahi dan sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan. Paras Mbak Yuyun terlihat sangat cantik seperti itu apalagi ditambah rambut sebahunya yg terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepalanya. Payudaranya pun terguncang-guncang, kemudian tanganku meremas-remasnya. Desahannya tambah keras ketika jari-jariku memelintir puting susunya.
“Oh emhh yaah.. ohh..” itulah kata-kata yg keluar dari mulut Mbak Yuyun.
“aku nggak kuat lagi Ris..” kata Mbak Yuyun sambil berhenti menggerakkan badannya, aku tahu ia segera mencapai orgasme.
Kurebahkan badannya dan aku segera memompa kemaluannya dan tak lama kemudian Mbak Yuyun
mencapai orgasme. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan Mbak Yuyun menikmati kenikmatan
yg diperolehnya. Setelah itu aku cabut kemaluanku dan kusuruh Mbak Yuyun menungging kemudian kumasukkan kemaluanku dari belakang. Mbak Yuyun terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yg aku lakukan kepadanya. Ia hanya bisa mendesah kenikmatan.
Setelah puas dgn posisi ini, aku suruh Mbak Yuyun rebahan lagi dan aku masukkan lagi kemaluanku dan memompa kemaluannya lagi karena aku telah ingin sekali mengakhirinya. Beberapa saat kemudian Mbak Yuyun ingin orgasme lagi, parasnya memerah, badannya menggelinjang kesana kemari.
“Ahh.. oh.. Mbak mau enak lagi Ris.. arrghh ahh..” kata Mbak Yuyun.
“Tunggu Mbak, ki kita bareng aqu juga hampir” kataqu.

“Mbak udah nggak tahan Ris.. ahh..” kata Mbak Yuyun sambil mendesah panjang, badannya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. Cairan hangat menyiram kemaluanku dan kurasakan dinding kemaluannya seakan-akan menyedot kemaluanku begitu kuat dan akhirnya akupun tak kuat dan croott.. akupun mencapai orgasme, oh my god nikmatnya luar biasa. Kemudian kita saling berpelukan erat menikmati kenikmatan yg baru saja kita raih. nekad, kapan lagi kalau tak sekarang pikirku tentang pertama kalinya aku menikmati sex dengan mbak Yuyun.

September 6, 2024 Cerita Hidupku Hingga Rela Jadi Pemuas Nafsu Lelaki

Cerita Hidupku Hingga Rela Jadi Pemuas Nafsu Lelaki

Rahma (nama samaran) gadis yang malang penuh dengan siksaan dan paksaan orang tua, yang akhirnya terjun kedunia hitam jadi bulan-bulanan nafsu sex para lelaki hidung belang. Rahmah tidak tahu kemana lagi mengadukan nasibnya, hanya di benaknya yang terpikir bagaimana bisa makan dan tidur. Ramah coba-coba ingin merubah nasib menjual diri di café-café. Kali ini Ramah menceritakan kisahnya pada penulis kisah cinta seks abg.
Di suatu malam yang sangat dingin, hujan grimis mengguyur tubuh penulis yang saat itu melintas di ruas Jalan Marelan tiba-tiba tidak di sengaja terlihat seorang gadis yang menggunakan gaun tembus pandang. Tubuhnya yang mungil dan cantik di terpa angin yang kencang. Sekali-sekali dirinya menggigil menahan dinginnya cuaca malam itu. Penulis yang masih terus penasaran melihat tindakan gadis tersebut. Terlintas juga dalam benak penulis “gadis cantik seperti itu lagi ngapain di muka cafe ? sementara di dalam café pengunjung sepi ” inilah yang terlintas dalam benak penulis.
Akhirnya penulis mencoba memberanikan diri menyapa gadis yang memakai baju warna putih tembus pandang. “Hai… lagi ngapain mbak ? dia mejawab dengan ramah ” ngga ada, cuman nongkrong doang.” Selanjutnya penulis mengenalkan diri pada gadis cantik tersebut mengaku namanya “Ramah”. Kurang lebih lima belas menit dimuka café, penulis mengajak gadis itu kedalam café. Sesampainya dalam café penulis menanyakan “Ramah minum apa ? ” dijawabnya terserah apa aja bang. Pelayan café juga tiba di muka kami, yang tidak kalah sexsi dan cantiknya dari Ramah memakai rok mini di atas lutut. Pelayan café sangat ramah juga genit, sekali-sekali tangannya suka menggoda dan merabah-rabah paha pengunjung.
Hujan grimis masih membasahi jalan raya, cuacapun semakin dingin, pengunjung café sudah kosong, tinggal kami berdua dan dua orang pelayan café, saat itu jam 1.30 Wibb. Ramah yang dari tadi hanya tertunduk sepertinya butuh perhatian, sekali-sekali Ramah menebarkan senyum yang menggoda.
Panjang lebar cerita hujanpun tidak kunjung berhenti, minuman Jus sudah habis, pemilik café menyiapkan barang-barangnya untuk tutup. Ramah mulai buka cerita dengan sifat yang agak malu-malu, sambil mengatakan “bang cafenya sudah mau tutup kita cek in yo? ” mendengar ajakan Ramah penulis terdiam sejenak. Ramah sepertinya tidak habis pikir, kenapa saya tidak mau menjawabnya. Ramah bertanya lagi ” bang ayo donk…! aku mau cerita lebih jauh lagi ama abang. Akhirnya aku kabulkan ajakan Ramah karena penuh dengan harapan akan mendapat cerita dari Ramah.

Akhirnya kami bergegas mau pergi, pemilik café langsung menegur “abang mau pulang ? aku jawab ia tante. Nanti sakit, inikan masih hujan…! Aku jawab “kayaknya hujannya ini lama tante”. Kami pulang tante ? di jawabnya ia…! Hati-hati di jalan licin bang. Aku jawab lagi ia tante.
Kami langsung menuju ke arah Simalingkar salah satu café and bar dekat Hotel Royal Sumatera. Sewaktu dalam perjalanan Ramah memeluk aku sangat kencang sepertinya takut kehilangan. Dalam perjalanan itu aku bertanya “Ramah kamu cantik, kok maunya kerjaan seperti ini ? ” Jawab Ramah “bang kalau masih ada kerjaan yang lebih hina dari sini akan kukerjakan walaupun itu pahit. Maksud Ramah gimana ? Ramah juga tidak mau kerja ini tapi orang tua Ramah sendiri menghancurkan masa depan Ramah.
Ramah tidak diterima dilingkungan keluarga lagi bang. Kalau kuceritakan kehidupan aku mungkin satu malam ini belum selesai. Tapi itupun kalau abang mendesakku nanti ada waktunya bang, Ramah akan ceritakan semuanya buat abang. Kamipun sampai dalam tujuan, aku kaget Ramah rupanya sudah dikenal dicafé tersebut. Sesampainya dicafe Ramah langsung didekati seorang laki-laki separuh baya yang notabenya om-om. Yang pasti aku tidak tahu persis apa cerita orang itu, hanya melihat Ramah dipeluk silaki-laki tadi dengan erat sambil mencium bibir Ramah di tengah-tengah lampu yang samar-samar.
Lanjut cerita gadis malang itu mulai bergegas mau pergi bersama silaki-laki yang kehausan nafsu dengan kondisi setengah mabuk. Sebelum pergi Ramah mendekatiku sambil mengatakan “bang Ramah mau pergi, pokonya besok aku hubungi abang, ok bang ?” aku mengiyakannya. Ramah langsung pergi menaiki mobil laki-laki itu untuk meninggalkan café. Akupun tidak tinggal diam untuk melacak mangsa tulisanku luput sampai disitu. Kupanggil pelayan café untuk membayar minuman. Tapi lain jawaban pelayan “bang minumannya sudah dibayar om tadi”. sebelum pergi meninggalkan café kuberikan tip sama pelayan café yang menemaniku untuk pamitan pulang.
Sampai dimuka café kuperhatikan mobil laki-laki itu kemana arahnya. Kuikuti dari belakang sampai mobil itu belok kesalah satu tempat penginapan yang berkelas di Simalingkar. Ya…kutinggalkan setelah dapat kepastian mereka menginap di hotel tersebut.

Sesampainya di simpang kampus Universitas Sumatera Utara (USU) aku berhenti di satu café kecil minum (TST) Teh Susu Telor. Selama satu jam aku di café itu, tiba-tiba ponselku bunyi dengan nada panggilan. Kuangkat poselku kulihat nomornya sepertinya tidak aku kenal. Aku sempat kaget tengah malam kegini siapa lagi yang menghubungiku terlintas dalam benak aku. Ponsel berbunyi terus kubiarkan sampai tiga kali panggilan baru kuangkat.
Sangat kaget mendengar sahutan dalam ponsel itu terdengar suara perempuan baru kukenal. Menjawab pertanyanku dengan manja sambil mengajak aku untuk menginap. Mendengar ajakan ini aku tidak percaya bahwa Ramah mau menginap bersamaku, sementara dianya masih bersama laki-laki barusan 2 jam kutinggalkan.
Ramah mengatakan kalau laki-laki tadi tidak bisa menginap sampai pagi, karena takut ketahuan sama istri dan anaknya. Aku tanya ini no HP siapa ? Ramah jawab om tadi kupinjam. Kutanya lagi berarti dia masih ada di ruang kamar ? Ramah menjawab ia, tapi dia udah mau pulang bang, abang datang ya ? aku tunggu Ramah tidak ada kawan, cepat donk bang. Desakan ini aku tidak mudah terpengaruh, karena takut ada kejadian yang tidak di inginkan nanti.
Kurang lebih 30 menit hari hampir pagi jam 4.23 Wib aku menghubungi Ramah melalui ponselnya. Ramah mengangkat dengan nada kesal “abang dimana kok ngga datang ?. cepat donk aku tidak ada kawan nih…!. Akhirnya aku beranikan diri balik lagi kehotel tersebut. Kuperhatikan mobil silaki-laki setengah baya yang tadi kutinggalkan di tempat parkir, memang tidak ada. Aku tanya langsung penjaga hotel, menjawabnya sudah pulang bang, abang itu tiap menginap di hotel ini sampai jam 3.00 Wib saja bang.
Abang mau ngapain ? kujawab dengan nada yang ramah dan sopan “aku barusan di hubungi cewek kawan bapak tadi. belum habis aku ngomong langsung penjaga itu potong Ramah bang ? katanya, ia bang. Ada di kamar 19, masuk aja bang, ngga apa-apa itu disini bisa kita jaga keamanan. Ok bang terimakasih ya bang, aku balik jawab. Langsung menuju kekamar no 19 kuketuk pintu kamar langsung di buka gadis seorang diri dengan mengenakan gaun tidur tembus pandang. Sepertinya Ramah tidak memakai BH alias pembalut buah dada, hanya segi tiga transparan yang nampak. Mulai dari ujung rambut kuperhatikan sampai ujung kuku serta seisi dalam kamar itu sebelum masuk. Dipersilakan masuk sambil menarik tanganku kedalam, “kok takut-takut masuk donk bang, ngga apa-apa kok”. Tangan Ramah yang nakal hampir membuat aku jadi tidak terkontrol.
Ramah memang cantik, putih dan seksi tidak di temui satupun bekas luka ditubuhnya. Tangannya yang mulus, lembutnya belain penuh dengan rasa sayang. aku tertunduk sejenak di pinggir tempat tidur sambil mengisap rokok Sampoerna, sementara Ramah tidur dipangkuan aku sambil memeluk pinggangku. Rokok sudah habis aku ambilkan tas kecilku yang di dalamnya ada alat perekam suara, langsung kuhidupkan. Ramah memang nakal, mau tahu aja apa isi dalam tas aku. Dia mengambilnya dan mengeluarkan tape rekamannya, memutar balik isi kaset. Baru Ramah tahu mulai dari perteman tadi dianya ngomong aku rekam. Saat itu juga gadis yang seksi, manja mencubitku dengan kesal. “abang kok tega kali merekam suara Ramah, untuk apa bang ?, abang wartawan ya ? jahat abang, aku ngga mau lagi cerita ama abang. Rupanya abang wartawan pantasan abang mulai dari tadi ngebut kali mendengar kisah Ramah kenapa terjun kedunia malam”.

Ramah yang dari tadi nakal, kontan langsung terdiam dan membelakangi aku. Sementara radio rekamannya dia pegang, aku minta dia ngga kasih. Bahkan dia mengatakan “abang puas ya menanyai Ramah hanya untuk kesenangan abang, malunya untuk ramah, berarti abang ikut donk menghancurkan Ramah dan mempermalukan Ramah di muka umum”.
Aku berusaha meyakininya dengan rasa sayang, kukecup pipinya yang menandakan aku bukan untuk mempermalukannya. Tapi aku ingin mengangkat kisahnya untuk membantu sakit hati Ramah yang selama ini dipendam seperti bara yang sangat merah dan panas. Ramah kupeluk, kusayang, akhirnya Ramah mengalah memberikan rekamannya.
Ramah yang marah akhirnya bisa kuredakan kemarahannya. Sampai setengah jam Ramah tidak mau cakap, Ramah diam dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur yang empuk tanpa menghiraukan aku. Aku termenung sejenak memikirkan cara apa lagi kubuat untuk mengajak Ramah menceritakan kisahnya. Dengan ide yang cemerlang terlintas di benakku untuk merayu dengan posisi yang sama. Akhirnya pertahanan Ramah kandas juga, Ramah membalikkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap aku. Dia senyum sambil memelukku sambil bertanya. Apasih gunanya abang muat di koran kisah Ramah ? abang jahat kali ya ? apa memang wartawan seperti itu ? sukanya memberitakan kesusahan orang lain. Aku jawab dengan nada yang ramah serta menebar senyuman yang memikat hati Ramah agar dianya dapat yakin dan percaya.
Ramah yang manja dan seksi akhirnya luluh tersenyum dengan iklas meceritakan kisah hidupnya sampai terjun ke dunia hitam untuk memuaskan nafsu lelaki hidung belang.
Ramah bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya pada penulis pada pukul 4.30 Wib sampai pukul 7.30 pagi. Berawal dari ceritanya gadis cantik ini sangat lugu takut dengan laki-laki, bahkan banyak sekali kawan-kawan Ramah yang mengejeknya kampungan. Tapi itu semua tidak pernah dia masukkan dalam hati hanya dianggapnya sebatas kuping saja. Waktu itu Ramah masih duduk di bangku SMA Swasta kelas dua di Medan. Dengan keluguan Ramah banyak sekali para lelaki satu lokalnya menaruh hati sama aku. lain orang lain tingkah lakunya beratus teori yang di buat cowok-cowok keren yang mendekatinya, yang namanya cinta belum juga ada di benaknya. Suatu waktu yang tidak di sangka Ramah ketemu dengan seorang pemuda yang baik hati namanya Roni (nama samarannya) berhasil memikat hati Ramah.

Penuh dengan rayuan dan kemesraan yang berjalan cukup lumayan sampai kejenjang pernikahan. Awal dari kesukaan Ramah pada Roni penuh dengan kejujuran dan kebaikannya di mata Ramah membuatnya tergila-gila dengan Roni. Saat yang di nanti-nantikan Roni mulai berani bercanda mengajak Ramah jalan-jalan ke salahsatu tepat perbelanjaan. Ajakan ini tidak disangka Roni kalau Ramah langsung menyetujuinya. Perjalananpun dilanjutkan kesebuah plaza dengan mesra Roni memberanikan diri memegang jari tangan Ramah yang lembut dan halus.
Sentuhan itu membuat hati Ramah berdebar-debar seperti baru terkena strum listrik. Padahal menurutnya banyak cowok yang jahil menyentuh tangannya, satupun belum pernah ia rasakan detak jantung seperti ini. Ramah membalas sentuhan tangan Roni sampai pada gemgaman yang gemas sama-sama dilakukan. Roni menarik tangan Ramah sambil mengecup kulit tangan Ramah yang halus penuh dengan arti dan kasih sayang yang tidak bisa dituturkan.
Sesampai di plaza Ramah mengajak Roni keliling-keling di dalam plaza. Aku mulai sudah lelah Roni juga kelelahan. Aku kasihan melihat Roni aku ajak dia pulang kerumahku, sesampainya kami dirumah ternyata kedua orang tuaku belum juga pulang kerja, yang ada adik aku baru pulang sekolah. Kami melanjutkan ngobrolnya di ruang tamu sambil nonton TV Film Sinetron yang di bintangi Rano Karno semasa menjalin cinta remaja di bangku sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wibb Roni dengan sopan berpamitan sama aku. Dengan kesopanan Roni juga membuat aku terus bertambah sayang dan cinta sama dia.
Tanpa kami sadari Tiga bulan sudah berjalan hubungan aku dengan Roni. Hubungan baik itu melalui telepon atau ketemu disekolah terus berlanjut. Roni sudah mengenalkan aku pada orang tuanya, dan aku sudah mengenalkan Roni pada kedua orang tuaku. Semula kedua orang tuaku tidak pernah mempersoalkan hubunganku dengan Roni sampai kami naik kelas tiga. Sewaktu hari libur kawan-kawan aku mengajak rekreasi dipantai kasan.
Roni menyetujuinya, aku senang karena Roni mau ikut bersama-sama. Kami berangkat tiga pasangan yang semuanya pacaran, ongkos kami kumpul-kumpul bersama. Tiba waktunya aku pun menunggu angkot berjanji jumpa di simpang Amplas. Pukul 9.30 wib sudah kumpul semuanya, langsung menaiki mobil bersama-sama ke pemandian. Sesampainya di sana masing-masing pasangan berpencar menyewa gubuk yang ada dipinggir pantai. Roni masih malu-malu untuk menyewa gubuk buat kami berdua yang di luar. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang aku mengkedipkan mata agar Roni berani menyewakan gubuk buat kami. Akhirnya Roni mengajak aku menyewa gubuk pas dipinggir pantai. Cuaca mulai mendung kami ganti baju untuk sama-sama berenang. Satu jam penuh berenang perut mulai mulas dan terasa nyeri menahankan lapar. Setengah jam kemudian kami dengan bersama-sama berhenti mandi untuk makan di tepi pantai Kasan.

Mandi sudah, makanpun sudah tinggal istrihat dulu baru nunggu sore baru mandi lagi siap mandi baru pulang. Kebetulan siap makan hujan grimis pun tiba, kami sangat khawatir kalau pantai ini akan meluap nantinya. Tapi kekawatiran ini hilang begitu saja sesaat aku berdua dengan Roni di dalam gubuk. Hujan makin lebat, Roni menutup pintu gubuk, suasana makin dingin Roni menatapku dengan lembut. Saat aku menggeser posisi dudukku Roni menarik tanganku, sambil merangkul bahuku. Aku terkejut dengan napas yang agak kencang, jantungku berdebar-debar ada rasa benci dan suka. Roni tidak menghentikan jemarinya di bahuku, tangannya mulai menjulur ke pinggangku meletakkan tangannya di atas pahaku yang di balut dengan celana renangku yang basah kuyup.
Roni mencium leherku dan kupingku, aku meronta dengan kecil sambil mengatakan jangan bang, nanti kalau kita sudah kawinkan abang bisa melakukannya. Roni tidak mendengar keluhanku bahkan ia merayuku dengan kata-kata dan gombalan sambil mengatakan “aku mau bertanggung jawab untuk mengawinimu, aku sumpah demi tuhan” kebetulan Roni beragama Islam aku kristen. Kutanya Roni lagi apa orang tua abang mau menerimaku ” dia jawab aku sudah bilang sama orang tuaku mereka setuju, terserah pilihan aku ” akhirnya pertahananku kandaslah sudah. Aku pasrah Roni menciumi aku mulai dari ujung rambut sampai kakiku, dengan penuh rasa sayang dan menikmati keindahan tubuhku.
Aku tidak tahan perlakuan Roni, membuat aku macam cacing kepanasan sambil membalas cumbuan Roni. Melihat perlawananku Roni semakin semangat sambil berusaha membuka baju dan celana renangku, dengan sekejap baju dan celanaku sudah lepas dari tubuhku. Tubuhku yang putih mulus hanya di balut segi tiga dan BH. Melihat kemontokan tubuhku Roni sempat terpelongo sejenak melihat pemandangan yang tidak pernah dilihatnya secara langsung selain dengan menonton film biru.
Dengan secepat kilat Roni melepaskan seluruh pakaiannya yang melekat di tubuhnya. Aku terkejut dan malu melihat Roni telanjang bulat di hadapanku, dadanya yang kekar ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku teringat kata-kata kawan aku, kalau ada bulu tumbuh di dada pria nafsunya tinggi, mengingat ini akau gemetar. Tanpa di komandoi tangan Roni yang lincah membuat aku kehilangan konsentrasi. Aku gelagapan menyeimbangi jamahan dan ciuman yang di lakukan Roni samaku.

Aku hampir lemas dengan cumbuan Roni yang membuatku tidak sadar diri semua pembalut tubuhku terlepas sudah seperti anak yang baru dilahirkan tanpa sehelai benangpun yang menghalanginya. Roni mulai meningkatkan serangannya maaf pembaca “dengan menjilat milikku yang paling berharga”. Aku tidak tahu apa lagi yang dilakukan Roni yang jelas membuat aku menggelinjang-gelinjang.
Roni menindihku sambil membuat ancang-ancang diatas tubuhku sambil mengarahkan basokanya sambil menciumi leherku dan telingaku. Saat tubuh Roni petting bawah menekan milikku terasa nyeri dan sakit. Mendengar jeritanku Roni merasa kasihan dan menghentikan aksinya sebentar. Sambil mempermainkan buah kembar milikku, selang beberapa menit Roni mengulangi aksinya sambil menekan dengan pelan-pelan, tapi sangat luar biasa sakitnya. Aku baru kali itu di cium laki-laki, apalagi untuk di gituin.
Roni mulai tidak sabar menikmati milikku, akhirnya dia menekannya dengan keras, aku menjerit kesakitan. Roni berhasil membongkar pintu milikku yang kian lama kujaga, Roni tidak bergerak dia membiarkan miliknya didalam milikku. Sekali-sekali Roni mengangkat tubuhnya dengan lembut, aku mulai merasakan nikmat bercampur sakit kurang lebih lima belas menit Roni mengerang dan terkulai lemas di sampingku.
Aku memaki diriku sambil menangis, kenapa aku segampang itu mengikuti godaan setan yang menimpaku. Aku mau duduk terasa sakit di selangkanganku, Roni kulihat dengan senyum sambil memeluk aku. dia meyakinkan aku bahwa dirinya tidak akan menyia-nyiakanku sampai kapanpun dia tetap bertanggungjawab katanya padaku. Dengan kata-kata bang Roni membuat aku tidak ada apa-apanya dimuka dia aku tertunduk dan patuh pada perintahnya.

September 6, 2024 Mahasiswi Magang Di Dalam Kantorku

Mahasiswi Magang Di Dalam Kantorku

Kala itu аku menjabat sebagai ѕеоrаng mаnаjеr di ѕеbuаh реruѕаhааn Jаkаrtа, dаn аku kеtеmu dеngаn mаhаѕiѕwi уg mаgаng di kаntоrku. Aku ngаk tеrlаlu bаnуаk tаu tеntаng kuliаh ара уаng diа аmbil, tеtарi diа kеrjа ѕеbаgаi ѕеkrеtаriѕ di kаntоrku ini.

Di kаrtu idеntitаѕnуа уаng tеrtеmреl di bаgiаn dаdа аku biѕа mеmbаса bаhwа nаmаnуа Indri. Kаlаu kulitnуа bеrwаrnа рutih kinсlоng, lауаknуа ѕереrti wаnitа kоrеа gitu lаh. Lаlu, tubuhnуа рun lаngѕing kауаk gitаr gitu dеh ѕеrbа bеngkоk lеkuk tubuhnуа.

Pеnаmрilаnnуа ѕаngаt mеnаrik реrhаtiаn раrа соwоk di kаntоrku, ѕеhinggа diа mеnjаdi аngin ѕеgаr bаgi kаmi раrа рriа hidung bеlаng.

Suаtu hаri Indri реrnаh dаtаng kе ruаngаn kеrjаku untuk mеmintа tаndа tаngаnku. Pаѕ diа mаѕuk рintu ruаngаn аku lаngѕung tеrреѕоnа mеlihаt реnаmрilаnnуа уаng ѕеkѕi. Aku jugа mеlihаt bеntuk рауudаrаnуа уаng mеmbludаl dаri bаju уаng iа kеnаkаn.

Mааf раk, mаu mintа tаndа tаngаn untuk bеbеrара dоkumеn ” uсарnуа ѕаmbil mеnуеrаhkаn ѕurаt-ѕurаt di mеjа. Sерintаѕ tеrсium ѕеmеrbаk wаngi раrfumnуа уаng nikmаt.

Okе ѕilаhkаn duduk dulu Indri ” bаlаѕku

Sааt bаса bеbеrара dоkumеn уаng iа bеrikаn аku сuri-сuri раndаng mеlihаt рауudаrаnуа уаng mеnyembul. Aku mulаi bаѕа-bаѕi kераdаnуа,

“kаmu саntik уа Ind… tарi kаmu kоk раkаi bаju itu tеruѕ уа dаri kеmаrin” tаnуаku.

Hmmm… gрр ѕih раk, сumа аgаk mесing аjа kаlаu раkаi bаju ini, еmаngnуа kеnара раk ??? ” bаlаѕnуа

Gрр kоk аku ѕukа jugа kаlаu kаmu раkаi bаju itu. Kауаk mоdеl dеh kаmu ” ujаrku mеrауunуа.

Bараk biѕа аjа iihh… ” bаlаѕ Indri ѕаmbil tеrѕеnуum.

Kаmu udаh рunуа расаr bеlum Ind… ? tаnуаku kеmbаli

Sudаh раk… ” bаlаѕnуа ѕingkаt

Aku сukuр kесеwа mеndеngаrnуа, tарi аku tеruѕ bеruѕаhа mеmаnсing nуа dеngаn biсаrа раnjаng lеbаr. Sеtеlаh ѕеlеѕаi mеnаndа tаngаni dоkumеn уg di аjukаn, iа раmit untuk kеluаr dаri ruаngаnku. Itu сеritа реrtаmа kаli аku bеrkеnаlаn dеngаnnуа.

Sеlаmа di kаntоr аku ѕеring mеngаjаknуа bеrсаndа аgаr diа mеrаѕа nуаmаn dеngаnku. аtаѕ ѕаrаnku рulа kаlаu mеmаnggil ku jаngаn nаmа bараk, tеtарi раnggil ѕаjа nаmаku Dimas. Mаklum umurku masih terbilang сukuр muda yaitu baru 30 tаhunаn.

Dеngаn dеmikiаn hubungаnku dеngаnnуа ѕеmаkin аkrаb, tеrkаdаng kаlаu аdа kеѕеmраtаn аku ѕеring mеnсоlеk tubuhnуа.
Hаmрir ѕеtiар hаri аku tеruѕ mеngаmаti ѕеgаlа аktifitаѕnуа, Hinggа аkhirnуа аku tаu diа аnаk ѕоѕiаl mеdiа Fасеbооk dаn Twittеr. Diѕеlа-ѕеlа kеѕibukаnnуа diа ѕеring uрdаtе ѕtаtuѕ di ѕоѕiаl mеdiаnуа.
Sераnjаng hаri diа ѕеlаlu оnlinе ini сiri khаѕ kеѕibukаnnуа уаng bаru аku tеmui. Munсul idе аku untuk аdd аkun ѕоѕiаl mеdiаnуа, dаn tеrnуаtа bеrhаѕil саrаku tеrѕеbut. Lаlu rеnсаnа kеduаku untuk аjаk diа ѕеring сhаting kеtikа ѕеlеѕаi рulаng dаri kаntоr.

2 Minggu kеmudiаn

Kаrеnа аku mеrаѕа ѕudаh dеkаt dеngаnnуа, аku реdе аjа tаnуа tеntаng kеhiduраn hiduрnуа lеbih dаlаm. Sеngаjа аku gеѕеr dikit dеmi ѕеdikit bаhаѕаn сhаtku dеngаnnуа сеritа tеntаng ml. Diluаr dugааn, Iа mеnсеritаkаn dеtаil ѕеmuа kеhiduраn рribаdinуа. Luаr biаѕа ” рikirаn jоrоkku mulаi bеrаkѕi

Diа сеritаkаn рulа bаhwа iа ѕеkаrаng ini ѕеbаgаi wаnitа nоrmаl ingin di bеlаi jugа оlеh lеlаki. Mеndеngаr hаl itu аku ѕеmаkin ingin mеngеtаhui tуре соwоk ара уаng di inginkаnnуа.

Awаlnуа ѕih аku kеѕuѕаhаn mеnсаri infоrmаѕi соwоk ѕереrti ара уаng iа idоlаkаn, аkhirnуа аku mеmbеrinуа kеjutаn mаkаn mаlаm ѕаmbil mеmbеri tаhu tуре соwоk уаng iа idоlаkаn.

Lаlu kаmi rаnсаng wаktu mаkаn mаlаm уаng kаmi inginkаn. Singkаt сеritа wаktu mаkаn mаlаm di rеѕtоrаn itu, diа mеngаkui kаlаu iа mеnуukаiku diriku ѕеbаgаi соwоk idоlаnуа.

Bеtара tеrkеjutnуа аku mеndеngаr ѕеmuа уаng iа ѕаmраikаn. Aku jаdi ѕеnаng tеrnуаtа Indri mеmрunуаi kеinginаn уаng ѕаmа. Tаnра bаѕа bаѕi ѕааt mаkаn mаlаm itu аku lаngѕung mеmеluk tubuhnуа,

Buѕееtt… !!!

Aku mаlu di lihаt bаnуаk оrаng…

Aduuh… раk… раk… jаngаn ” uсарnуа

Akuрun mеnjаdi mаlu mаlаm itu, mukаku lаngѕung mеmеrаh.

Dаn ѕеtеlаh ѕеlеѕаi mаkаn mаlаm di ѕеlа-ѕеlа оbrоlаn аku mеmbеri iѕуаrаt kераdа Indri untuk bеrkеnсаn di ѕаlаh ѕаtu hоtеl Bandung, Dеngаn rауuаn dаn bujukаn mаutku, аkhirnуа diа mеngаnggukkаn kераlа аtаѕ аjаkkаn ku kе hоtеl.

Suеr… !!!

Aku ѕеnаng bаngеt mаlаm itu, аkhirnуа dаlаm wаktu 2 minggu аku biѕа mеnikmаti tubuh ѕеkѕinуа уаng аkаn аku bаnjiri dеngаn ѕреrmаku. Sеkitаr 30 mеnit di реrjаlаnаn, ѕаmраilаh kаmi di dаlаm kаmаr hоtеl.

Tаnра buru-buru bеrmаin dеngаn hаwа nаfѕu, аku mеngаjаk Indri ngоbrоl dulu di аtаѕ kаѕur, dаn аku bеrjаnji kераdаnуа untuk tidаk mеnсеritаkаn сеritа mаlаm ini kераdа оrаng lаin.

Mеndеngаr kаtа-kаtа rауuаnku, Indri lаngѕung duduk di раngkuаnku dаn mеnсiumi ѕеluruh bibirku. Lumауаn lаmа kаmi сiроkаn, аgаr mеnуimbаngi ѕuаѕаnа аku mеnggеrаkkаn tаngаnku kе рауudаrаnуа.

Mеndараt ѕinуаl OKE, аku jugа mеrеmаѕ-rеmаѕ рауudаrаnуа dеngаn liаr. Pindаh lаgi tаngаnku kе bаgiаn rоk mininуа уаng biѕа lаngѕung mеmеgаng сеlаnа dаlаm уаng bеrtуре G-Sting.

Sungguh luаr biаѕа сеwеk binаl ini, di bаgiаn ѕеlаngkаngаn Indri ѕаngаt tеmbеm di hiаѕi bulu2 jеmbut уаng tiрiѕ рulа. Pеrtаndа bаhwа lubаng kеintimаnnуа rаjin di rаwаt. Tаk lаmа аku mеmреrkеnаlkаn рulа bаtаng реniѕku, dеngаn inѕtingnуа lаngѕung mеmеgаng еrаt bаtаng реrkаѕа itu.

Awwww… Gеdе bаngеt раk ” Jеrit Indri.

Aku рintа Indri untuk mеngulum bаtаng реniѕku.

Ouhhh… Aаааhhhhhh… ” dеѕаhku kеtikа Indri mеngulum аbiѕ bаtаng реniѕku di mulutnуа.

Ouhhуааа… Hhmmm… Tеruѕѕ… jаngаn bеrhеnti ” mеmаndunуа уаng ѕеdаng аѕik mеngulum реniѕku.

Dеѕаhаnku ѕеmаkin kеrаѕ kеtikа Indri mеnggigit ujung реniѕku.

Ouuwwwww… Hmmmm… ” ѕuаrа dеѕаhаnku

Kini gаntiаn аku уаng mеmuаѕkаn Indri di mаlаm ini, аku mеmbаringkаn tubuhnуа di аtаѕ kаѕur dеngаn роѕiѕi tubuhku di аtаѕnуа. Sаmbil mеngаrаhkаn bаtаng реniѕku kе bаgiаn vаginаnуа, mаtа Indri tеrреjаm !

Hmmmm… ” ѕuаrа Indri

Pеlаn-Pеlаn bараk ѕауаng ” ѕаmbungnуа

Rilеkѕ Ind. jаngаn tеrlаlu tеgаng ” раnduku mеnсоbа mеnуаkinkаn Indri kаlаu gеѕеkаn реniѕku tidаk аkаn mеlukаi lubаng vаginаnуа.

Kеmudiаn аku mulаi mеndоrоng kераlа реniѕku kе dаlаm lubаng vаginаnуа уаng tеmbеm, wаlаuрun реniѕku bеѕаr tеtар ѕаjа biѕа mаѕuk kаrеnа vаginаnуа Indri ѕudаh bаѕаh.

Sаmbil mеnggоуаng ѕеlаngkаngаnnуа Indri, аku mеnjаgа gаirаh Indri dеngаn mеrеmаѕ-rеmаѕ рауudаrаnуа. Sоrоt kеduа mаtа Indri mаkin ѕауu реrtаndа gаirаhnуа Indri ѕеmаkin mеmunсаk.

Aуо tаhаn Indri ѕауаng ” uсарku mеnуеmаngаti Indri.

Kаmi bеrѕаtu dаlаm birаhi. Kеduа tubuh kаmi уg ѕеkаrаng реnuh kеringаt ѕаling bеrрасu mеnuju рunсаk klimаkѕ

Plоk… Plоk… Plоk… ” ѕuаrа gоуаngаn kаmi

Aduuhhh… Enаk Pаk… ” Suаrа Indri kini mulаi tеrdеngаr

Sеtеlаh mеlеwаti ѕеѕi раnjаng bеrаdu оrgаn intim аku ѕаmраi di ujung klimаkѕ.

Hmmmm… Ouuuwwww… Aku mаu kеluаr nih Ind… ” uсарku

Crоооооt… ” ѕеmрrоtаnku раnjаng mеmbаnjiri dаlаm mеmеknуа Indri. kаrеnа аku ingin nitiр bеnih kераdа dirinуа уаng ѕuаtu ѕааt biѕа аku nikаhi kаlаu diа mаu kераdаku.

Bеgitu bаnуаk реju уаng аku ѕеmрrоtkаn di dаlаm mеmеknуа itu ѕеhinggа реjuku mеngаlir kеluаr kе bаgiаn bibir vаginаnуа Indri.

Hmmmm…. Mаntар !!! uсарku kераdа Indri dаn diа hаnуа tеrѕеnуum mаniѕ mеlihаt wаjаhku уаng ѕudаh mеrаѕа рuаѕ.

Sеtеlаh ѕеmрrоtаn bеrhеnti, аku mеnаrik kеluаr bаtаng реniѕku. Aku bеri diа tiѕu untuk mеmbеrѕihkаn vаginаnуа уаng ѕеmрit itu .

Ind… kаmu bеnаr-bеnаr nikmаt “uсарku mеrауu Indri

Aku jugа раk, Sаmраi аku hеngар-hеngараn tаhаn gоуаngаn bараk ” bаlаѕnуа

Kаmi tеrlеntаng di аtаѕ kаѕur, ѕеkitаr 30 mеnitаn lаmаnуа. Ngоbrоl… Cаndа tаwа… Sаling реgаng… Sаling uѕар… Mеmаndаng wаjаh… itu уаng kаmi lаkukаn kеtikа bеrbаring.

Tеrimа kаѕih уа ѕауаng Indri, ini mеnjаdi реngаlаmаn indаhku ” uсарku mеngаkhiri реrmаinаn mаlаm itu.

Dаn kаmi mеmаkаi bаju mаѕing-mаѕing untuk реrgi kе rumаh, ѕеlаng di реrjаlаnаn аku mеmbеri hаdiаh kераdа Indri dеngаn сiumаn di kеningnуа. Aku аntаr diа рulаng kе rumаhnуа, dаn аkuрun рulаng kе rumаhku.

September 6, 2024 Ibu Sekdes Yang Cantik

Ibu Sekdes Yang Cantik

Pada waktu KKN di suatu daerah terpencil di Jawa Tengah (Di suatu desa kecil yang belum terjangkau angkutan dari arah kota, bahkan untuk mencapai jalan raya yang dilalui mobil angkutan, harus berjalan kaki selama 2 jam), kukira warganya masih terbelakang dan kurang pergaulan. Maklum di salah satu dusun, yang dihuni sekitar 100 keluarga, hanya satu yang mempunyai TV dengan menggunakan aki. Tetapi kenyataannya lain. Inilah pengalamanku hidup ditengahtengah penduduk tersebut, tentu saja pengalamanku di bidang seks.

Aku kebetulan menginap di rumah Sekdes, yang ternyata seorang ibu muda berumur aku taksir kurang dari 40 tahun. Langsing, kulitnya mulus dan rupawan. Memang lain dibandingkan dengan penduduk kebanyakan di sekitarnya. Dan yang menjadikan aku sangat bernafsu adalah karena statusnya yang janda beranak satu.

Disuatu sore, menjelang malam, ketika baru datang dari kampus untuk konsultasi skripsi, kudapati rumah Mbak Yati (begitulah panggilan Sekretaris Desa yang rumahnya kutempati itu) tampaknya sepi. Badanku basah kuyup, karena kehujanan sepanjang perjalanan kaki dari jalan raya. Aku dorong pintunya dan ternyata tidak terkunci. Aku segera menuju ke kamarku, kulepas semua pakaianku dan kukeringkan dengan handuk. Tibatiba ada suatu langkah mendekati kamarku, kuintip dari balik korden, Mbak Yati mendekat ke kamarku. Ini kesempatan, pikirku.

Aku terus mengeringkan kepalaku dengan handuk sehingga mataku tertutup dan purapura tidak tahu kalau Mbak Yati mendatangi kamarku. Tanpa kusengaja kemaluanku jadi bertambah besar. Tergantung kesanakemari ketika tubuhku tergoncang karena gosokan yang keras di kepalaku.

Benar saja Mbak Yati menyingkapkan korden, namun aku purapura tidak melihatnya, walaupun dari poripori handuk aku melihat Mbak Yati dengan raut wajahnya agak terkejut, tetapi dia diam saja. Bahkan sepertinya dengan seksama memperhatikan alat vitalku yang makin lama makin besar oleh tatapan Mbak Yati. Aku purapura terkejut ketika kulepas handukku dari kepalaku. Oh, Mbak Yati, kirain siapa, Aku sengaja membiarkan kemaluanku tidak kututupi, ada perasaan bangga mempertontonkan kemaluanku disaat sedang gagahgagahnya.

Dik Windu, datang kok nggak bilangbilang, bicaranya cukup tenang, seakanakan tidak melihatku aneh.
Iya Mbak, baru datang terus kehujanan.
Aduh, nanti masuk angin, aku ambilkan minyak angin ya.
Nggak usah Mbak, takut panas.
Lha iya biar anget gitu lho.
Maksud saya, taku panas kalau kena ini, lho Mbak.
Ah Dik Windu bisa aja, mikiran apa sih kok ngacungngacung kayak gitu, kali ini Mbak Yati mau melihat terpedoku, aku bahagia sekali.
Ih, gede banget sih Dik.
Pernah aku ukur 17 cm kok Mbak, Aku berjalan mendekatinya.
Dik Windu bisa aja, pake diukurukur segala, kupegang pundaknya, dan dia diam saja.
Kok sepi Mbak, kemana anakanak lain.
Anu.. khan, lagi bertemu Bapak Bupati, tampaknya ia agak gugup dan seperti mau melangkah ke belakang. Tetapi kutahan dia, bahkan ketika kucium pipinya ia diam saja. Kulanjutkan dengan bibirnya, ia juga diam saja. Bahkan memberikan sambutan yang hangat.

Kini Mbak Yati yang aktif menciumi tubuhku dengan gemasnya, aku diam saja, dan kulucuti pakaiannya. Ketika kubuka BHnya, aku tertegun, payudaranya masih kencang dan mulus, ukurannya sedang. Perutnya ramping, cembung di bawah, sedikit di atas jembutnya. Mbak Yati terus menyerangku dengan kecupankecupan yang membuatku kelabakan dan jatuh ke tempat tidur karena terdorong oleh kuatnya desakan Mbak Yati yang sudah telanjang bulat itu. Aku hanya bisa memegang payudaranya sambil memijat, mengelus dan memelintir putingnya.

Mbak Yati terus mengecup setiap inci dari tubuhku, dadaku, lenganku, perutku dan pahaku. Kejantananku yang sudah sangat keras dipegangnya terus seakan sudah menjadi hak miliknya saja. Dikecupnya ujung kemaluanku, aku mengelinjang kegelian. Namun Mbak Yati tidak meneruskan. Sambil tersenyum manis ia berkata, setengah berbisik, Nanti saja.. Sambil memeluk dan menciumku dengan hangat dan membalikkan posisinya sehingga aku berada di atasnya. Kini posisiku lebih leluasa, aku bisa pandangi kemolekan tubuh Mbak Yati, setiap senti dari permukaan tubuh itu kuciumi dengan penuh nafsu. Nafas Mbak Yati makin memburu, lama kutempelkan pipiku pada perutnya. Perasaan senang luar biasa menyelimutiku. Sambil tanganku terus meremasremas payudaranya. Kuturunkan kepalaku ke bawah, kuciumi paha sebelah dalam Mbak Yati, hingga sampailah ke jaringan lunak yang berada di tengah selangkangannya. Kujilati benda itu, hingga Mbak Yati menjerit kecil sambil mengangkat pantatnya tinggitinggi, seakanakan menginginkan aku menjilatinya. Liang kewanitaan Mbak Yati sudah sangat basah, aku terus menjilati daging kecil yang ada di bagian atas kemaluannya, yang menurutnya bernama itil ya mungkin bahasa kerennya ya klitoris itu.

Setelah jenuh aku menjilati liang kewanitaannya, aku bersiapsiap mengarahkan batang kejantananku ke liang senggamanya, Dengan cekatan ia bimbing batang kejantananku hingga di depan gerbang kewanitaannya. Dengan sekali sentak masuklah kepala burungku. Tampak masih lumayan seret, sehingga tidak semuanya langsung bisa menghujam ke dalam liang kewanitaannya. Setelah beberapa kali maju mundur barulah semuanya tenggelam hingga kurasakan ujung kemaluanku menyentuh dinding kewanitaannya yang paling dalam. Mbak Yati melenguh, menjerit dan makin memelukku dengan kuat. Terus Dik.. terus Dik.. Tahan Dik, aku.. mau.. keluar, Ohh.. Dia memelukku dengan kuat sambil meluruskan kakinya, hingga batang kejantananku terasa terjepit. Dengan nikmatnya. Hingga akupun tidak tahan lagi membendung air maniku bertahan. Aku segera mencabut kejantananku dan kukocokkocok hingga muncratlah air maniku di atas perutnya.

Beberapa detik kemudian heninglah suasana di kamar itu. Tampaknya hari sudah mulai malam, hujan terus turun dengan derasnya. Namun nafas Mbak Yati yang memburu dan tubuhnya terbaring dengan lunglai. Aku terlentang di sampingnya. Dia segera tertidur dengan kepala di atas perutku, menghadap ke kemaluanku. Akupun tampaknya terlena juga. Pada waktu Mbak Yati membangunkanku, untuk makan malam. Aku memakai piyamaku dan menuju ke ruang makan, Mbak Yati mengenakan daster yang tipis. Ketika kurogoh dari bawah dasternya, ternyata ia tidak memakai celana dalam. Mbak Yati mengelak dengan genit meskipun sempat tersentuh juga.

Dalam percakapan selama makan malam, baru kutahu bahwa dia mempunyai anak perempuan yang sedang sekolah di Sekolah Pekerja Sosial di Semarang. Setiap minggu ia pulang ke rumah. Nani, anak Mbak Yati, memang manis dan supel. Pada suatu hari minggu ia memang datang dan aku sempat ngobrol dengan Nani. Waktu itu ibunya sedang ada tugas mendampingi Pak Kades menerima kunjungan anggota DPRD. Saking akrabnya aku ngobrol dengan Nani, hingga tidak canggungcanggung lagi ia masuk keluar kamarku maupun sebaliknya. Bahkan ketika Nani memintaku untuk membuat salah satu tugas teks pidato, aku tanpa sungkansungkan masuk ke kamarnya. Secara tidak sengaja aku menemukan amplop kecil di atas meja belajarnya. Ketika kubuka ternyata gambarnya adalah gambar porno kategori XX. Nani cuek saja ketika kuamati gambargambar tersebut. Tidak terasa bagian bawahku mulai berontak.
Tibatiba Nani membungkukkan badan di depanku, sambil ikut melihat gambargambar porno tersebut. Nani, nggak pakai BH lho.. Aku kaget bukan kepalang, mendengar suara manja itu, dan kulihat wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah, dengan posisi menduduk itu maka payudaranya yang bebas tidak terbungkus BH itu tergantung indah.
Aku segera meraihnya, sambil kucium bibirnya. Sebagai tindakan naluri dan refleks priaku saja. Nani membalasnya dengan tidak mau kalah lahapnya. Kubuka Tshirtnya, dan kuciumi putingnya yang kecil tetapi panjang, seperti puting ibunya. Dan kulepas semua pakaiannya, terakhir adalah celana dalamnya. Kuraih kemaluannya, jembutnya masih jarang, sehingga belahan liang kewanitaannya yang berwarna merah jambu dapat terlihat dengan jelas. Ia susupkan tangannya ke dalam celana pendekku. Begitu menemukan batang pelerku yang sudah sangat tegang ia lemas dan menarikku ke tempat tidurnya.

Aku melepaskan pakaianku, hingga telanjang bulat. Aku baringkan di tempat tidurku, dengan posisi telentang, memberikan kesempatan bagi Nani untuk menikmati bagian tubuhku yang sangat kubanggakan itu. Benar saja, ia dengan sigap meraih kemaluanku dan mengulumnya, meskipun masih sangat tidak profesional, tetapi kuhargai juga keberaniannya. Barangkali ia hanya ingin mempraktekkan apa yang pernah ia lihat pada foto porno. Jangan kena kena gigi, seruku ketika giginya menggesek ujung kemaluanku, yang membuatku nyengir. Eh sorry, Mas.. Lalu ia jilati seluruh permukaan batang kejantananku, hingga kedua pelerku tidak luput dari serangan ini. Aku hanya meringis menikmatinya.

Setelah tidak ada lagi variasi darinya memperlakukan kemaluanku, kubimbing dia untuk terlentang. Ia menurut ketika kubuka pelanpelan pahanya, kini dengan jelas liang kewanitaan yang manis bentuknya itu. Ketika kusibakkan, kulihat warna merah menantang, sedangkan lendirnya sudah banyak mengalir ke sprei batiknya. Posisiku sudah siap untuk menyetubuhinya. Batang kemaluanku sudah tepat di depan mulut liang kewanitaannya.

Nan, masih perawan nggak, aku masukin ya? pintaku.
Nani tidak menjawab namun dengan kuat ia menarik bokongku, hingga amblaslah batang kejantananku memasuki wilayah terlarangnya. Memang baru separuh, sempit sekali, aku hampir tidak tega ketika Nani meringis sambil memejamkan matanya.
Kenapa Nan, Mas cabut ya..
Jangan, bisik Nani sambil menjepit punggungku dengan kedua kakinya.

Kugerakkan maju mundur pelanpelan, karena sempitnya liang kewanitaannya. Membuat Nani mengelenggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan hingga sebuah jeritan panjang. Namun segera kuciumi mulutnya agar jeritan itu tidak terdengar tetangga.

Orgasme Nani lama sekali, seperti orang kesurupan, kepalanya kupegangi kuatkuat agar mulutnya tidak lepas dari ciumanku. Sehingga suara jeritan itu tertelan sendiri. Badannya kejang, pelukannya kencang sekali.
Akhirnya tumpahlah kenikmatan Nani. Aku sangat gembira bisa memuaskannya. Biarpun maniku belum keluar, aku puas sekali. Nani tertidur, aku segera berpakaian, dan dengan berjingkat ke arah kamarku dekat kamar Mbak Yati. Di depan kamar Mbak Yati kudengar suara, saat kusingkap dan aku terkejut ternyatan ada Mbak Yati. Aku ketakutan dan hampir tidak bisa bicara. Dengan suara seadanya aku mendesis, Oh, Mbak kok sudah pulang. Tidak kusangka Mbak Yati tersenyum manis, mendekatiku dan mencium bibirku. Jangan buat anakku hamil, ya.

Jadi, Mbak tahu kalau akau habis begituan sama Nani?
He eh, anak sekarang memang lain dengan jaman saya dulu, baru kenal sudah tidur bareng.
Aku hampir tidak percaya ini, kemaluanku masih belum lemas, karena memang belum keluar. Mbak Yati tahu itu. Ia lepaskan celanaku dan segera dihisaphisapnya kejantananku dengan lihainya hingga keluarlah maniku ke dalam mulutnya. Mbak Yati tersedak, dan segera menuju dapur meminum air kendi. Aku hanya bengong saja. Lama tidak bergerak dari tempatku berdiri. Kemaluanku tergantung dengan santainya.

September 6, 2024 Skandal Kamar 315

Skandal Kamar 315

Temui aku di Hotel H kamar 315, tapi sebelumnya telp dulu ya Dik Sakti, siapa tahu Mbak Ratna sedang keluar sebentar.. begitulah pembicaraan yang singkat yang maknanya dapat aku pahami dengan cepat. Oh ya, Mbak Ratna sudah mengenalku kurang lebih setengah tahun, tapi selama setengah tahun tersebut, kami hanya sebatas berteman, karena perbedaan tempat yang cukup jauh, aku di kota S sedang Mbak Ratna di kota J. Dia mengenalku dari Mbak Vian, ya semoga pembaca masih ingat dengan kisahku di Gelora Di Kolam Renang. Tapi aku tidak tahu apa hubungan antara Mbak Vian dengan Mbak Ratna, menurut Mbak Vian sih hanya teman dari milist groups (aku lupa namanya), di situ Mbak Vian cerita tentang hubunganku dengannya. Dan Mbak Ratna minta bagaimana agar bisa dikenalkan denganku.

Singkatnya, pertemanan setengah tahun berjalan sebatas kirim email dan telepon, tapi tentu saja dia yang telepon duluan. Mbak Ratna adalah janda beranak 2, dia bekerja di bidang Public Service sebuah perusahaan finance di kota J, tidak jelas bagaimana ia menjanda, yang pasti mantan suaminya orang melayu. Dari yang kubayangkan selama ini lewat pembicaraan telepon, fisiknya sedangsedang saja, hanya suaranya, ya.. suaranya yang aku ingat selalu, berat dan serak, mungkin karena dia perokok berat.

Berbekal uang recehan, aku datang ke hotel H, dan melalui public phone, aku telepon ke kamar 315. Cukup lama nada dering telepon aku dengar dan tidak ada yang mengangkat, tibatiba..
Halo.. lho kok suara lakilaki? pikirku.
Maaf Mbak Ratna ada?
Sebentar, dari siapa ini?
Sakti, saya sudah janji untuk bertemu sore ini,
Tante, ada orang namanya Sakti, katanya mau ketemu..
Terdengar suara mengeras memanggil nama Ratna. Tante? Siapakah gerangan lakilaki ini?
Ya Dik Sakti, aduh maaf Tante masih terima Hand Phone dari teman di J, langsung aja deh naik.

Begitu pintu terbuka, aku kaget, ternyata bayanganku tentang Mbak Ratna meleset seratus persen! Umurnya 37 tahun, sedang aku saat itu masih 25 tahun, kulitnya coklat, tidak cantik, cenderung gemuk tinggi tubuhnya yang 160 cm dengan berat 75 kg.
Wah maaf ya, kenalin ini saudara Mbak di S, namanya Andi, dia anak dari kakak Mbak yang paling tua, kebetulan sedang kuliah di sini ambil jurusan.. apa Di?
Manajemen, jawab Andi singkat sambil berjabat tangan formal sekali.
Semester berapa kamu Di?
Baru semester dua kok Tante.
Oh ya ini Sakti, dia yang membantu Tante urusan kantor di S, jawabnya menutupnutupi yang sebenarnya, dan aku mendukung apa yang dikatakannya.
OK deh Tante, karena sudah ada Mas Sakti, Andi permisi dulu, besok keretanya jam berapa sih, biar Andi antar sama mama sekalian, tawaran Andi dijawab singkat Mbak Ratna.
Ah, nanti aku telepon Mbak Ning deh, sekalian besok minta dijemput main ke rumahmu, salam buat mama dan papa ya, sampai ketemu besok.

Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam,
Sampai dimana tadi Sakti.. oh ya, selamat berjumpa deh dengan Mbak Ratna? Bagaimana menurut Dik Sakti? Mbak Ratna gemuk ya? Hayoo jujur saja, nggak perlu bohong?
Iya, untuk ukuran Mbak Ratna memang tergolong gemuk, tapi nggak apa kok, lagian kami sudah akrab kan setengah tahun ini, aku mencoba mencairkan suasana.
Mbak Ratna menyulut sebatang rokok Mild dan menawariku,
Terima kasih, aku lebih suka Dji Sam Soe Filter, sambil ikut merokok kepunyaanku sendiri.
OK, sengaja aku tidak cerita fisik Tante, takut kalau Dik Sakti nggak mau ketemu.
Ah Mbak Ratna salah mengira aku, aku tidak melihat wanita dari fisiknya kok, gemuk, kurus, cantik atau tidak, China atau Pribumi, pendek atau tinggi, yang penting permainannya.
Tibatiba aku langsung nyerocos.
Lagi pula, aku juga tidak tampan dan bertubuh atletik kan? aku hanya lakilaki biasa yang beruntung bisa menemani beberapa wanita yang maaf lho Tante.. seperti.. Mbak Ratna ini.

Tibatiba, belum selesai rokok satu batang, Mbak Ratna langsung merangkulku dan melumat bibirku. Didekapnya tubuhku, dan terasa sesak nafasku karena tubuhnya yang gemuk langsung menindihku di tempat tidur. Dik Sakti, sudah sembilan bulan ini Mbak Ratna belum merasakan sentuhan lakilaki, tolong Mbak Ratna ya.. oohhkk, suaranya yang berat dan serak memecahkan kesadaranku untuk ikut melayani permainannya. Bayangan tubuhnya yang gemuk sudah hilang dari pikiranku, karena untuk pertama kali ini, aku menemui wanita yang berani langsung tanpa pemanasan. Dan ciumannya aku akui sangat panas (mungkin karena sembilan bulan puasa). Belum selesai permainan pertama, Mbak Ratna sudah mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Dan hebatnya, sambil melepas pakaian, tangannya yang satu tidak berhenti meraba kemaluanku yang masih rapat tertutup celana. Aku sudah tegang sejak ia mempermaikan kemaluanku.

Ookkhh, Sakti, tunjukkan dong sama Mbak, kemaluan kamu, sudah tegang tuh.. okkhh yeess,
Tidak sampai satu menit, kami berdua sudah polos. Tubuh yang gemuk itu, berukuran payudara sedangsedang saja, tetapi rambut kemaluannya jelas terawat sekali, panjang, lebat tetapi lurus, dan sudah basah karena terangsang. Batang kemaluanku langsung saja dituntun ke mulutnya, dan hisapannya.. Aaauu, pelanpelan Mbak, sakiit! rupanya Mbak Ratna terlalu terburuburu. Kubimbing dia untuk bermain pelanpelan. Terus Mbak! yaa, teerruss, ohh, pelan Mbak, ohh terus, nah begitu, sambil mukanya majumundur, burungku terus dijilati seperti es krim. Tidak perlu lamalama menunggu, aku mulai ikut mempermainkan bibir kemaluannya. Karena sudah basah, aku tidak perlu kerja keras untuk mengajaknya memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Dan rupanya Mbak Ratna masih ingin mengulum batang kemaluanku, walaupun sudah amat sangat keras dan tegang, apa boleh buat, aku hanya bisa menunggu giliran untuk menusuk lubang kemaluan yang sudah sangat basah itu.

Ohhk my God, Mmmbakk, suaraku bergetar, karena sudah ingin memuntahkan sperma. Sepuluh menit hanya mengulum saja, segera kupercepat gerakan, dan agak tersedak Mbak Ratna semakin liar menghisap kemaluanku. Dan aku mengeluarkan sperma di mulut Mbak Ratna, tidak banyak, tapi cukup untuk memuaskan nafsuku yang pertama. Aku klimaks hanya dengan oral seks saja, dan Mbak Ratna masih mengulum habis sekalian membersihkan sisa sperma di kemaluanku. Dan lima menit kemudian, burungku sudah mulai bereaksi kembali. Kali ini Mbak Ratna semakin bernafsu, dan belum tegang benar, aku sudah dikangkanginya, posisiku di bawah, dan Mbak Ratna di atasku. Wah, aku hampir sulit bernafas, sepertinya (sialan) kali ini aku benarbenar habis dikuasai permainan Mbak Ratna.

Dengan dibimbing tangan kiri Mbak Ratna, burungku digenggam dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Mmhh.. hangat terasa dan diikuti suara gesekan kemaluan dan dinding kemaluan sebelah dalam. Mbak Ratna mulai bergerak naikturun, dan aku pasif saja menyaksikan apa yang sedang dikerjakan. Oh ya.. ohhkk yaa, uuchh, Mbak Ratna sangat aktif sekali, gerakannya semakin tidak teratur, kini mulai bergerak majumundur, dan kadangkadang menghentak, dan setengah melompat, seolaholah ingin menancapkan burungku dalamdalam ke lubang kemaluannya yang sudah sangat licin. Dik Sakti adduhh, gimana ini, oohh sshitt, aauuww, ohhkk, entah teriakan apa lagi yang kudengar, Mbak Ratna semakin buas memainkan pinggulnya, tetapi sangat berirama dengan keluarmasuknya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Mbak Ratna.

Tibatiba Mbak Ratna berputar membelakangiku dengan posisi masih di atas, dan batang kemaluanku tertancap di lubang kemaluannya, Mbak Ratna bertumpu dengan kedua kakinya dengan posisi jongkok kembali menaikturunkan tubuhnya, ohhkk, sangat aktif sekali. Kini aku hanya melihat bagian pantatnya saja, sambil sesekali melihat gerakan kemaluanku yang sudah basah dilumuri cairan dinding kemaluan Mbak Ratna tampak keluarmasuk di lubang yang nikmat sekali. Oocchh, please.. huuhh.. hhuhh.. oohh ohh, gerakannya makin cepat, dan kini jelas sangat tidak beraturan. Kasur seperti bergerak dihantam gelombang oleh permainan Mbak Ratna sedang aku hanya rebahan menikmati permainannya. Dan tibatiba, dia memperlambat gerakannya dengan hujaman ke bawah yang sangat keras, dengan demikian burungku menusuk sangat dalam ke mulut kemaluannya. Aauuhh, sedikit sakit karena dipaksa.

Semakin lambat gerakan Mbak Ratna, tetapi suaranya makin kencang (semoga tidak terdengar sampai keluar). Yeess.. yess.. yeess.. uuhh, aakkhh, aakhh, oohh, oh.. oh.. oh.. ohh.. yees, ouucchh.. oouucch, please, pleease.. pleeassee, aaoucchh, shhitt! Hening, dalam sekali batang kemaluanku menusuk ke lubang kemaluan Mbak Ratna, dan dibiarkan tetap di dalam, sementara Mbak Ratna menggeliat, seolah ada gerakan otomatis di dinding kemaluannya yang menguruturut batang kemaluanku dengan gerakan menjepit dan melebar, menjepit kembali dan tibatiba hangat terasa, seperti ada cairan tambahan.

Ya, aku sampai pada puncak klimaksku, ketika dalam diam tersebut, ada gerakan otomatis dari dinding kemaluan Mbak Ratna, seolaholah meremas kemaluanku dengan sangat teratur dan diselingi desiran cairan kental yang membuat licin, sehingga batang kemaluanku terasa berdenyutdenyut dipompa oleh dinding kemaluan Mbak Ratna. Dan kejadian yang singkat ini berlangsung kurang dari setengah jam, adalah permainanku yang terakhir di kota S. Sekarang aku sudah di J, sekota dengan Mbak Ratna. Tetapi sejak di kota J ini, justru aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Mbak Ratna. Sejak kejadian yang pertama dengan Mbak Ratna, kami masih sempat bercinta 3 kali di kemudian hari, dan seperti permainan kami yang pertama, aku hanya diam saja menyaksikan permainan Mbak Ratna yang agresif dan kutunggu sesuatu yang istimewa, gerakan dinding kemaluannya, yang belum pernah kutemui dengan wanita yang lain.
Ketika pembaca membaca pengalamanku ini, aku beruntung dapat meneruskan hobiku di kota J ini, karena selalu saja ada pembaca yang ingin berkenalan dengan mengirimkan email ke alamatku. Dan dari perkenalan tersebut, walaupun tidak semuanya, ada beberapa yang berani mencoba untuk bercinta denganku. Dan kepada pembaca yang ingin berkenalan dan siapa tahu juga tertarik untuk mencoba, aku tunggu emailnya. Salam buat Ratna (yang melepas keperjakaanku, baca kisahku selanjutnya, Anggi, Mbak Vian (cewek Chinese yang seksi), Mbak Ratna (yang liar) yang sudah berbagi kepuasan denganku.

September 6, 2024 Bandung One Night Stand

Bandung One Night Stand

Malam itu aku berangkat ke Bandung dgn kereta eksekutif. Rasanya malas harus pergi malammalam, tp karena tugas kantor besok harus bertemu klien di sana, maka akupun berangkat juga. Suasana gerbong malam itu tdk terlalu ramai, memang bukan waktu liburan, jadi tak banyak penumpang. Kusetel tempat dudukku agar aku bisa tiduran. Tetapi baru saja aku mau memejamkan mata, pramugrari mengantarkan makanan kecil dan minuman hangat.

Mau teh atau kopi, Mas? tanya pramugari itu.
Aku mengusap wajahku sebelum menjawabnya,
Teh saja. Sesaat kudongakkan wajahku, seperti kukenali wajah pramugari yg menawarkan kopi itu.
Maaf, Neng. Apa kita pernah bertemu ya? tanyaku sebelum ia beranjak ke kursi berikutnya.
Ia menatapku lekatlekat lalu tersenyum riang.
Ya ampun, Randi. Apa kabar?
Lina, kan?

Iya. Sebentar ya, aku selesaikan dulu tugasku. Tanpa menunggu jawabanku, Lina bergegas menyelesaikan tugasnya.
Beberapa menit kemudian ia lewat sambil meletakkan secarik kertas di meja makanku.
Ke gerbong mesin saja, tugasku sdh selesai. Letaknya dua gerbong di depan gerbong ini. Pesan Lina dlm kertas itu.
Aku menggeliat sebentar sebelum bangkit dan beranjak dari tempat dudukku. Tak ada yg memperhatikanku. Di samping hanya lampu tidur yg dinyalakan, ternyata beberapa penumpang yg ada di gerbongku sdh terlelap semua. Aku bergegas menuju ke gerbong mesin dgn berhatihati agar tdk menimbulkan curiga orang lain.

Lina sdh berada di sana, duduk di atas kotak kayu. Gadis itu langsung menghambur dlm pelukanku begitu aku menghampirinya. Aku pun membalasnya dgn pelukan yg erat. Kurasakan toketnya yg besar mengganjal di dadaku. Sesaat darah lakilakiku berdesir.
Sdh lama sekali sejak kita lulus SMA ya. Senang rasanya aku bisa bertemu kamu lagi, kata Lina di telingaku.
Aku juga. Kangen deh rasanya sama kamu?

Ah, gombal. Kamu memang nggak berubah dari dulu, masih pandai merayu.
Suara bising mesin membuat kami harus berbicara dekatdekat telinga. Kesempatan itu kugunakan untuk menggodanya. Aku purapura akan membisikinya, tp bukan itu yg kulakukan, aku malah mengecup pipi gadis itu.
Ahhh, Randi nakal, gerutunya dgn suara manja.

Bukannya berhenti, aku malah memindahkan bibirku mengecup bibirnya. Kali ini Lina tak bisa berbicara lagi, karena aku telah mengulum bibirnya beberapa saat lamanya. Ia sampai gelagapan dibuatnya. Kulepaskan ciumanku sesaat saja, selanjutnya kembali kupagut bibirnya yg tipis merah merekah itu. Lina membalasku. Gadis itu memelukku eraterat, terasa sepasang toketnya mulai mengencang. Aku tahu, dia sedang bergairah.

Kupindahkan mulutku menjelajahi lehernya yg jenjang. Hanya beberapa saat saja di situ. Aku turun lagi sambil membuka kancing kemeja dinasnya. Kujilati pangkal toketnya yg masih tertutup BH berwarna putih. Kutarik Bhnya ke bawah sehingga toketnya terlihat semakin mengencang. Kujilati putingnya yg mengacung. Lina menggelinjang berkalikali. Kuremasremas sepasang daging kenyal itu dgn lembut. Lina mendesahdesah perlahan.
Ohhhaahhhh.terusin, sayangohhhh.enak sekali.

Bergantiganti mulutku mengulumi puting kedua toketnya. Sesekali kuhisap dan kugigitgigit lalu kuusapusap dgn lidahku. Lina merintih lirih. Aku tahu birahi gadis itu semakin meninggi, terlihat dari toketnya yg semakin mengeras dan putingnya yg semakin mengacung.
Kuhentikan permainanku di sana. Sepasang toket Lina tampak memar dan memerah karena permainanku tadi. Kubopong tubuh dan kududukkan di atas kotak kayu yg tadi ia duduki. Kutarik sebelah kakinya agar berada di atas kotak sedangkan yg satu lagi tetap menjuntai ke bawah. Kusingkapkan rok spannya ke arah perut. Kini selangkangan gadis itu terbuka lebar. Pangkal pahanya masih tertutup celana dlm berwarna merah muda. Aku jongkok di hadapan selangkangannya. Kuremasremas kemaluannya yg masih tertutup celana dlm dgn ujungujung jemariku.
Oh, ah.. Lina kembali menggelinjang.

Aku semakin tak tahan. Kuperosotkan celana dlm gadis itu, lalu kumasukkan celana dlmnya ke saku celanaku. Kini bisa kunikmati pemandangan yg indah terpampang di hadapanku. Tanganku pun segera beraksi pada pangkal paha gadis itu. Kemaluan Lina tampak bersih dan mulus tanpa sehelai rambut pun yg menghiasi sekitar bibir kemaluannya. Rupanya ia begitu memperhatikan bagian yg sangat pribadi itu. Kusibakkan bibir kemaluannya dgn jemari tangan kiriku. Lalu telunjuk tangan kananku mulai menggelitik klitorisnya.
Ohhh.Ohhh.Ahhhh Lina mendesah lirih. Tubuh gadis itu meliukliuk seperti cacing kepanasan.
Ia memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Rupanya Lina sdh tak sanggup lagi menahan gejolak birahinya. Aku semakin bersemangat untuk mempermainkan kemaluannya.

Kugelitik bibir dlm kemaluannya yg lembut dan terasa basah. Kemudian dgn lembut telunjukku menerobos masuk lubang kemaluannya yg basah dan licin oleh lendir birahi gadis itu.
Ahhhh.Uhhhh.Ssshhhh Kembali Lina mendesahdesah kenikmatan ketika telunjukku menekannekan Gspot yg ada di dlm kemaluannya.

Kurasakan otototot seputar lubang kemaluannya berkontraksi menjepit jemariku.
Aku ingin membuat Lina semakin melayg. Maka mulutku pun tdk tinggal diam. Kukecup bibir kemaluannya dgn lembut diiringi lidahku yg kemudian menarinari sekitar klitorisnya. Kurasakan jari telunjukku yg masih di dlm lubangnya semakin basah oleh lendirnya yg semakin deras mengalir. Lidahku terus bermainmain di sekitar klitoris dan bibir kecilnya. Sesekali kutekan klitorisnya dgn lidahku dan kurasakan bagian itu semakin menonjol dan mengeras. Yg kubaca di buku, bila wanita sdh begitu, berarti birahinya sdh memuncak.
Ohhhh.Randiiii Aku sdh nggak tahan lagi bisik Lina dgn suara serak.

Aku belum mau berhenti. Bisikan Lina justru membuatku semakin bersemangat untuk merangsang birahinya. Kini kutarik jari telunjukku dari dlm lubang kemaluannya. Kuhunjamkan mulutku pada kemaluannya. Kuhisap, kugelitik dan kujilati semua yg ada di sana. Lina semakin histeris.

Ouww!! pekik Lina tertahan. Gadis itu meremasremas rambut kepalaku sambil kedua pahanya menjepit kepalaku. Mulutku semakin terbenam dlm kemaluannya dan membuatku sulit bernafas. Aku pun semakin menggila. Kuhisap klitorisnya dgn keras.
Ouwww!! Lina menjerit lagi.

Ohhh..Randii, ayolahaku sdh nggak kuat lagi..
Lina melepaskan jepitan pahanya. Aku tahu isyarat itu. Kuangkat kepalaku dari pangkal pahanya. Kusapu mulutku yg basah dgn punggung tanganku. Kupandangi sebentar wajah Lina yg pucat karena menahan birahinya yg semakin memuncak. Aku jadi kasihan melihatnya. Kubuka ikat pinggangku dan kuperosotkan celanaku sebatas lutut berikut celana dlmku. Batang k0ntolku sdh tegang dan mengacung pertanda siap untuk bertempur.

Lina segera menggenggam kemaluanku, membelaibelainya sebentar, kemudian menariknya dan mengarahkannya pada lubang kemaluannya sendiri. Aku merapatkan ujung kemaluanku pada permukaan lubang kemaluan gadis itu. Setelah tepat, kutekan perlahan sehingga batang batang k0ntolku menerobos lubang meqinya perlahanlahan. Kutekan lebih dlm lagi sampai seluruh kemaluanku amblas dlm lubang kemaluannya.

Ohhhhhhh.. Lina mendesah panjang ketika batang kemaluanku menerobos masuk lubang meqinya.
Lina merebahkan tubuhnya 45 derajat bertumpu pada kedua sikunya. Kutarik kedua kaki gadis itu ke atas pundakku sebelum aku mulai menggerakkan kemaluanku. Dgn posisi itu kemaluanku terasa semakin dlm menembus meqinya. Itu juga membuatku merasa nikmat. Dgn teratur aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Kemaluanku pun keluar masuk lubang meqinya dgn teratur dan berirama.
Ohhhyaaahhh.ayo sayang bergerak makin cepat, aku sdh nggak tahan lagi, bisik Lina diiringi desahan dan desisan nikmat.

Aku pun semakin bersemangat mengocok. Saking bersemangatnya suara kemaluan kami yg beradu sampai mengeluarkan suara berdecakdecak. Tetapi semua teredam oleh bunyi berisik suara mesin kereta. Aku terus memacu menuju ke puncak dan agaknya Lina akan sampai lebih dulu. Kurasakan tubuh Lina semakin menegang. Otototot di seputar lubang kemaluannya juga semakin terasa kencang menjepit kemaluanku. Lendir yg ia keluarkan juga semakin deras.

Ayo Randi.aku sdh mau keluar nihh kata Lina dgn nafas tak beraturan.
Aku justru menghentikan gerakanku. Kutarik tubuh Lina agar berubah posisi. Kusuruh ia menungging dgn paha terbuka. Kuarahkan batang k0ntolku pada lubang kemaluannya yg terbuka lebar. Sesaat saja langsung amblas ditelan lubang meqinya. Sesaat kemudian aku sdh kembali bergerak maju mundur. Kali ini gerakanku semakin tak beraturan.
Yahhhh.ayoooterus sayangaku mau keluar nihh kata Lina lagi.
Sabar, sayang. Aku juga mau keluar. Kita keluarin samasama, sahutku.

Kucengkeram pinggang gadis itu dan kugerakkan kemaluanku semakin cepat. Kurasakan dindingdinding meqi Lina semakin mengeras dan menjepit kemaluanku. Kurasakan tubuhku juga semakin menegang. Ada sesuatu yg seolah bergerak dari sekujur tubuhku menuju satu titik pada kemaluanku.
Aku menekan dgn hentakan keras. Kupeluk tubuh Lina dari belakang dgn erat, sehingga kemaluan kami berpaut erat sekali. Tubuhku mengejan dan muncratlah berkalikali air maniku menyembur dlm meqi gadis itu. Kurasakan Lina pun mengejan dan membanjirlah lendirnya menyambut air spermaku.

Sesaat kemudian tubuhku terasa lemas. Kupeluk tubuh Lina dari belakang tanpa melepaskan kemaluanku dari dlm lubang kemaluannya. Kurasakan juga tubuh Lina yg tadi tegang, sekarang sdh kembali normal.
Ouw! pekik Lina manakala batang kemaluanku kucabut dari dlm lubang kemaluannya.
Aku duduk di atas kotak itu dan kutarik tubuh Lina ke atas pangkuanku. Kutatap wajahnya yg memerah dgn titiktitik keringat menghiasi dahinya. Kukecup dgn mesra bibirnya yg basah.

Thanks ya, Randi, bisik gadis itu. Aku hanya tersenyum membalasnya.
Kupeluk tubuh gadis itu dgn erat lalu kukecup puting susunya. Ia menggelinjang.
Ahh, kamu memang nakal. Mau lagi? tawarnya. Aku hanya mengangguk.
Sdh satu jam. Nanti aku dicari temantemanku, sahut Lina sambil merapikan pakaiannya.
Aku seolah menunjukkan wajah kecewa.
Jangan marah dong. Nanti kan kita bisa ketemu lagi. Hari ini aku off, besok pagi aku baru kembali ke Jakarta. Kamu nginap dimana? tanya Lina sambil mengecup pipiku.

Aku pun memberikan alamat Hotel tempat aku akan menginap yg rupanya tak jauh dari mess pegawai kereta api tempat ia menginap. Setelah terlihat rapi, Lina pun meninggalkanku. Aku baru sadar setelah ia tak kelihatan lagi, kalau celana dlmnya masih kukantongi. Aku pun segera merapikan pakaianku lalu kembali ke tempat dudukku. Biarlah celana dlm itu kusimpan sebagai kenangan kalau nanti malam ia tak jadi datang.

Aku gembira sekali karena tender yg kuurus berhasil. Setelah makan malam dgn klienku, aku kembali ke kamar hotelku. Sebenarnya aku ingin menikmati kota Bandung di malam hari, tp kuurungkan niatku karena masih ada dua hari lagi aku di sana. Setelah menggosok gigi, aku mengenakan kaos oblong dan celana pendek lalu merebahkan diri di atas sofa sambil menonton acara di televisi. Ketika sedang menggantiganti channel TV, ponselku berdering. Rupanya Lina yg menelpon. Ia sdh berada di lobi hotel.
Naik saja langsung ke kamar 225, kataku.
Oke, sahut Lina.

Tak lama kemudian Lina masuk dan mengunci pintu kamarku. Gadis itu mengenakan kaos putih dan celana jeans warna hitam, tampak serasi dgn tubuhnya yg atletis. Ia membawa soft drink dan makanan ringan kesukaanku, kacang mede.
Kirain nggak jadi datang, kataku.
Harus dong, kan celana dlmku masih ada sama kamu. Masak aku pulang ke Jakarta nggak pakai celana dlm, seloroh gadis itu.
Memangnya cuma bawa satu?
Heeh, jawabnya singkat sambil tersenyum menggoda. Aku tahu ia hanya bergurau.

Sesaat kemudian kami sdh tenggelam dgn candaan dan gurauan ringan sambil makan kacang mede. Sesekali kami saling menyuapi, berbagi minum lalu main gelitikgelitikan, persis seperti anakanak ABG saja. Tp itu membuatku merasa fresh lagi.
Pukul sembilan malam makanan kecil dan minuman kami sdh habis. Lina pamit ke kamar mandi. Aku mematikan lampu ceiling dan menyalakan lampu baca di meja sebelah tempat tidur. Aku masih menonton televisi. Tibatiba Lina duduk di pangkuanku dgn posisi mengangkangiku.

Masih mau lanjutin yg tadi pagi? bisiknya di telingaku. Nafasnya terasa panas menyulut gairahku. Belum sempat kujawab, Lina sdh melumat bibirku dgn bernafsu. Aku pun membalasnya dgn penuh nafsu pula. Bibir kami saling mengulum dan lidah kami saling mengait. Sementara kedua tangan Lina memeluk kepalaku, tanganku sdh menerobos masuk ke balik tshirtnya.

Aku langsung mencari kancing BH di punggungnya. Sekali tarik saja kancing BH gadis itu sdh terlepas. Tanganku segera berpindah ke depan dan menemukan sepasang bukit kenyal dgn puncaknya yg mungil. Kusingkapkan ke atas tshirt dan BHnya, tampaklah sepasang toket yg putih montok namun tdk terlalu besar untuk ukuran gadis Indonesia.

Kuremasremas dgn lembut onggokan daging mengkal sebesar buah apel Fuji itu dan kupilinpilin putingnya yg mungil dan kenyal itu. Lina menggelinjang dan mendesah lirih. Secara bergantian kusapukan lidahku di atas toket gadis itu, kugelitik putingnya sambil sesekali kuhisap dgn keras. Desahan Lina makin panjang.

Sshhhhh.aaaahhhh seperti desisan kobra Lina mendesis dan mendesah meresapi permainan lidahku di atas toketnya.
Tangannya meremasi rambut kepalaku sambil sesekali menekan kepalaku ke dadanya sehingga membuat wajahku tenggelam di atas toketnya yg empuk. Semakin lama kurasakan toket gadis itu semakin mengeras dan putingnya semakin menonjol. Itu adalah tanda birahi gadis itu mulai naik.

Kutanggalkan tshirt dan BH Lina, sementara ia juga menarik kaos oblong yg kukenakan. Bagian tubuh atas kami sdh telanjang sekarang. Kini giliran Lina yg agresif. Gadis itu menciumi leherku, menggelitik bagian bawah telingaku, lalu turun menjilati putingku yg kecil dan meremasi dadaku yg lumayan bidang. Bukan membuatku terangsang, malah membuatku geli. Aku tdk tinggal diam. Kuangkat tubuh Lina dan kubarangkan di sofa dgn punggung berada di sandaran sofa.

Kembali mulutku bermainmain di seputar dada gadis itu. Kuremasremas toketnya yg semain lama semakin mengeras. Kupilinpilin, kujilati dan kuhisap putingnya yg juga semakin mengeras sambil sesekali kugigitgigit lembut. Lina mendesahdesah dibuatnya.
Ouhhhouhhaahhh..aahhhshhhhh.. Tubuh gadis itu meliukliuk seperti cacing kepanasan.

Setelah puas bermain di sana, mulutku turun ke bawah dan menjilati perutnya, kemudian turun menggelitik pusarnya yg bersih. Kembali tubuh Lina meliukliuk, entah geli atau semakin terangsang. Kubuka kancing jeans gadis itu. Kutarik resletingnya lalu kutanggalkan segera. Tinggal celana dlm yg kini membungkus tubuh sexy itu. Itu pun tdk bertahan lama karena aku segera menariknya. Dan tampaklah tubuh Lina yg sexy itu polos tanpa sehelai kain menutupinya.

Kuciumi sepasang pahanya yg putih mulus, bersih tanpa ada cacat sedikit pun. Semakin lama mulutku semakin ke atas dan berhenti pada pangkal pahanya. Kutemukan seonggok daging terbelah tanpa bulu yg biasa menghiasi kemaluan orang dewasa.

Rajin cukur ya? tanyaku setengah berbisik yg dibalas dgn anggukan kepala oleh Lina disertai senyuman manis dan pasrah.
Kesibakkan sepasang bibir luar atau yg biasa disebut labia mayora yg berwarna kehitaman. Di dlmnya kutemukan sepasang bibir dlm berwarna merah muda yg tipis dan halus dan sedikit basah, sehingga tampak mengkilap di bawah bias sinar lampu. Bagian itu dinamakan labia minora. Di ujung atas ada bagian yg kecil dan menonjol, itulah klitoris atau kelentitnya. Dari buku yg kubaca, bagian itu adalah bagian yg paling gampang terangsang. Maka akupun mendekatkan mulutku ke sana. Kusapukan lidahku pada bibir kecilnya lalu berhenti pada klitorisnya. Dgn ujung lidahku kugelitik bagian itu sambil sesekali kutekantekan, terasa semakin lama semakin menonjol. Benar saja, Lina semakin kepayahan dibuatnya.

Ohhhhohhhahhhhahhhh desah Lina kenikmatan. Terusin sayangohhh enak sekali sayang
Pada bagian bawah ada lubang kecil tempat keluar air seni, itu adalah lubang kencing. Lalu di bawahnya ada lubang yg basah dan licin, itu adalah lubang senggama atau biasa disebut meqi. Dari lubang itu melelh air lendir birahi gadis itu. Lidahku berpindah ke sana menjilat cairan bening yg rasanya asin itu, lalu ujung lidahku menerobos masuk dan menggelitik rongga meqinya.
Ohhhohhh.aahhhhhhhh kembali Lina mendesahdesah kenikmatan.
Tangannya dgn kuat mencengkeram kepalaku dan membuat rambutku berantakan. Sesekali pahanya menjepit kepalaku sehingga mulutku semakin tenggelam dlm kemaluannya.

Ohhh, Randi Sayangggaku sdh nggak tahan nih bisik Lina dgn nafas tersengalsengal.
Nampaknya ia sdh tak sanggup menahan gejolak birahinya yg semakin tinggi.
Aku melepaskan mulutku dari kemaluannya. Kuseka mulutku yg penuh lendir dgn punggung tanganku. Kemudian aku merebahkan diri di atas sofa sambil kutarik tubuh Lina untuk bangun. Gadis itu segera membuka celana pendekku berikut celana dlmku. Kini kami sdh samasama telanjang bulat. Pakaian kami berserakan di lantai. Kami tdk peduli lagi.

Lina segera menggenggam batang kemaluanku yg tegang mengacung dan berdenyutdenyut. Dgn lidahnya disapunya ujung batang k0ntolku yg botak dan licin itu, aku menggelinjang dibuatnya. Tangan gadis itu dgn cekatan mengocokngocok batang kemaluanku. Sekalisekali Lina mengulum batang k0ntolku dlm mulutnya. Rasa hangat dan lembut membuatku semakin terangsang.
Sdh sayang, yuk kita lanjutin, bisikku menyudahi permainan itu.

Aku duduk tegak dan punggungku merapat pada sandaran sofa dgn kaki menjuntai ke lantai. Lina berdiri mengangkang di atas kedua pahaku yg merapat. Kutarik pinggangnya perlahan. Lina menurunkan pantatnya perlahan. Kupegangi batang kemaluanku agar mengarah ke lubang meqi gadis itu. Setelah tepat kutarik pinggang Lina dan ia pun menurunkan pantatnya makin rapat ke atas pangkuanku. Maka amblaslah kemaluanku menerobos masuk ke dlm lubang kemaluannya.

Lina mengangkat ke dua kakinya ke atas sofa dan merebahkan tubuhnya ke arahku. Dgn berpegangan pada sandaran kursi dan aku menahan pantatnya dgn kedua tanganku, Lina mulai bergerak naik turun. Kemaluanku dgn sendirinya keluar masuk dgn teratur. Tp posisi itu tdk berlangsung lama, karena kami jadi tdk leluasa beraksi.

Lina merubah posisi masih tetap di atas, tp kali ini kami saling berhadapan. Lina mencondongkan tubuhnya ke arahku dan bertumpu pada sandaran sofa. Kembali ia menggerakkan pantatnya naik turun. Sementara aku memegangi pinggangnya sambil sesekali menekan dan menahannya beberapa detik sehingga batang k0ntolku menerobos semakin dlm.
Ohhhhh.. setiap kali aku melakukan itu, Lina mendesah panjang. Ia pasti merasakan batang kemaluanku menembus sampai ke permukaan rahimnya. Dan aku yakin ia merasakan kenikmatan yg luar biasa.

Sepuluh menit sdh berlalu, tp kami samasama belum mau orgasmu. Kuangkat tubuh Lina tanpa melepaskan kemalun kami. Lina memelukku erat sekali saat aku menggendongnya, sehingga kemaluan kami seolah lengket karena berpaut begitu erat.
Ouw..ouwahhhhh jeritjerit lirih Lina tertahan ketika aku menggendong dan membawanya ke tempat tidur. Kemaluanku melesaklesak dlm meqi Lina ketika aku berjalan.

Sesampainya di tempat tidur kurebahkan tubuh Lina dgn pantat tepat berada di tepi ranjang. Dgn posisi Lina tidur dan aku berdiri, aku lebih leluasa beraksi. Lina menarik bantal untuk mengganjal kepalanya. Kubka kedua paha gadis itu sehingga kemaluanku lebih leluasa lagi bergerak keluar masuk. Semakin lama lubang meqi Lina semakin licin oleh lendir birahinya.
Crett..cruttt suara kemaluan kami yg beradu seolah irama yg merdu mengiringi kami menuju ke puncak asmara. Aku terus bergerak dgn teratur. Semakin lama gerakan ku semakin cepat. Tubuh kami sdh bermandikan keringat meskipun kamar itu berAC.
Setengah jam telah berlalu, ketika Lina tibatiba memekik.

Aaaahhh..aku mau keluar, sayang
Segera kudorong tubuh Lina ke tengah ranjang, kami melakukan gaya missionari. Kedua kaki Lina terangkat lalu mengait pinggangku. Aku jadi tdk bisa bergerak. Kini giliran ia yg bergerak berputarputar. Kemaluanku melesaklesak dibuatnya. Tak lama akupun mulai merasakan tandatanda akan orgasme.
Ayo sayang, keluarin saja. Aku juga mau keluar, kataku.

Lina semakin cepat bergoyang. Dan tak lama kemudian ia memelukku eraterat. Akupun membalasnya. Tubuh kami bagai menyatu. Kemaluan kami seperti lengket. Sesaat tubuh kami samasama mengejang. Sedetik kemudian batang k0ntolku menembakkan air mani berkalikali yg segera disambut dgn lendir birahi gadis itu. Rongga meqi Lina terasa banjir oleh cairan bahagia kami yg menyatu.
Kami masih berpelukan erat selama beberapa menit, menikmati sisasisa kenikmatan yg baru saja mencapai puncaknya. Sembari mengatur nafas kami yg tdk beraturan. Aku menggulingkan badanku dgn posisi Lina di atas. Kemaluan kami masih menyatu. Tdk kami lepaskan sampai kami tertidur.

Pukul empat pagi kami terbangun karena kedinginan. Kami kembali samasama terangsang. Lalu kami bersenggama lagi sampai kami berkeringat dan kelelahan. Pukul setengah enam pagi Lina mengajakku mandi karena jam sembilan ia harus kembali ke Jakarta.
Setelah mengisi penuh bath tub dgn air hangat dan sabun rendam, aku kembali ke kamar dan membopong tubuh Lina ke sana. Ku turunkan dgn perlahan tubuh gadis itu ke dlm bak mandi lalu aku pun menyusul masuk juga. Kuambil spon lalu kami bergantian saling membersihkan tubuh kami dgn sabun mandi. Setelah bersih, aku membuka tutup lubang bath tub itu sehingga air sabun itu terkuras habis, lalu aku mengganti dgn air yg baru. Lalu kami saling berbilas. Shower kunyalakan sehingga kami seolah mandi di bawah air hujan.
Kami saling berhadapan. Kuambil shower dan kubersihkan sisasisa busa sabun di tubuh gadis itu. Lalu gantian Lina menyirami tubuhku. Kami melakukannya dgn bergantian.

Ketika aku membersihkan meqinya, aku kembali terangsang. Perlahan batang k0ntolku pun ereksi. Lina yg melihat hal itu langsung membelaibelai kemaluanku.
Kayaknya dia mau lagi tuh, godanya.
Ini juga, kayaknya memanggilmanggil agar ini masuk ke sana, balasku sambil menunjuk batang k0ntolku dan meqinya.
Kita lakukan spontaneous sex yuk, ajaknya.
Oke, siapa takut.

Spontaneous sex itu seks yg dilakukan dgn spontan dan cepat, tanpa pemanasan. Biasanya karena buruburu, tp nggak tahan lagi, padahal harus bernagkat ke kantor. Atau karena di lift, jadi horni nggak bisa tahan lagi, ya sdh main saja. Atau seperti kami ini, sedang mandi, tibatiba terangsang laluayo saja

Kami samasama keluar dari air. Kami berpelukan sebentar, berciuman dgn panas lalu sesaat kemudian Lina segera mengambil posisi. Ia membungkukkan tubuhnya dgn berpegangan pada tepi bak mandi dgn paha terbuka. Aku berada tepat di belakangnya. Kurabaraba sebentar kemaluan Lina.
Ternyata sdh basah ya, kataku sambil ketawa.

Iya, kayaknya anuku nggak bisa tahan lihat anumu berdiri, balasnya sambil tertawa.
Kugenggam batang kemaluanku dan kuarahkan pada lubang kemaluan Lina. Ia menundukkan tubuhnya lebih rendah lagi sampai menungging, sehingga lubang meqinya tampak jelas terbuka dan akupun lebih mudah mengarahkan batang k0ntolku ke sana. Kutekan perlahan dan kudorong dgn lembut, maka amblaslah kemaluanku ditelan kemaluan Lina.
Kupegang pinggang Lina dan aku mulai bergerak maju mundur dgn teratur dan berirama. Kadangkala Lina pun menggerakkan pantatnya maju mundur, sehingga tubuh kami saling beradu.

Ohhh..yaaahhhhhayosayang.lebih cepat lagi bisik Lina sambil mendesah.
Oh..yaaaahhhh balasku dgn nafas memburu.
Gerakanku semakin lama semakin cepat dan tdk beraturan. Aku sengaja agar permainan itu segera selesai. Dan itu memang inti permainan spontaneous sex. Lina melakukan hal yg sama. Dgn jarijarinya sendiri ia menggelitik klitorisnya. Dan tak sampai sepuluh menit, Lina sdh menjerit.

Aaahhhh!! Aku mau keluar sayang.!!!
Oooohhhhhkeluarin saja sayang, aku juga mau keluarrrr.
Aku terus memburu. Gerakanku makin cepat. Kami saling memacu untuk menuju puncak kenikmatan kami. Tubuh Lina sampai terguncangguncang. Toket gadis itu sampai terlempar ke kanan ke kiri. Tak lama kemudian aku menekan batang k0ntolku dlmdlm. Kupeluk tubuh Lina dan kucengkeram kedua toketnya dari belakang. Lina juga mendorong pantatnya ke belakang. Terasa batang k0ntolku menancap begitu dlm di lubang meqinya.

Ohh yaaa!!!! jerit Lina ketika ia mencapai orgasme.
Aku pun menyusul beberapa detik kemudian dgn ditandai mucratnya air maniku berkalikali.
Hehh..hhhogghhhhhh..aaaaaahhhhhhh desah suara Lina dgn nafas tersengalsengal.
Ternyata nikmat juga ya main cepat seperti ini. Kamu memang hebat, Randi sayang.
Kamu juga hebat, bisikku sambil mengecup pipinya.
Aku melepaskan pelukanku. Kami duduk di tepi bak mandi. Kulihat dada Lina turun naik karena nafas yg tdk beraturan. Tubuh gadis itu tampak sensual dgn bintikbintik air dan keringat menghiasi sekujur tubuhnya, ditambah rambutnya yg basah tergerai, benarbenar wonderful girl.

Thanks ya, sayang, bisik Lina sambil mengecup bibirku lembut.
Thanks juga, balasku sambil memeluknya.
Lain kali, boleh nggak aku minta? tanya Lina berharap.
Aku tersenyum dan menatapnya lembut.
Mau berapa kali? tanyaku di telinganya.
Ratusan, sahut Lina meniru iklan Wafer Tango.
Kami pun segera berbilas. Setelah berpakaian dan sarapan Lina pun berpamitan. Aku menciumnya sekali lagi sebelum dia pergi.
CDnya nggak dibawa? tanyaku mengulurkan celana dlm yg kemarin kukantongi.
Nggak usah, buat kamu saja. Biar selalu ingat sama aku, jawabnya sambil tertawa sebelum membuka pintu dan pergi.

Setelah Lina pergi, aku merebahkan diriku di tempat tidur. Aku mau tidur saja. Tubuhku terasa lelah sekali. Lina benarbenar menguras habis tenagaku. Sebelum tidur aku minum multi vitamin dan STMJ agar nanti bangun tubuhku kembali prima.

September 6, 2024 Kunjungan Seorang Sahabat Lama

Kunjungan Seorang Sahabat Lama

Segera saja kepala penis itu lenyap ke dalam mulut Ana, dan Jodi melihat bibir itu bergerak membungkus seluruh batang penisnya. Tangannya membelai rambut panjang Ana dengan lembut, menahan kepalanya saat seluruh bagian batang penisnya lenyap dalam mulut Ana. Kepalanya segera bergerak maju mundur pada batang penis itu, suara basah dari hisapan mulutnya segera terdengar.

Kembali, mereka mendengar pintu kamar mandi dibuka, dan Jodi mengeluarkan penisnya dari mulut Ana dengan cepat. Agak kesulitan dia memasukkan penisnya kembali dalam celananya dan segera duduk kembali di kursinya, menutupi perbuatan mereka. Roy duduk dan memberi Ana ciuman kecil, tak tahu kalau istrinya baru saja mendapatkan sebuah batang penis yang lain dalam mulutnya.
Mereka kembali mendapatkan kesempatan sekali lagi di malam itu, dan mereka berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin. Bayi mereka menangis di lantai atas, Roy berinisiatif untuk pergi melihatnya. Ana lebih dari senang mengijinkannya. Dia sangat menginginkan penis itu, tapi dia tak mampu berbuat apaapa. Meskipun mendapatkannya di dalam mulutnya tak mampu meredakan gairahnya.

Mereka dapat mendengar bunyi langkah kaki Roy yang menaiki tangga, dan Ana langsung berdiri. Dia tak pernah seagresif ini! Tapi kehausannya akan penis itu mampu mengubah tabiatnya. Hanya sekedar untuk segera melihatnya lagi! Dia langsung berlutut di antara paha Jodi, dan Jodi segera membukanya untuknya..

Tangan mungilnya dengan cekatan melepaskan kancing dan resleitingnya, dan dia langsung membukanya dalam sekejap. Ana meraih ke dalam celana dalam Jodi dan mengeluarkan penis kerasnya. Vaginanya langsung basah hanya dengan memandangnya saja. Tangannya yang kecil mengocoknya, saat lidahnya menjilati dari pangkal batang penis Jodi hingga ke ujung.

Sekali lagi, dia kembali memasukkannya ke dalam mulutnya. Menghisapnya dengan rakus hingga mengeluarkan bunyi, tak menghiraukan resiko kepergok suaminya. Jodi mendengarkan dengan seksama gerakan dari lantai atas, memastikan Roy tidak turun ke bawah.

Jodi menatapnya. Bibirnya membungkus batang penisnya dengan erat, kepala penisnya tampak bekilatan basah terkena lampu ruangan ini saat itu keluar dari mulutnya, mata Ana terpejam menikmati. Dia ternyata begitu pintar memberikan blow job! Jodi sangat ingin menyetubuhi wanita ini, meskipun hanya sesaat.

Gairahnya sudah tak terbendung lagi, dan dia memegang pipi Ana, batang penisnya keluar dari mulutnya. Jodi berdiri, penisnya mengacung tegang, dan Ana berdiri bersamaan, memandangnya dengan api gairah yang sama. Jodi menciumnya, lembut, melumat bibirnya. Dia menciumnya lagi, dan lidah mereka saling melilit. Lalu ciuman itu berakhir. Jodi memutar tubuh Ana membelakanginya. Ana merasakan tangan Jodi berada pada vaginanya, berusaha melepaskan kancing celananya.
Jangan.. desahan lirih keluar dari mulutnya.
Dia tak tahu mengapa kata itu keluar dari mulutnya saat dia ingin mengucapkan kata ya. Celananya jatuh hingga lututnya, memperlihatkan pantatnya yang dibungkus dengan celana dalam katun berwarna putih. Jodi merenggut kain itu dan langsung menyentakkannya ke bawah, membuat pantat Ana terpampang bebas di hadapannya. Jodi masih dapat mendengar suara gerakan di lantai atas jadi dia tahu dia aman untuk beberapa saat, dia hanya perlu memasukkan penisnya ke dalam vaginanya, walaupun untuk se detik saja!

Nafas keduanya memburu, dan Ana sedikit menundukkan tubuhnya ke depan, tangannya bertumpu pada meja makan, membuka lebar kakinya. Jodi jauh lebih tinggi darinya, penisnya berada jauh di atas bongkahan pantatnya. Dia sedikit menekuk lututnya agar posisinya tepat. Dia semakin menekuk lututnya, sangat tidak nyaman, tapi dia sadar kalau dia terlalu tinggi untuk Ana. Dia tahu dia akan merasa kesulitan dalam posisi ini, tapi hasratnya semakin mendesak agar terpenuhi segera.

Dia menggerakkan pinggulnya ke depan, ujung kepala penisnya menyentuh bibir vaginanya. Ana sudah teramat basah! Dan itu semakin mengobarkan api gairah Jodi. Saat bibir vagina Ana sedikit mencengkeram ujung kepala penisnya, Jodi tahu jalan masuknya sudah tepat. Dia mendorong ke depan. Ana menghisapnya masuk ke dalam, separuh dari penisnya masuk ke dalam dengan cepat.

Ana mendesah, merasa Jodi memasukinya. Jodi mencengkeram pantat Ana dan memaksa memasukkan penisnya semakin ke dalam. Batang penisnya sudah seluruhnya terkubur ke dalam cengkeraman hangatnya. Jodi mulai menyetubuhinya dari belakang, menarik penisnya separuh sebelum mendorongnya masuk kembali, lagi dan lagi. Serasa berada di surga bagi mereka berdua. Jodi berada di dalam vaginanya hanya beberapa detik, tapi bagi keduanya itu sudah dapat meredakan gelora api gairah yang membakar.

Tibatiba Jodi mendengar gerakan dari lantai atas. Ana tak menghiraukannya, dia sudah tenggelam jauh dalam perasaannya. Jodi mengeluarkan penisnya dari vagina Ana. Sebenarnya Ana ingin teriak melampiaskan kekesalannya, tapi segera dia sadar akan bahaya yang mengancam mereka berdua, segera saja dia menarik celana dan celana dalamnya sekaligus ke atas. Saat Roy datang, mereka berdua sudah duduk kembali di kursinya masingmasing, gusar.

Jodi dan Ana menghabiskan sisa malam itu dengan gairah yang tergantung. Saat malam itu berakhir, Jodi segera bergegas pergi ke kamarnya dan langsung mengeluarkan penisnya. Hanya dibutuhkan 3 menit saja baginya bermasturbasi dan legalah.. Tapi bagi Ana, tidaklah semudah itu. Kamar tidurnya berada di lantai yang berlainan dengan kamar tamu yang dihuni Jodi, dan dia tak punya kesempatan untuk melakukan masturbasi. Bahkan Roy tak mencoba untuk bercinta dengannya malam itu! Seperempat jam ke depan dilaluinya dengan resah. Ana memberi beberapa menit lagi untuk suaminya sebelum dia tak mampu membendungnya lagi.

Dia turun dari tempat tidur, setelah memastikan suaminya sudah tertidur lelap. Dia mengendapendap menuju ke kamar tamu. Malam itu dia hanya memakai kaos putih besar hingga lututnya dan celana dalam saja untuk menutupi tubuh mungilnya. Dengan hatihati dia membuka pintu kamar Jodi, menyelinap masuk, dan menutup perlahan pintu di belakangnya. Jodi sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Ana berdiri di samping tempat tidur, memandang pria yang tertidur itu, memutuskan bahwa dia akan melakukannya. Ini tak seperti dirinya! Dia tak pernah seagresif ini! Dia tak pernah berinisiatif! Tapi sekarang, terjadi perubahan besar.

Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Jodi, Jodi tergolek tidur di atas kasur hanya memakai celana dalamnya. Ana mencengkeram bagian pinggirnya dan dengan cepat menariknya turun hingga lututnya, membebaskan penis Jodi yang masih lemas. Dengan memandangnya Ana merasakan desiran halus pada vaginanya. Dia tak percaya Jodi tak terbangunkan oleh perbuatannya tadi! Yah, baiklah, dia tahu bagaimana cara membangunkannya.

Ana duduk di samping Jodi, dengan perlahan membuka kaki Jodi ke samping. Tangan mungilnya meraih penis Jodi yang masih lemas menuju ke mulutnya. Rambut panjangnya jatuh tergerai di sekitar pangkal paha Jodi. Jodi setengah bangun, merasa nyaman. Penisnya membesar dalam mulut Ana, dan sebelum ereksi penuh, dia akhirnya benarbenar terjaga. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi ? istri sahabatnya sedang menghisap penisnya!

Dia mendesah, tangannya meraih ke bawah dan mengelus rambut panjang Ana saat dengan pasti penisnya semakin mengeras dalam mulut Ana. Merasakan penisnya yang semakin membesar dalam mulutnya membuat celana dalam Ana basah, dan dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun. Dia menghisap dengan berisik, lidahnya menjalar naik turun seperti seorang professional.

Jodi dapat mendengar bunyi yang dikeluarkan mulut Ana saat menghisap penisnya, dan dia dapat melihat bayangan tubuh Ana yang diterangi cahaya bulan yang masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Ana sedang memberinya blow job yang hebat. Untunglah dia bermasturbasi sebelum tidur tadi, kalau tidak pasti dia tak akan dapat bertahan lama.

Ana tak mampu menahannya lagi. Dia ingin vaginanya segera diisi. Dia sangat terangsang, dia sangat membutuhkan penis itu dalam vaginanya seharian tadi. Dikeluarkannya penis Jodi dari dalam mulutnya, dan berdiri dengan bertumpukan lututnya di atas tempat tidur itu. Tangannya menarik bagian bawah kaosnya ke atas dan menyelipkan kedua ibu jarinya di kedua sisi celana dalamnya dan mulai menurunkannya. Diangkatnya salah satu kakinya untuk melepaskan celana dalam itu dari kakinya. Kaki yang satunya lagi dan kemudian merangkak naik ke atas kasur setelah menjatuhkan celana dalamnya ke atas lantai. Nafasnya sesak, menyadari apa yang menantinya.

Diarahkannya batang penis Jodi ke atas dengan tangannya yang kecil dan bergerak ke atas Jodi, memposisikan vaginanya di atasnya. Jodi dapat merasakan bibir vagina Ana yang basah menyentuh ujung kepala penisnya saat Ana mulai menurunkan pinggulnya. Daging dari bibir vaginanya yang basah membuka dan kepala penis Jodi menyelinap masuk. Ana mengerang lirih, tubuhnya yang disangga oleh kedua lengannya jadi agak maju ke depan. Ana semakin menekan ke bawah, membuat keseluruhan batang penis Jodi akhirnya tenggelam ke dalamnya.

Erangan Ana semakin terdengar keras. Dia merasa sangat penuh! Jodi benarbenar membukanya lebar! Ana semakin menekan pinggulnya ke bawah dan dia mulai menciumi leher Jodi, berusaha menahan Jodi di dalam tubuhnya. Bibir mereka bertemu dan saling melumat dengan bernafsu. Lidah Ana menerobos masuk ke dalam mulut Jodi, menjalar di dalam rongga mulutnya saat dia tetap menahan batang penis Jodi agar berada di dalam vaginanya.

Jodi membalas lilitan lidah Ana, tangannya bergerak masuk ke balik kaos yang dipakai Ana, bergerak ke bawah tubuhnya hingga akhirnya tangan itu mencengkeram bongkahan pantat Ana. Tangannya mengangkat pantat Ana ke atas, membuat tubuhnya naik turun di atasnya ? Ana tetap tak membiarkan batang penis Jodi teangkat terlalu jauh dari vaginanya!

Tak menghiraukan keberadaan Roy yang masih terlelap tidur di kamarnya, mereka berdua berkonsentrasi terhadap satu sama lainnya. Tangan Jodi naik ke punggung Ana, menarik kaos yang dipakai Ana bersamanya. Ciuman mereka merenggang, Ana mengangkat tubuhnya, tangannya mengangkat ke atas saat Jodi melepaskan kaosnya lepas dari tubuhnya. Payudaranya terbebas. Jodi melihatnya untuk pertama kalinya. Di dalam keremangan cahaya, Jodi masih dapat menangkap keindahannya. Payudaranya yang tak begitu besar dengan puting susu yang keras menantang, dan dia menggoyangkannya dihadapan Jodi, menggodanya.

Jodi mengangkat tubuhnya, tangannya yang besar menahan punggung Ana saat dia menghisap putingnya ke dalam mulutnya. Ana menggelinjang kegelian saat lidahnya bergerak melingkari sebelah payudaranya sebelum mencium yang satunya lagi. Pada waktu yang bersamaan Jodi mengangkat pantatnya, masih berusaha agar tetap tenggelam dalam vaginanya, tapi bergerak keluar masuk dengan pelan. Tangannya meremas payudara Ana yang bebas, sedangkan mulutnya terus merangsang payudara yang satunya dengan mulutnya.

Ana memandang Jodi yang merangsang payudaranya, tangannya membelai rambut Jodi dengan lembut. Ana merasa penis Jodi bergerak keluar sedikit tapi tak lama kemudian masuk kembali ke dalam vaginanya. Dia merasa sangat nyaman, sangat berbeda di dalam tubuhnya. Dia mulai menggoyang, mengimbangi kocokan Jodi yang mulai bertambah cepat.

Jodi melepaskan mulut dan tangannya dari payudara Ana dan rebah kembali ke atas kasur. Ana mulai mengangkat pinggulnya naik ke atas hingga batang penis Jodi nyaris terlepas ke luar seluruhnya sebelum menghentakkan pinggulnya ke bawah lagi. Tangan Jodi kembali pada pantat Ana, meremasnya sambil memandangi wanita yang telah menikah ini menggoyang tubuhnya tanpa henti. Dengan tanpa bisa dibendung lagi erangan demi erangan semakin sering terdengar keluar dari mulut Ana.

Orgasme yang sangat dinantikannya seharian ini mulai terbangun dalam tubuhnya. Dengan meremas pantatnya erat, Jodi menggerakkan tubuh Ana naik turun semakin keras dan keras. Hentakan tubuh mereka saling bertemu. Nafas Ana semakin berat, Penis Jodi menyentak dalam tubuhnya berulang kali.

Dengan cepat orgasmenya semakin mendekat. Ana mempercepat kocokannya pada penis Jodi, menghentakkan bertambah cepat seiring orgasmenya yang mendesak keluar. Ana tak mampu membendungnya lebih lama lagi, pandangannya mulai menjadi gelap. Jantungnya berdegup semakin kencang, otot vaginanya berkontraksi, seluruh sendi tubuhnya bergetar saat dia keluar dengan hebatnya. Mulutnya memekik melepaskan himpitan yang menyumbat aliran nafasnya.

Melihat pemandangan itu gairah Jodi semakin memuncak, dia tak memberi kesempatan pada Ana untuk menikmati sensasi orgasmenya. Diangkatnya tubuh mungil wanita itu, dan membaringkan di sampingnya. Dia bergerak ke atas tubuh Ana dan Ana membuka pahanya melebar menyambutnya secara refleks.

Jodi memandangi kepala penisnya yang menekan bibir vagina Ana. Dengan pelan dia mulai masuk, dan mendorongnya masuk ke dalam lubang hangatnya. Ana mengangkat kakinya ke udara, membukanya lebar lebar untuknya. Jodi menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya.

Jodi memberinya satu dorngan yang kuat. Ana memekik, ombak kenikmatan menggulungnya saat batang keras itu memasuki tubuhnya. Jodi mulai menyetubuhinya tanpa ampun, Ana telah sangat membakar gairahnya. Jodi mengocokkan penisnya keluar masuk dalam vagina istri sahabatnya yang berada di bawah tubuhnya dengan cepat, kedua kaki Ana terayunayun di atas pantatnya yang menghentak.

Tempat tidur sampai bergoyang karena hentakan Jodi. Ana menggigit bibirnya untuk meredam erangannya yang semakin bertambah keras. Jodi mulai kehilangan kontrol. Penisnya keluar masuk dalam vagina Ana sebelum akhirnya, dia menarik keluar batang penisnya dengan bunyi yang sangat basah. Jodi mengerang, batang penisnya berdenyut hebat dalam genggaman tangannya. Sebuah tembakan yang kuat dari cairan kental putih keluar dari ujung kepala penisnya dan menghantam perut Ana, beberapa darinya bahkan sampai di payudaranya.

Ana menarik nafas, dadanya terasa sesak saat dia melihat tembakan demi tembakan sperma yang kuat keluar dari penis Jodi, dan mendarat di atas perutnya. Terasa sangat panas pada kulit perutnya, tapi semakin membakar gairahnya menyadari bahwa itu bukan semburan sperma suaminya, tapi dari seorang pria lain.

Akhirnya, sperma terakhir menetes dari penis Jodi, menetes ke atas rambut kemaluan Ana yang terbaring di depannya dengan kaki terpentang lebar. Dengan mata yang terpejam, Ana tersenyum puas.

Aku membutuhkannya bisiknya.

Mereka terdiam beberapa saat meredakan nafas yang memburu sebelum akhirnya mulai membersihkan tubuh basah mereka. Jodi mencium dengan lembut bibir Ana yang tersenyum. Ana memakai kaosnya dan menggenggam celana dalamnya dalam tangan, melangkah keluar dari kamar itu dengan perasaan yang sangat lega.

*****

Jodi bangun di keesokan harinya. Peristiwa semalam langsung menyergap benaknya, penisnya mulai mengeras. Dikeluarkannya batang penisnya dan perlahan mulai mengocoknya. Dia merasa sangat senang saat mendengar ada seseorang yang sedang mandi. Dimasukkannya penisnya kembali ke dalam celana dalamnya, bergegas memakai celana jeansnya dan bergegas keluar kamar dengan bersemangat, turun ke lantai bawah.

Dia berharap yang sedang mandi adalah Roy dan Ana ada di lantai bawah. Dia mendengar seseorang sedang membuat kopi di dapur. Dia segera ke sana dan ternyata.. Ana masih dengan pakaian yang dikenakannya malam tadi, sebuah kaos besar hingga lutut, dan sebuah celana dalam saja di baliknya. Dia menoleh saat mendengar ada yang mendekat, dan langsung tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Terasa ada desiran halus di vaginanya saat memandang Jodi.

Ana terkejut saat tangan Jodi melingkar di pinggangnya memeluknya erat dan mencium bibirnya. Lalu Ana sadar ada seseorang yang sedang mandi di lantai atas dan Roy lah yang sedang berada di kamar mandi itu. Bibirnya membalas lumatan Jodi dengan menggebu saat tangan Jodi menyusup ke dalam kaosnya untuk menyentuh payudaranya.

Ana melenguh di dalam mulut Jodi yang memeluknya merapat ke tubuhnya. Desiran gairah memercik dari payudaranya langsung menuju ke vaginanya, membuatnya basah. Wanita mungil itu tak berdaya dalam dekapan Jodi, tangan Ana melingkari leher Jodi.

Mereka berciuman dengan penuh gairah, lidah saling bertaut, perlahan Jodi mendorong tubuh Ana merapat ke dinding. Tangannya meremas bongkahan pantat Ana di balik kaosnya. Dan Ana sangat merasakan tonjolan pada bagian depan celana jeans Jodi yang menekan perutnya.

Ciuman Ana turun ke leher Jodi, lidahnya melata menuju puting Jodi. Ana membiarkan Jodi mengangkat tubuhnya ke atas meja, memandangnya dengan pasif saat Jodi menyingkap kausnya hingga dadanya. Ana mengangkat kakinya bertumpu pada tepian meja, mempertontonkan celana dalam putihnya.

Vaginanya berdenyut tak terkontrol, menantikan apa yang akan terjadi berikutnya. Jodi berlutut di hadapannya, dia dapat mencium aroma yang kuat dari lembah surganya saat hidungnya bergerak mendekat. Perlahan diciumnya vagina Ana yang masih tertutupi kain itu, Ana mendesah, kenikmatan mengaliri darahnya. Untuk pertama kalinya, Ana merasa gembira saat Roy berada lama di dalam kamar mandi!

Dengan tak sabar, tangannya menuju ke pangkal pahanya. Jodi hanya menatapnya saat tangan Ana menarik celana dalamnya sendiri ke samping, memperlihatkan rambut kemaluannya, dan kemudian bibir vaginanya yang kemerahan.

Ana menatap pria yang berlutut di antara pahanya, api gairah tampak berkobar dalam matanya, menahan celana dalamnya ke samping untuknya. Jodi menatap matanya seiring bibirnya mulai mencium bibir vaginanya. Membuat lebih banyak desiran kenikmatan mengguyur tubuhnya dan dia mendesah melampiaskan kenikmatan yang dirasakannya.

Lidah Jodi mulai menjilat dari bagian bawah bibir vagina Ana sampai ke bagian atasnya, mendorong kelentitnya dengan ujung lidahnya saat dia menemukannya. Diselipkannya lidahnya masuk ke dalam lubang vaginanya, merasakan bagaimana rasanya cairan gairah Ana.

Dihisapnya bibir vagina itu ke dalam mulutnya dan dia mulai menggerakkan lidahnya naik turun di sana, membuat Ana semakin basah. Desahannya terdengar, menggoyangkan pinggulnya di wajah Jodi. Jodi melepaskan bibirnya, lidahnya bergerak ke kelentitnya. Dirangsangnya tonjolan daging sensitif itu menggunakan lidahnya dalam gerakan memutar.

Ana menaruh kakinya pada bahu Jodi, duduknya jadi tidak tenang. Tibatiba, Jodi menghisap kelentitnya ke dalam mulutnya, menggigitnya di antara bibirnya. Ana memekik agak keras saat serasa ada aliran listrik yang menyentak tubuhnya. Lidah Jodi bergerak berulangulang pada kelentit Ana yang terjepit di antara bibirnya, tahu bahwa titik puncak Ana sudah dekat. Dilepaskannya kelentit itu dari mulutnya dan tangannya menggantikan mengerjai kelentit Ana dengan cepat.

Oh Tuhan.. bisiknya mendesah, merasakan orgasmenya mendekat.

Jari Jodi bergerak tanpa ampun, pinggul Ana terangkat karenanya. Ana menggigit bibirnya berusaha agar suara jeritannya tak terdengar sampai kepada suaminya yang berada di kamar mandi saat orgasmenya datang dengan hebatnya. Dadanya sesak, nafasnya terhenti beberapa saat, dindingdinding vaginanya merapat. Kedua kakinya terpentang lebar di belakang kepala Jodi. Ana mendesah hebat, akhirnya nafasnya kembali mengisi paruparunya mengiringi terlepasnya orgasmenya.

Jodi berdiri dan langsung mengeluarkan penisnya. Ana memandang dengan lapar pada batang penis dalam genggaman tangan Jodi. Sebelah tangan Ana masih memegangi celana dalamnya ke samping saat tangannya yang satunya lagi meraih batang penis Jodi. Tangan kecil itu menggenggamnya saat Jodi maju mendekat.

Dengan cepat Ana menggesekgesekkannya pada bibir vaginanya yang basah, berhenti hanya saat itu sudah tepat berada di depan lubang masuknya. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama suara dari kamar mandi di lantai atas yang masih terdengar. Jodi melihat ke bawah pada kepala penisnya yang menekan bibir vagina Ana.

Jodi mendorong ke depan dan menyaksikan bibir itu membuka untuknya, mengijinkannya untuk masuk. Desahan Ana segera terdengar saat dia merasa terisi. Jodi terus mendorong, vagina Ana terus menghisapnya sampai akhirnya, Jodi berada di dalamya dalam satu dorongan saja.

Ana sangat panas dan mencengkeramnya, dan Jodi membiarkan penisnya terkubur di dalam sana untuk beberapa saat, meresapi perasaan yang datang padanya. Tangan Ana masih menahan celana dalamnya ke samping, tangan yang satunya meraih kepala Jodi mendekat padanya.

Lidahnya mencari pasangannya dalam lumatan bibir yang rapat. Dengan pelan Jodi menarik penisnya. Dia mendorongnya masuk kemabali, keras, dan Ana mengerang dalam mulutnya seketika. Tubuh mereka saling merapat, kaki Ana terjuntai terayun di belakang tubuh Jodi dalam tiap hentakan. Roy yang masih berada di kamar mandi tak mengira di lantai bawah penis sahabatnya sedang terkubur dalam vagina istrinya.

Sementara itu Ana, sedang berada di ambang orgasmenya yang lain. Penis pria ini menyentuhnya dengan begitu berbeda! Terasa sangat nikmat saat keluar masuk dalam tubuhnya seperti itu! Dia orgasme, melenguh, melepaskan ciumannya. Jodi mundur sedikit dan melihat batang penisnya keluar masuk dalam lubang vaginanya yang kemerahan, tangannya yang kecil menahan celana dalamnya jauhjauh ke samping yang membuat Jodi heran karena kain itu tak robek. Dia mulai menyetubuhinya dengan keras, menyadari kalau mungkin saja dia tak mempunyai banyak waktu lagi.

Jika Roy masuk ke sudut ruangan itu, dia akan melihat ujung kaki istrinya yang terayun dibelakang pantat Jodi. Celana jeans Jodi merosot hingga mata kakinya, celana dalamnya berada di lututnya, dan pantatnya mengayun dengan kecepatan penuh di antara paha Ana yang terbuka lebar. Roy mungkin mendengar suara erangan kenikmatan istrinya.

Jodi terus mengocok, dia dapat merasakan kantung buah zakarnya mengencang dan dia tahu itu tak lama lagi. Dia menggeram, memberinya beberapa kocokan lagi sebelum dilesakkannya batang penisnya ke dalam vagina wanita bersuami itu dan menahannya di dalam sana. Dia menggeram hebat, penisnya menyemburkan spermanya yang panas di dalam sana. Begitu banyak sperma yang tertumpah di dalam vagina Ana. Erangan keduanya terdengar saling bersahutan untuk beberapa saat hingga akhirnya mereka tersadar kalau suara dari dalam kamar mandi sudah berhenti, dan tak menyadari sudah berapa lama itu tak terdengar.
Bibir Jodi mengunci bibirnya dan mereka saling melumat untuk beberapa waktu seiring kejantanan Jodi yang melembut di dalam tubuhnya. Kemudian mereka saling merenggang dan Jodi mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi itu dari vagina Ana. Dengan cekatan dia mengenakan pakaiannya kembali. Ana membiarkan celana dalamnya seperti begitu. Dia merasa celananya menjadi semakin basah saat ada sperma Jodi yang menetes keluar dari vaginanya saat dia berdiri.

September 6, 2024 Pantai Tempat Melepas Rasa Cemburu

Pantai Tempat Melepas Rasa Cemburu

Mas Ray itu mu keras sekali membikin aku bisa orgasme tak akan kulupakan
malam ini bersamu kata dari Diana yang aku kenal saat berkampanye di
bundaran HI.Â

Ceritanya
begini, saat aku sedang berkeliling untuk mencari sebuah informasi
untuk sebuah tugas kantor, aku tak sengaja lewat di sekitaran bundaran
HI, ternyata disana banyak orang berkampanye untuk sebuah partai,
perkenalkan nama aku Monray panggilan Ray aku bekerja di sebuah
perusahaan yang bagiannya untuk meliput sebuah berita / acara, saat aku
sedang mengambil gambar di sekitaran budaran HI.

Disitulah
ada gadis yang memang cantik parasnya, pandanganku tertuju kepada gadis
itu, saat itu dia sedang bergerombol dengan temannya yang berkampanye
kepada sebuah partai, dia memberiku senyuman kepadaku. Gadis itu dan
temannya memakai sebuah kaos partai, yang mana bagian bawahannya dan
lengannya dipotong sehingga menyerupai sedang memakai tank top,
sedangkan bawahannya dipadu dengan celana panjang ekstra ketat yang
berwarna putih.

Mas, Mas wartawan ya? katanya kepadaku.

Iya.

Wawancarai kita dong, Salah seorang temannya nyeletuk.

Emang mau?.

Tentu dong. Tapi photo kita dulu

Nah darisinilah berawal

Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Dengan lagak dan gaya masingmasing mereka berpose.

Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?.

Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?.

Memang akan terus di sini? Sampai pagi?.

Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman.

Hebat.

Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat tugu selamat datang. Kata gadis yang menarik perhatianku itu.

Aku pun duduk dekat mereka, berbincang
tentang pemilu kali ini. Harapanharapan mereka, tanggapan mereka, dan
pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu,
walaupun tampak sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang
berani bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku
maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.

Eh, nama kalian siapa? Tanyaku, Aku Ray.

Saya Diana. Kata cewek manis
itu, lalu temantemannya yang lain pun menyebut nama. Kami terus
bercakapcakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.

Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku
meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran HI
didatangi Kapolri yang meninjau dan menyerah melihat massa yang telah
bergerombol untuk pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah
pukul 06.00 18.00.

Saat aku kembali, gerombolan Diana masih ada di sana.

Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photoku. Sampai ketemu. Pamitku.

Eh, Mas, Mas Ray! Kantornya x (nama koranku), khan. Boleh saya menumpang? Diana berteriak kepadaku.

Kemana?

Rumah. Rumah saya di dekat situ juga.

Boleh saja. Kataku, Tapi katanya mau tetap di sini? Begadang?

Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau ngantarin nih.

Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku dapat melihat di dalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman.

Benarbenar kampanye, nih? Sama saja
kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan
teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. Bukan
menghujat. Angkat topi buat gerakan mahasiswa kita! Peace!)

Diana menggandengku. Aku melambai pada rekanrekannya.

Diana! Pulang lho! Jangan malah Teriak salah seorang temannya.

Diana cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip.

Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan
lincah Diana telah duduk di sampingku. Mulutnya berkicau terus,
bertanyatanya mengenai profesiku. Aku menjawabnya dengan senang hati.
Terkadang pun aku bertanya padanya. Dari situ aku tahu dia sekolah di
sebuah SMA di daerah Bulungan, kelas 2. Tadi ikutikutan temantemannya
saja. Politik? Pusing ah mikirinnya.

Usianya baru 17 tahun, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami terus bercakapcakap. Dia telah semakin akrab denganku.

Kamu sudah punya pacar, belum? Tanyaku.

Sudah. Nadanya jadi lain, agakagak sendu.

Tidak ikut tadi?

Nggak.

Kenapa?

Lagi marahan aja.

Wah.., gawat nih.

Biarin aja.

Kenapa emangnya?

Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi tidak mengaku.

Perang, dong?

Aku marah! Eh dia lebih galak.

Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja.

Gimana caranya? Tanyanya polos.

Kamu selingkuh juga. Jawabku asalasalan.

Bener?

Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu.

Lho, Mas sendiri cowok.

Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai sekarang aku tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha.

Dia ikut tertawa.

Aku
mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Diana meminta
satu rokokku. Anak ini badung juga. Sambil merokok, dia tampak lebih
rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Aku merengut,
hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku,
membuat gondokku hilang.

Setelah itu aku mulai tertarik
mencuricuri pandang. Diana tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati
asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Gadis
ini benarbenar cantik. Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari baju
kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya
mengembang sempurna, tegak berisi.

Tanpa sadar penisku bereaksi.

Aku menyalakan tape mobilku. Diana memandangku saat sebuah lagu romantis terdengar.

Mas, setelah ini mau kemana?

Pulang. Kemana lagi?

Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih. Katanya menghembuskan asap putih dari mulutnya.

Ngapain

Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku males pulang jadinya. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian.

Ipet?

Pacarku.

Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?

Udah terbang bersama asap. Katanya,
tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya
menempel di pangkal tangan kiriku. Hangat.

Bolehlah. Kataku, setelah berpikir
kalau besok aku tidak harus pagipagi ke kantor. Jadi setelah mengantar
materi yang kudapat kepada rekanku yang akan membuat beritanya, aku dan
Diana menuju arah utara. Ancol! Mana lagi pantai di Jakarta ini.

Aku
parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Ancol. Di sana kami terdiam,
mendengarkan ombak, begitu istilah Diana tadi. Sampai setengah jam kami
hanya berdiam. Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat
kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku.

Tibatiba Diana mencium pipiku.

Terima kasih, Mas Ray.

Untuk apa?

Karena telah mau menemani Diana.

Aku hanya diam. Menatapnya. Dia
pun menatapku. Perlahan menunduk. Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa
sadar aku raih wajahnya, dengan sangat perlahanlahan kudekatkan wajahku
ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak
menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan bergetar,
begitu juga dengan bibirnya.

Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami
berciuman kembali. Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang
gerakan kami. Kami berdua pindah ke bangku tengah Kijangku. Aku cium
kening Diana terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua
pipinya, lalu bibirnya. Diana terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak
terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara.
Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya.

Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka.
Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah
dadanya yang indah, besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah.
Tanganku membuka kaitan BH hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua
buah dadanya yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.

Mas Ray, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo dijilat susu saya, aahh.

Aku pun sudah semakin asyik mencumbu
dan menjilati puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil
tanganku membuka mini skirtnya.

Terpampanglah jelas tubuh
telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan
bulubulu halus yang ada di situ. Kuciumi daerah hitam itu.

Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Diana

Diana kamu udah pernah dijilatin itunya?

Belum, kenapa?.

Mau nyoba nggak?.

Diana mengangguk perlahan.

Takut ia berubah pikiran, tanpa
menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan
mengarahkan mulutku ke kemaluan Diana yang bulunya lebat, kelentitnya
yang memerah dan baunya yang khas. Aku keluarkan ujung lidahku yang
lancip lalu kujilat dengan lembut klitorisnyana.

Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Diana

sstt Aahh!!!

Aku terus beroperasi di situ

aahh, Mas Ray, gila nikmat bener,
Gila, saya baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini, aahh, saya
nggak tahan nih, udah deh

Lalu dengan tibatiba ia menarik
kepalaku dan dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia
mendorongku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya membuka
sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins hitamku. Tangannya
menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia
memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam
mulutnya.

aahh Lenguhku

Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.

Aduh Diana, jangan kena gigi dong, Sakit. Nanti lecet

Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk
menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke
kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha
memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin ke dalam mulutnya. Namun hanya
seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam
dalam mulutnya.

Ohk!.., aduh Mas Ray, cuma bisa masuk seperempat

Ya udah Diana, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak.

Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan
ia di seat Kijangku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat
samarsamar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu
kupegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku
rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak
perlahan, kurasakan sulitnya kemaluanku menembus lubang kemaluannya.

Kudorong lagi perlahan,
kuperhatikan wajah Diana dengan matanya yang tertutup rapat, ia
menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.

sstt, aahh, Mas Ray, pelanpelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih nih

Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak
terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Diana, aku berupaya
untuk dengan sangat hatihati sekali memasukkan batang kemaluanku ke
lubang vaginanyana. Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku
kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras. Terdengar suara
aneh. Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Diana, tampak
olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya.
Diana tersentak kaget.

Aduh Mas Ray, suara apaan tuh?

Nggak apaapa, sakit nggak?

Sedikit

Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok

Dan kurasakan lubang kemaluan Diana
sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam
kemaluan Diana sudah mulai keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya
aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tibatiba agar Diana
tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat
wajah Diana seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar
biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentarsebentar kulihat mulutnya
terbuka dan mengeluarkan suara. sshh, sshh

Lidahnya terkadang keluar sedikit
membasahi bibirnya yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar
biasa. Kutekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada
yang mengganjal, kuperhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk
tiga perempat kedalam lubang kemaluan Diana.

Aku coba untuk menekan lebih jauh
lagi, ternyata sudah mentok, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya
dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Diana.
Dan Diana pun merasakannya.

Aduh Mas Ray, udah mentok, jangan
dipaksain teken lagi, perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi
nikmat., aduh, barangmu gede banget sih Mas Ray

Aku
mulai memundurmajukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri,
lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu
ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Diana, ternyata
lubang kemaluan Diana masih sempit, walaupun bukan lagi seorang perawan.
Ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Diana besar,
panjang dan kekar. Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur,
perlahan tapi pasti, dan Diana pun sudah dapat mengimbangi goyanganku,
kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang ke kiri, Diana
goyang ke kanan, bila kutekan pantatku Diana pun menekan pantatnya.

Semua aku lakukan dengan sedikit
hatihati, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Diana,
aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan
dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Diana merenggut rambutku,
sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.

Tubuh kami berkeringat dengan
sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak
peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku
terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan
teratur sampai pada suatu saat.

Aahh Mas Ray, agak cepet lagi sedikit goyangnya, saya kayaknya udah mau keluar nih

Diana mengangkat kakinya tinggi,
melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit
kemudian semakin erat, semakin erat, tangannya sebelah menjambak
rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil
telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang
dari mulutnya memanggil namaku.

Mas Ray, aahh, mmhhaahh,
Aahh Dia kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan
mengejutngejut menjepit batang kemaluanku.

aahh, gila, Ini nikmat sekali Teriakku.

Baru kurasakan sekali ini lubang
kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi,
kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku
mengejang.

Mas Ray, cabut, keluarin di luar

Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan

aahh, ahh Aku mengerang.

Ngghh, ngghh..

Aku pegang batang kemaluanku sebelah
tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan
banyak sekali keluar dari batang kemaluanku.

Chrootth, chrootthh, crothh,
craatthh, sebagian menyemprot wajah Diana, sebagian lagi ke
payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.

Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.

Mas Ray, nikmat banget main sama
kamu, rasanya beda sama kalo saya gituan sama Ipet. Enakan sama kamu.
Kalau sama Ipet, saya tidak pernah orgasme, tapi baru sekali disetubuhi
kamu, saya bisa sampai, barang kali karena barang kamu yang gede banget
ya? Katanya sambil membelai batangku yang masih tegang, namun tidak
sekeras tadi.

Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya

Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata Iya Diana, saya juga, saya nggak bakal lupa.
Kami
pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu cinta. Setelah pagi, baru

aku mengantarnya pulang. Dan berjanji untuk bertemu lagi lain waktu

September 6, 2024 Tua Tua Keladi

Tua Tua Keladi

Pada suatu pagi telepon di kamarku berbunyi, dengan malas kupaksakan diri mengangkatnya. Ternyata telepon itu dari Pak Riziek, tukang kebun dan penjaga villaku. Rasa kantukku langsung hilang begitu dia menyuruhku untuk segera datang ke villa, dia bilang ada masalah yang harus dibicarakan di sana.

Sebelum kutanya lebih jauh hubungan sudah terputus. Hatiku mulai tidak tenang saat itu, ada masalah apa di sana, apakah kemalingan, kebakaran atau apa. Aku juga tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi saat itu karena saat itu kedua orangtuaku sedang di luar kota.

Segera setelah siap aku mengendarai mobilku menuju ke villaku di Bogor, tidak lupa juga kuajak Rina, sahabatku yang sering pergi bareng untuk teman ngobrol di jalan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Pak Riziek, seorang lelaki setengah baya berumur 60an, rambutnya sudah memutih, namun perawakannya masih sehat dan gagah.

Dia adalah penduduk desa dekat villa ini, sudah 4 tahun sejak ayahku membeli villa ini Pak Riziek ditugasi untuk menjaganya. Kami sekeluarga percaya padanya karena selama ini belum pernah villaku ada masalah sampai suatu saat akhirnya aku menyesal ayahku mempekerjakannya.

Pak Riziek mengajak kami masuk ke dalam dulu. Di ruang tamu ternyata sudah menunggu seorang pria lain. Pak Riziek memperkenalkannya pada kami. Orang ini bernama Pak Usep, berusia 50an, tubuhnya agak gemuk pendek, dia adalah teman Pak Riziek yang berprofesi sebagai juru foto di kampungnya. Tanpa membuang waktu lagi aku langsung to the point menanyakan ada masalah apa sebenarnya aku disuruh datang.

Pak Riziek mengeluarkan sebuah bungkusan yang dalamnya berisi setumpuk foto, dia mengatakan bahwa masalah inilah yang hendak dibicarakan denganku. Aku dan Rina lalu melihat foto apa yang ditunjukkan olehnya.

Betapa terkejutnya kami bak disambar petir di siang bolong, bagaimana tidak, ternyata fotofoto itu adalah fotofoto erotis kami yang diabadikan ketika liburan tahun lalu, ada foto bugilku, foto bugil Rina, dan juga foto adegan persenggamaan kami dengan pacar masingmasing.

Pak.., apaapaan ini, darimana barang ini..? tanyaku dengan tegang. Hhmm.. begini Neng, waktu itu saya kebetulan lagi bersihbersih, pas kebetulan di bawah ranjang Neng Dian saya lihat kok ada barang yang nongol, eh.. taunya klise foto asoynya Neng Dian sama Neng Rina, ya udah terus saya bawa ke Pak Usep ini untuk dicuci. jawabnya sambil sedikit tertawa. Apa, kurang ajar, Pak.. Bapak digaji untuk menjaga tempat ini, bukannya mengoprek barang saya..! kataku dengan marah dan menundingnya.

Aku sangat menyesal kenapa begitu ceroboh membiarkan klise itu tertinggal di villa, bahkan aku mengira barang itu sudah dibawa oleh pacarku atau pacar Rina. Wajah Rina juga ketika itu juga nampak tegang dan marah. Wah.. wah.. jangan galak gitu dong Neng, saya kan nggak sengaja, justru Neng sendiri yang ceroboh kan? mereka berdua tertawatawa memandangi kami.

Baik, kalau gitu serahkan klisenya, dan Bapak boleh pergi dari sini. kataku dengan ketus. Iya Pak, tolong kita bisa bayar berapapun asal kalian kembalikan klisenya. tambah Rina memohon. Oo.. nggak, nggak, kita ini bukan pemeras kok Neng, kita cuma minta.. Pak Usep tidak meneruskan perkataannya. Sudahlah Pak, cepat katakan saja apa mau kalian..! kata Rina dengan ketus.

Perasan aneh mulai menjalari tubuhku disertai keringat dingin yang mengucuri dahiku karena mereka mengamati tubuh kami dengan tatapan lapar. Kemudian Pak Riziek maju mendekatiku membuat degup jantungku makin kencang. Beberapa senti di depanku tangannya bergerak mengelus payudaraku.

Hei.. kurang ajar, jangan keterlaluan ya..! bentakku sambil menepis tangannya dan mendorongnya. Bangsat.. berani sekali kamu, kalian kira siapa kalian ini hah..? Dasar orang kampung..! Rina menghardik dengan marah dan melemparkan setumpuk foto itu ke wajah Pak Riziek. Hehehe.. ayolah Neng, coba bayangakan, gimana kalo fotofoto itu diterima orangtua, pacar, atau temanteman di kampus Neng? Wah bisabisa Neng berdua ini jadi terkenal deh..! kata Pak Usep dan disusul gelak tawa keduanya.

Aku tertegun, pikiranku kalut, kurasa Rina pun merasakan hal yang sama denganku. Nampaknya tiada pilihan lain bagi kami selain mengikuti kemauan mereka. Kalau fotofoto itu tersebar bagaimana reputasiku, keluargaku, dan reaksi pacarku, apalagi Rina yang berprofesi sebagai model pada majalah ***(edited), bisabisa karirnya tamat garagara masalah ini.

Pak Riziek kembali mendekatiku dan meraba pundakku, sementara itu Pak Usep mendekati Rina lalu mengelilinginya mengamati tubuh Rina. Gimana Neng, apa sudah berubah pikiran..? tanyanya sambil membelai rambutku yang sebahu lebih.

Kupikirpikir untuk apa lagi jual mahal, toh kami pun sudah bukan perawan lagi, hanya saja kami belum pernah bermain dengan orangorang bertampang kasar seperti mereka.

Akhirnya dengan berat hati aku hanya dapat menganggukkan kepala saja. Ha.. ha.. ha.. akhirnya bisa juga orang kampung seperti kita merasakan gadis kampus, ada foto modelnya lagi..! mereka tertawa penuh kemenangan.

Aku hanya dapat mengumpat dalam hati, Bangsat kalian, dasar tuatua keladi..! Pak Riziek memelukku dan tangannya meremasremas payudaraku dari luar, lidahnya bermain dengan liar di dalam mulutku. Perasaan geli, jijik dan nikmat bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahiku yang mulai naik.

Tangannya kini makin berani menyusup ke bawah kaos ketat lengan panjang yang kupakai, terus bergerak menyusup ke balik BHku. Degub jantungku bertambah kencang dan napasku makin memburu ketika kurasakan tangan kasarnya mulai menggerayangi dadaku, apalagi jarijarinya turut mempermainkan putingku. Tanpa terasa pula lidahku mulai aktif membalas permainan lidahnya, liur kami menetesnetes di pinggir mulut.

Nasib Rina tidak beda jauh denganku, Pak Usep mendekapnya dari belakang lalu tangannya mulai meremas payudara Rina dan tangan satunya lagi menaikkan rok selututnya sambil merabaraba paha Rina yang jenjang dan mulus.

Satupersatu kancing baju Rina dipreteli sehingga nampaklah BHnya yang berwarna merah muda, belahan dadanya, dan perutnya yang rata. Melihat payudara 36B Rina yang menggemaskan itu Pak Usep makin bernafsu, dengan kasar BH itu ditariknya turun dan menyembul lah payudara Rina yang montok dengan puting merah tua.

Whuua.. ternyata lebih indah dari yang di foto, mimpi apa saya bisa merasakan foto model kaya Neng Rina, katanya. Pak Usep menghempaskan diri ke sofa, dibentangkannya lebarlebar kedua belah kaki Rina yang berada di pangkuannya. Tangannya yang semula mengeluselus pahanya mulai merambat ke selangkangannya, jarijari besarnya menyelinap ke pinggir celana dalam Rina.

Ekspresi wajah Rina menunjukkan rasa pasrah tidak berdaya menerima perlakuan seperti itu, matanya terpejam dan mulutnya mengeluarkan desahan. Eeemhh.. uuhh.. jangan Pak, tolong hentikan.. eemhh..!

Kemudian Pak Usep menggendong tubuh Rina, mereka menghilang di balik kamar meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Setelah menaikkan kaos dan BHku, kini tangannya membuka resleting celana panjangku.

Dia merapatkan tubuhku pada tembok. Aku memejamkan mata berusaha menikmati perasaan itu, kubayangkan yang sedang menggerayangi tubuhku ini adalah pacarku, Yudi. Tua bangka ini ternyata pintar membangkitkan nafsuku. Sapuansapuan lidahnya pada putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja.

Sekarang kurasakan tangannya sudah mulai menyelinap ke balik CDku, diusapusapnya permukaan kemaluanku yang ditumbuhi bulubulu halus lebat itu. Sshh.. eemhh..! aku mulai meracau tidak karuan saat jarijarinya memasuki vaginaku dan memainkan klistorisnya, sementara itu mulutnya tidak hentihentinya mencumbu payudaraku, sadar atau tidak aku mulai terbawa nikmat oleh permainannya. Hehehe.. Neng mulai terangsang ya? ejeknya dekat telingaku.

Tibatiba dia menghentikan aktivitasnya dan dengan kasar didorongnya tubuhku hingga terjatuh di sofa. Sambil berjalan mendekat dia melepas pakaiannya satu persatu. Setelah dia membuka celana dalamnya tampak olehku kemaluannya yang sudah menegang dari tadi.

Gila, ternyata penisnya besar juga, sedikit lebih besar dari pacarku dan dihiasi bulubulu yang sudah beruban. Kemudian dia menarik lepas celanaku beserta CDnya sehingga yang tersisa di tubuhku kini hanya kaos lengan panjang dan BHku yang sudah terangkat.

Dibentangkannya kedua belah pahaku di depan wajahnya. Tatapan matanya sangat mengerikan saat memandangi daerah selangkanganku, seolaholah seperti monster lapar yang siap memangsaku. Pak Riziek membenamkan wajahnya pada selangkanganku, dengan penuh nafsu dia melaahap dan menyedotnyedot vaginaku yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitorisku.

Sesekali dia mengorekngorek lubang kemaluan dan anusku. Perlakuannya sungguh membuat diriku serasa terbang, tubuhku menggelinjanggelinjang diiringi erangan nikmat.

Tidak lama kemudian akhirnya kurasakan tubuhku mengejang, aku mencapai orgasme pertamaku. Cairan cintaku membasahi mulut dan jarijari Pak Riziek. Sluurrpp sluurpp.. sshhrrpp.. demikian bunyinya ketika dia menghisap sisasisa cairan cintaku.

Disuruhnya aku membersihkan jarijarinya yang berlepotan cairan cinta itu dengan mengulumnya, maka dengan terpaksa kubersihkan jarijari kasar itu dengan mulutku.

Memek Neng Dian emang enak banget, beda dari punya lontelonte di kampung Bapak, celetuknya sambil menyeringai. Sialan, masa gua dibandingin sama lonte kampung..! umpatku dalam hati. Nah, sekarang giliran Neng merasakan kontol Bapak ya..! katanya sambil melepas kaos dan BHku yang masih melekat. Sekarang sudah tidak ada apapun yang tersisa di tubuhku selain kalung dan cincin yang kukenakan.

Dia naik ke wajahku dan menyodorkan penisnya padaku. Ketika baru mau mulai, tibatiba telepon di dinding berbunyi memecah suasana. Angkat teleponnya Neng, ingat saya tahu rahasia Neng, jadi jangan omong macammacam, ancamnya.

Telepon itu ternyata dari Yudi, pacarku yang mengetahui aku sedang di villa dari pembantu di rumahku. Dengan alasan yang dibuatbuat aku menjawab pertanyaannya dan mengatakan aku di sini baikbaik saja.

Ketika aku sedang berbicara mendadak kurasakan sepasang tangan mendekapku dari belakang dan dekat telingaku kurasakan dengus napasnya. Tangan itu mulai usil meraba payudaraku dan tangan satunya lagi pelanpelan merambat turun menuju kemaluanku, sementara pada leherku terasa ada benda hangat dan basah, ternyata Pak Riziek sedang menjilati leherku.

Penisnya yang tegang saling berhimpit dengan pantatku. Aku sebenarnya mau berontak namun aku harus bersikap normal melayani obrolan pacarku agar tidak timbul kecurigaan.

Aku hanya dapat menggigit bibir dan memejamkan mata, berusaha keras agar tidak mengeluarkan suarasuara aneh. Dasar sial, si Yudi mengajakku omong panjang lebar sehingga membuatku makin menderita dengan siksaan ini. Sekarang Pak Riziek menyusu dariku, tidak hentihentinya dia mengulum, menggigit dan menghisap putingku sampai memerah.

Akhirnya setelah 15 menit Yudi menutup pembicaraan, saat itu Pak Riziek tengah menyusu sambil mengorekngorek kemaluanku, aku pun akhirnya dengan lega mengeluarkan erangan yang dari tadi tertahan. Heh, sopan dikit dong..! Tau ngga saya tadi lagi nelepon..! marahku sambil melepas pelukkannya. Hohoho.. maaf Neng, saya kan orang kampung jadi kurang tau sopan santun, eh.. omongomong itu tadi pacar Neng ya? Tenang aja habis merasakan kontol saya pasti Neng lupa sama cowok itu..! ejeknya dan dia kembali memeluk tubuhku.

Disuruhnya aku duduk di sofa dan dia berdiri di hadapanku, penisnya diarahkan ke mulutku. Atas perintahnya kukocok dan kuemut penis itu, pada awalnya aku hampir muntah mencium penisnya yang agak bau itu, namun dia menahan kepalaku hingga aku tidak dapat melepaskannya. Iseepp, isep yang kuat Neng, jangan cuma dimasukin mulut aja..! suruhnya sambil terus memajumundurkan penisnya di mulutku. Sayupsayup aku dapat mendengar erangan Rina dari dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka itu.

Lama kelamaan aku sudah dapat menikmatinya, tangannya yang bergerak lincah mempermainkan payudaraku dan memilinmilin putingnya membuatku semakin bersemangat mengulum dan menjilati kepala penisnya. Naahh.. gitu dong Neng, ayoo.. terus.. Neng jilatin ujungnya, eengh.. bagus..! desahnya sambil menjambak rambutku. Selama 15 menit aku mengkaraokenya dan dia mengakhirinya dengan menarik kepalaku.

Setelah itu dibaringkannya tubuhku di sofa, dia lalu membuka lebarlebar kedua pahaku dan berlutut di antaranya. Aku memejamkan mata menikmati detikdetik ketika penisnya menerobos vaginaku. Penisnya meluncur mulus sampai menyentuh rahimku. Aku mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati perkosaan ini, aku tidak perduli lagi orang ini sesungguhnya adalah pembantuku.

Sambil menyetubuhiku bibirnya tidak hentihentinya melumat bibir dan payudaraku, tangannya pun selalu meremas payudara dan pantatku. Erangan panjang keluar dari mulutku ketika mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali.

Keringat bercucuran membasahi tubuhku sehingga kelihatan mengkilat. Tanpa memberiku kesempatan beristirahat dia menaikkan tubuhku ke pangkuannya. Aku hanya pasrah saja menerima perlakuannya.

Setelah penisnya memasuki vaginaku, aku mulai menggerakkan tubuhku naik turun. Pak Riziek menikmati goyanganku sambil menyusu payudaraku yang tepat di depan wajahnya, payudaraku dikulum dan digigit kecil dalam mulutnya seperti bayi sedang menyusu. Terkadang aku melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diadukaduk.

Aku terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakanku makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. Benarbenar dahsyat yang kuperoleh walaupun bukan dengan lelaki muda dan tampan.

Kali ini dia membalikkan badanku hingga menungging. Disetubuhinya aku dari belakang, tangannya bergerilya merambahi lekuklekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh hebat lelaki seumur dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkalikali, atau mungkin sebelumnya dia sudah minum obat kuat atau sejenisnya, ah.. aku tidak perduli hal itu, yang penting dia telah memberiku kenikmatan luar biasa.

Sudah lebih dari setengah jam dia menggarapku. Tidak lama setelah aku mencapai klimaks berikutnya, dia mulai melenguh panjang, sodokanya makin kencang dan kedua payudaraku diremasnya dengan brutal sehingga aku berteriak merasakan sakit bercampur nikmat. Setelah itu dia menarik lepas penisnya dan naik ke dadaku.

Di sana dia menjepitkan penisnya yang sudah licin mengkilap itu di antara kedua payudaraku, lalu dikocoknya sampai maninya menyempot dengan deras membasahi wajah dan dadaku.

Aku sudah kehabisan tenaga, kubiarkan saja maninya berlepotan di tubuhku, bahkan yang mengalir masuk ke mulut pun kutelan sekalian. Sebagai hidangan penutup, Pak Riziek menempelkan penisnya pada bibirku dan menyuruhku membersihkannya.

Kujilati penis itu sampai bersih dan kutelan sisasisa maninya. Setelahnya dia meninggalkanku terbaring di sofa, selanjutnya aku tidak tahu apaapa lagi karena sudah tidak sadarkan diri.

Begitu aku bangun jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, aku menemukan diriku masih bugil, sisasisa sperma kering masih membekas pada wajah dan dadaku, sekujur tubuhku terutama dada penuh dengan bekas cupangan yang memerah.

Aku melihat sekeliling, hening tanpa suara, entah kemana Rina dan kedua kambing bandot itu. Aku tidak memikirkan apaapa lagi, aku menuju kamar mandi karena ingin kencing, lalu kunyalakan shower dan kubersihkan tubuhku dari sisasisa persetubuhan tadi. Dalam hati aku masih merasa marah, kesal, dan sedih karena dijebak dan diperkosa seperti itu, namun setiap teringat yang barusan, aku malah ingin mengulanginya lagi.

Sehabis mandi, kepenatan tubuhku terasa mulai berkurang, kuraih kimono kuning dan memakainya tanpa memakai apaapa di baliknya. Ketika aku keluar kamar mandi masih belum merasakan tandatanda keberadaan mereka di sini, begitu juga kamar yang tadi dipakai Rina dan Pak Usep, di sana hanya kudapati ranjang yang sudah berantakan dan masih tercium aroma sperma bekas pertarungan tadi. Pakaian Rina dan Pak Riziek juga masih berceceran di ruang tamu. Terlintas di benakku saat itu kolam renang, ya mereka pasti di sana.

Aku segera menuju kolam di belakang untuk memastikan. Dugaanku ternyata tepat, di sana terlihat pemandangan yang membuat darah bergolak. Di tepi kolam itu Rina sedang dikerjai oleh mereka berdua.

Dia tengah memacu tubuhnya di atas penis Pak Riziek yang berbaring sambil meremasi dadanya, sementara mulutnya dijejali oleh penis Pak Usep yang berdiri di sampingnya, tubuh ketiganya basah oleh air kolam, langit senja yang berwarna kuning keemasan menambah erotisnya suasana.

Hai, Neng Dian udah bangun toh..! sapa Pak Riziek. Wah, saya udah lama nungguin Neng Dian, tapi tunggu ya, Neng Rina lagi asyik makan es mambo nih..! sahut Pak Usep. Rina hanya dapat melirik sayu padaku karena mulutnya penuh oleh penis dan Pak Usep menahan kepalanya. Adegan mesum itu membangkitkan kembali nafsuku, selangkanganku terasa basah.

5 menit kemudian Pak Usep mencabut penisnya dari mulut Rina dan mendekatiku. Pak, kapan klisenya kalian kembalikan..? tanyaku tidak sabar. Tenang Neng, sekarang mau pulang juga sudah kemalaman, klisenya pasti kita kasih ke Neng besok, jawabnya sambil menepuk bahuku. Apa..! Besok..? Keterlaluan kalian..! bentakku. Jangan marahmarah gitu dong Neng, besok pagi saya janji pasti ngasih klisenya ke Neng, katanya sambil memutari tubuhku.

Kurasakan elusan Pak Usep pada paha belakangku, tangannya makin naik menyingkap kimonoku dan akhirnya meremas pantatku. Hoi, Pak Riziek, ternyata nona majikanmu ini asoy bener, pahanya mulus, pantatnya juga wuiih.. montok..! serunya pada temannya. Kupingku benarbenar panas mendengar ejekannya, namun dalam hati aku justru berharap dia berbuat lebih jauh.

Ooouuhhh..! demikian desahan pelan yang keluar dari mulutku ketika tangan Pak Usep sampai ke belahan kemaluanku. Jarinya membuka belahan itu dan meraih klistorisnya, daerah sensitif itu dimainkannya sehingga membuatku mendesah dan kedua kakiku terasa lemas tidak bertenaga.

Dibaringkannya tubuhku pada kursi santai di tepi kolam itu. Tercium bau rokok murahan dari mulutnya ketika dia melumat bibirku, lidahnya mengelitik lidahku.

Pak Usep melepaskan tali pinggangku sehingga kimonoku terbuka, ciumannya perlahanlahan turun dari dagu dan leher menuju payudaraku. Sambil melumat payudaraku tangan yang satunya dengan kasar mengobrakabrik vaginaku. Aakkhh.. Pak, sakit.. pelanpelan Pak..! rintihku kesakitan.

Aku melihat ke arah Rina yang sedang dikerjai Pak Riziek. Dia sedang dalam posisi dogie, Pak Riziek dari belakang melakukan penetrasi ke lubang anus Rina. Dia menjeritjerit kesakitan ketika penis besar itu dengan paksa memasuki duburnya yang sempit.

Bukannya kasihan tapi nampaknya Pak Riziek malah semakin bergairah melihat penderitaan Rina, ketika sudah masuk setengahnya dihujamkannya penis itu dengan keras, spontan tubuh Rina tersentak dan jeritan panjang yang memilukan keluar dari mulutnya.

Selanjutnya dengan ganas Pak Riziek menyodomi Rina sambil mendesisdesis menikmati penisnya terjepit dubur Rina yang sempit. Aku sangat kasihan melihat penderitaan Rina, tapi apa dayaku karena aku sendiri sedang dalam kesulitan.

Kini Pak Usep membuka lebar kedua pahaku, tangan satunya memegang penisnya yang gemuk itu dan menggesekgeseknya pada bibir kemaluanku sehingga aku mendesah nikmat dan tubuhku menggeliatgeliat.

Setelah vaginaku basah kuyup dia menekan penisnya hingga amblas seluruhnya. Aku melihat jelas bagaimana penis itu keluar masuk ke dalam vaginaku. Kenikmatan dahsyat telah melanda tubuhku hingga aku tidak kuasa untuk tidak mengerang.

Suara desahan terdengar sahut menyahut di tepi kolam itu. Kemudian aku merasakan tubuhku bagaikan tersengat listrik, aku menjerit sekuat tenaga dan mempererat genggamanku pada pegangan kursi. Cairan kemaluanku muncrat dengan derasnya dan kurasakan tubuhku seperti lumpuh. Namun Pak Usep belum menyudahi perbuatannya.

Sekarang dia memiringkan tubuhku dan mengangkat kaki kiriku, lalu dia meneruskan genjotannya pada tubuhku. Aku sudah setengah sadar ketika tibatiba sebatang penis sudah berada di depan wajahku.

Kutengadahkan kepalaku dan kulihat Pak Riziek berdiri di sampingku dengan penisnya masih berdiri kokoh, tidak jauh dari situ nampak tubuh telanjang Rina yang sudah terkapar lemas. Tanpa membuang waktu lagi diraihnya kepalaku, mulutku penuh sesak oleh penisnya yang berlumuran aneka cairan itu.

Tibatiba mereka menurunkan tubuhku dari kursi, kini aku berada di lantai dengan posisi anjing, kimonoku mereka lepas hingga aku bugil total. Pak Riziek mengambil posisi di belakangku lalu dia membuka duburku dan tangan satunya mengarahkan penisnya ke sana. Ooohh.. tidak, dia mau menyodomiku seperti yang dia lakukan pada Rina, masih terbayang olehku betapa brutalnya lelaki ini memperlakukan Rina barusan.

Jangan Pak, jangan di situ aduuuh.. sakit.. ooh..! rintihku memelas ketika dia memasukkan penisnya. Aakkh akhh oougghh aku terus merintihrintih, mataku terpejam merasakan kepedihan tiada tara sampai airmataku meleleh membasahi pipi. Wah.., enak, lebih seret dari Neng Rina..! kata Pak Riziek disambut gelak tawa mereka. Dia mulai menggenjot tubuhku sementara di depanku Pak Usep memaksaku mengkaraoke penisnya.

Udah jangan nangis, lu sebenernya keenakan kan..! Ayo emut nih kontol..! perintahnya sambil menjambak rambutku. Aku benarbenar merasa terhina saat itu namun menikmatinya, perlakuan kasar ini mendatangkan kenikmatan tersendiri. Selain menyodomiku, Pak Riziek juga sesekali menampar pantatku hingga terasa panas dan sakit.

Di tempat lain Pak Usep terus menahan kepalaku yang sedang mengulum penisnya sambil memajumundurkan pantatnya seolah sedang menyetubuhiku, wajahku makin terbenam pada bulubulu kemaluannya yang lebat.

Tidak lama kemudian kurasakan penis Pak Usep dalam mulutku semakin berdenyut dan akhirnya tumpahlah spermanya di mulutku. Ehheek.. hhkk.. aku tersedak tapi kepalaku ditahan olehnya sehingga terpaksa cairan itu kutelan, sebagian meleleh keluar membasahi bibirku.

Pada saat hampir bersamaan pula aku klimaks yang kesekian kalinya, tubuhku mengejang, aku ingin menjerit namun mulutku tersumbat penis Pak Usep sehingga hanya terdengar suara erangan tertahan dari mulutku yang berlepotan sperma dan airmataku makin membanjir.

Beberapa menit kemudian akhirnya Pak Riziek ejakulasi, aku merasakan cairan hangat dan kental menyirami duburku. Aku merasa sangat lelah, napasku terengahengah dan menangis terisakisak apalagi saat kudengar mereka tertawatawa dan mengucapkan katakata yang merendahkan kami, makin panas saja telinga dan hatiku.

Pak Riziek masuk ke dalam dan tidak lama kemudian ia kembali dengan 2 gelas air, disodorkannya gelas itu padaku dan Rina yang dibangunkannya dengan menyiram air kolam. Langit sudah gelap ketika itu, Pak Riziek keluar membeli makan malam untuk kami.

Sambil menunggu Pak Usep beristirahat dengan berendam di kolam dangkal bersamaku dan Rina, tingkahnya seperti raja minyak saja, dia meminta Rina yang payudaranya montok melakukan pijat ala Thai, sedangkan aku digerayangi dan diciuminya seperti mainan. Sungguh benci aku padanya, tapi terpaksa harus bersikap manis agar dapat lekas bebas darinya.

Malam harinya sebelum tidur kami main berempat sekaligus di ranjangku. Pak Usep berbaring, aku naik ke atas wajahnya berhadaphadapan dengan Rina yang naik ke atas penisnya. Kami berdua sibuk mengkaraoke penis Pak Riziek yang mengacung di antara kami.

Secara bergantian kami menjilati dan mengulum penis itu hingga memuncratkan maninya membasahi wajah kami. Sementara itu kurasakan vaginaku mulai banjir lagi akibat permainan lidah Pak Usep.

Malam itu, setelah digarap habishabisan akhirnya kami berempat tertidur kelelahan di kamar itu. Pagi harinya kembali aku digarap di bathtub oleh Pak Riziek ketika mandi bersama, aku dibuatnya klimaks dua kali dan dia semprotkan maninya dalam vaginaku.

Setelah seharian menjadi budak seks, mereka akhirnya mengembalikan klise itu pada kami. Kami memeriksanya dengan seksama agar tidak mendapat kesulitan lagi di kemudian hari. Segera setelah itu kusuruh mereka hengkang dari villaku dan kami pun pulang ke Jakarta.

Hari berikutnya Pak Riziek menghubungi ayahku untuk pamit mengundurkan diri dan sejak itu pula atas bujukanku dengan macammacam alasan, keluarga kami tidak pernah lagi menyewa orang untuk menjaga villa.

Aku masih dendam pada mereka yang telah memperdayaiku, namun terkadang aku merasa rindu mengulanginya, rindu tangantangan kasar itu menggerayangi tubuhku. Hingga detik ini belum seorang pun mengetahui peristiwa itu temasuk keluarga dan kekasih kami.