languages languagesicone
site loader
site loader
September 7, 2024 Ngesex Sewaktu Istirahat Kantor

Ngesex Sewaktu Istirahat Kantor

Gentlemen, this is Anita, our new creative director, kata Mr. Jansen, chief executive media memperkenalkan cewek semampai bersetelan jas pantalon resmi di sisinya. Si cewek tersenyum kecil pada kami. Sombong amat! Makiku dalam hati.

Novel Seks Dia ngoceh dalam bahasa Inggris pada Mr. Jansen yang menunjukkan mejanya, persis di seberang mejaku. Si Tanti melirik sekilas padaku, angkuh. Ill use my own laptop, katanya, seakan meragukan kapasitas deretan Macintosh biro iklan kami. Dari balik monitorku sesekali kutengok ia. Tidak cantik amat, tapi.. apa ya? Chic? Sensual? Bibirnya itu lho! Terpikir olehku, bagaimana rasanya.

Seharian si Tanti duduk di depanku, ia nyaris tak bersuara. Suaranya yang rendah itu dihematnya untuk bicara soal pekerjaan saja. Selebihnya, sepi! Tidak kenalan, tidak say hi. Pokoknya duduk diam dan asyik mengetik dan ceklakceklik dengan mousenya. Saat makan siang pun Tanti makan dengan diamdiam. Selorohseloroh nakal (bahkan bejat) yang sering dilontarkan temanteman palingpaling ditanggapinya dengan mengangkat sudut bibirnya saja.

Selesai makan siang, kami yang mayoritas lakilaki merokok, kecuali Endah, frontofficer merangkap sekretaris dan Bu Sintha, kepala divisi marketing, serta Ratri bagian rumah tangga merangkap perpustakaan. Si Tanti merogoh Marlboro Light dan Zippo dari sakunya. Busyet! Kosmopolitan, nih! Sampai dua bulanan berikutnya si Tanti tetap seperti gunung es. Dingin, diam, tanpa basabasi. Ia bekerja dengan efisiensi ala bule yang memang diingini Mr. Jansen dan para klien. Soal directing materi iklan dan mengkoordinir para sutradara production house dia memang jago. Ia juga betah kerja lama, workaholic!

Suatu ketika biro kami ketiban pulung. Ada perusahaan softdrink besar yang mempercayakan penggarapan materi iklannya pada kami, untuk semua jenis media, selama 12 bulan. Kami kerja matimatian dan praktis lembur tiap hari. Seperti biasa si Tanti paling ampuh bertahan.

Suatu malam, akhirnya temanteman yang sudah begadang empat malam mana tahan juga, satu per satu pamit pulang duluan. Tinggal Tanti dan aku yang masih bertahan. Kebetulan kami samasama lajang dan aku seniorartdesigner, harus terus berkoordinasi dengannya. Sunyi menyiksaku. Dengan otak mampet begini, mana bisa ide cemerlang muncul.

Tan, nggak capek? kucoba berkomunikasi dengannya.
Ia mengangkat muka dari laptopnya. Ia tampak curiga dan pasang kudakuda.
Mmm, ya ginilah, sahutnya pendek.

Boleh nggak, konsultasi di luar job? tanyaku.
Hmm? ia menTanut rokoknya.
Kucoba bercerita tentang Susan, pacarku. Ia tertawa saja.
Kalau jam terbangmu bagaimana? pancingku.

Menurutmu gimana? tanyanya balik sambil menatapku luruslurus.
Yaah, kamu keliatannya nggak perlu cowok, tuh?
Ia tersenyum.

Perlu sih perlu, tapi aku nggak suka terikat.
Jujur, ni ye, ledekku.
Iya dong. Nggak kayak kamu, katanya.
Wah, apa nih?

Aku kenal betul tatapan mata seperti itu, ia menudingku.
Aku tahu apa aja yang biasa kau lihat dari situ, aku juga bisa menebak apa yang ada dalam otak kreatifmu itu.. sindirnya sambil tersenyum.

Darahku mulai berdesir.

Apa coba yang aku pikir? ego maskulinku tertantang.
Tanti menyisihkan laptopnya.
Gini. I like her. Aku pikir cewek ini lain, gimana ya rasanya have sex dengannya.. katanya ringan meramal pikiranku.

Aku nyaris tersedak asap rokokku. Kutatap dia. Dengan tenang ia balas memandang. Tanpa malumalu. Testoteron dan adrenalinku berpacu. Dia jelasjelas memancing. Gobloknya aku!

Kamu mau? tanyaku lugas kepalang basah.
Apa masih kurang jelas? ia kembali balik bertanya.

Kuangkat bahuku meski dalam hati penasaran.

Aku senang kerja denganmu, aku suka ideidemu, suaramu, sikapmu. Pasti.. cukup hangat melewatkan malam denganmu.. suaranya makin lama makin rendah.

Aku bangkit dan memadamkan rokokku. Kudatangi mejanya. Ia tetap tenang menantiku.

Serius? bisikku di hadapannya.
Kita capek, dan perlu refreshing kan? jawabnya pelan.

Kujentik bibirnya. Ia menatapku tenang. Telunjukku kusapukan ke bibirnya. Ia diam. Saat sekali lagi kusentuh bibirnya, ujung lidahnya menyentuh telunjukku. Aku tak sabar lagi. Ia kurengkuh dan kukulum bibirnya. Ia membalas pelukanku dan menyambut bibirku. Bibirnya yang lembut, kenyal dan hangat kulumat habis, lidahku menyusup di sela bibirnya.

Dengan hangat ia menyambut lidahku. Kurapatkan tubuhnya ke tubuhku hingga payudaranya menekan dadaku. Kurasakan tubuhnya mengencang dan makin hangat dalam dekapanku. Bibir kami terus bertaut selama beberapa saat. Sisa aroma rokok di nafasnya makin mengobarkan gairahku sementara geliginya nakal menggigit kecil bibir dan lidahku.

Great kiss.. bisiknya saat kulepaskan untuk bernapas. You too.. Jemarinya mencengkam lenganku saat kususuri sisi lehernya dengan bibirku. Ia gelisah sekali. Tarikan napasnya pendekpendek dan tersendat. Saat lidahku menyapu cuping telinganya yang bagus dan napasku menghembus tengkuknya ia mengeluh pelan sambil menggigit bibir sementara tangannya liar menggerayangi dada dan punggungku.
Desahnya makin cepat saat ciumanku menuruni lekuk lehernya. Suhu ruangan yang berAC terasa makin gerah saja. Blusnya kurenggut dari pinggang pantalonnya. Tanganku mendapatkan pinggangnya yang mulus, hangat dan liat. Kedua belah tangannya melingkar menahan tengkukku saat ia mengecupi bibirku. Sebelah tungkainya mulai naik melingkungi pinggangku. Dengan gugup ia meraih kancing branya saat blusnya kulucuti. Dengan bertumpu pada sisi meja, kuangkat Tanti dalam gendonganku. Mulutku mendapatkan pucukpucuk buah dadanya yang coklat muda kemerahan dan dengan gemas kunikmati. Sementara kuremasi pantatnya.

Aryo.. Aryo.. desisnya. Sembarangan ia mencoba membuka hemku, dua biji kancing lepas saat tak sabar ia menariknya. Ia merosot dari gendonganku, dengan jemari bergetar ia berusaha membuka gesper ikat pinggangku. Tidak berhasil. Tangannya beralih merabai selangkanganku, padahal tanpa dirabainya pun aku sudah hard on dari tadi. Tibatiba ia berlutut dan membuka ritsletingku dengan giginya.

Dengan sukarela kubuka gesperku karena jeansku terasa makin sempit oleh kelaminku yang menggembung. Celana itu segera ditarik turun hingga lepas lengkap dengan celana dalamku. Tanti menyambut ujung kemaluanku dengan mulutnya sementara paha dan pantatku habis diremasinya. Aaahh! tubuhku serasa dijalari arus listrik. Tanti agaknya benarbenar tahu cara membuat lakilaki meniti ekstase.

Lidahnya menyusuri batang kemaluanku hingga ke pangkal zakar. Susah payah kujaga keseimbanganku agar tak terjatuh tiap kali kepala kemaluanku dihisapnya. Tubuh dan lengan Tanti serasa membara sementara telapak tangannya dingin dan lembab. Peluh menitik di pelipisnya. Makin lama makin rapat ia mengulum anuku. Sebelah kakiku dikepitnya di sela paha hingga bagian kewanitaannya menggeser kakiku.
Aku tak tahan lagi. Setengah paksa kulepas ia. Pipinya merona, rambutnya acakacakan, bibirnya memerah dan basah oleh liur. Tubuhnya sedikit menggigil. Ia kelihatan makin seksi. Begitu pantalonnya merosot saat kubuka dan ia melepas celana dalamnya, tubuhnya kuangkat dan kusandarkan ke dinding. Kedua tungkainya ketat melilit pinggangku. Desahnya tertahan saat batang kemaluanku mulai memasuki liangnya. Geliginya terkatup rapat menahan bibir.
Kukulum bibirnya dan lidahku masuk ke rongga mulutnya. Mhh! jeritnya tertahan bibirku, saat kujejalkan seluruh batang kemaluanku ke lubang kemaluannya yang kesat dan hangat. Hhh.. ia menggelinjang, menggeliat berusaha meronta dari pelukanku saat kugerakkan panggulku sehingga organku menggeser dinding dalam liangnya yang menyempit merapati kemaluanku.

Semakin ia memekik dan ototototnya berusaha mendorong batang kemaluanku, makin keras dan dalam kudesak ia. Kubiarkan ia menggigit bahuku untuk melampiaskan segala yang dirasainya hingga akhirnya ia mulai mengikuti irama shake upku. Hangat nafasnya menyapu wajahku. Peluh mengembun di sekujur tubuh kami meski suhu AC 17º C pada dinihari itu. Tanti mengusap peluh di wajahku dan meniupiku. Tibatiba jepitan tungkainya di pinggangku mengetat, denyutan liangnya pun makin hebat.

Tanti mengatupkan giginya, panggulnya berayun menyambut setiap desakanku, pelukannya pindah ke panggulku seakan menuntutku lebih dalam pada setiap goyangan. Lubang kemaluannya kini lembab dan licin oleh cairan kewanitaannya. Kudekap ia eraterat. Akhirnya sebelah kaki Tanti turun dari pinggangku saat ia mencapai orgasme. Dahinya tersandar di bahuku. Buruburu ia kubawa ke kursi terdekat. Gaya kneetrembler begini betulbetul menuntut stamina ekstra.

Di kursi, Tanti duduk di pangkuanku dan mulai pulih dari orgasmenya. Seperti biasa ia menatapku terangterangan. Ujungujung jarinya menyusuri wajahku. Menyibak rambut yang menutupi dahiku, mengikuti bentuk alisku, menuruni hidungku, menyapu kumisku dan merabai bibirku. Aku merasa seperti mainan. Saat telunjuknya menyentuh bibir bawahku, kutangkap tangannya dan kugigit telunjuknya. Ia memekik dan tertawa, suara tawanya merdu.
Dia menunduk padaku sambil menjulurkan ujung lidahnya ke depan bibirku. Tentu saja kusambut godaannya itu untuk sekian kalinya, lidah merah jambu itu kutarik ke mulutku dan kukulum, sementara buah dadanya yang kenyal menekan dadaku yang terbuka. Jantungku serasa berdetak di telinga. Kuusap kedua gumpalan indah di dadanya itu sembari bibir kami terus beradu. Tangannya menjangkau tanganku dan membawanya merabai gunung kembar itu dengan cara yang disukainya. Ia bahkan membiarkanku meremasnya.

Darahku serasa naik sampai ke kepala. Aku sudah tak tahan lagi. Kupegang panggulnya dan kudesak ia beberapa kali maju mundur. Ia sesekali meringis dan mendesis karena gerakan itu, tapi tiap kali kelaminku menyodoki kemaluannya, tiap kali itu pula ia memajukan panggulnya hingga rasanya aku masuk makin dalam dan liangnya jadi makin sempit karena kontraksi.

Yo.. rintihnya sambil berpegangan erat pada tepi meja saat kupaksa anuku masuk lebih dalam lagi. Tiap kali ia mengeluh, memanggilku, aku jadi makin semangat. Bagai kesetanan (mungkin memang kesetanan) tubuhnya kurangkul, kuciumi bibir, leher dan dadanya dan kutahan panggulnya kuatkuat saat semenku menyembur ke liangnya. Gelenyar nikmat menjalari setiap titik syaraf di tubuhku.

Tanti berkacakaca, segaris air mata membasahi pipi kirinya. Sakit? tanyaku. Ia menggeleng dan merebahkan tubuh ke dadaku. Tanganku diraih dan diletakkannya di pipinya. Saat itu baru kusadar betapa putih kulitnya dibanding kulit sawo matang gelapku. Kukecup dahinya. Ia makin merapat padaku berusaha menghangati tubuh telanjangnya dari suhu AC yang menggigit.

Berapa lama sudah? tanyaku setelah beberapa saat berdiam diri.
Maksudmu?
Ini bukan pertama kalinya kan? tebakku.

Kapan terakhir kamu melakukannya?
Apa itu perlu?
Ingin tahu saja.

Ia menghela napas.

Aku tidak segampangan yang kau sangka.
Jelas. Tapi boleh dong aku tahu, aku ini nomer berapamu? rajukku.
Tanti menghela nafas dan menatapku luruslurus. Ia mengangkat dua jarinya di depan hidungku. Masa, sih? tanyaku tak percaya sekaligus bangga.

Buat apa aku bohong? katanya sambil berbalik memunggungiku lalu meraih wadah rokok dan pematikku, disulutnya sebatang.
Siapa yang pertama, pacarmu, teman di kantor lama, atau.. suamimu? selidikku.
Bukan urusanmu, gumamnya.

Asap rokok dihembus kuatkuat. Kuambil rokoknya. Kuciumi bibirnya.

Sorry, cuma penasaran aja. Janganjangan kau hobi meniduri kolega, ia tertawa.
Sembarangan. Nggak lah. Mungkin kita cocok aja.

Ia menggeser mouseku dan mengklik ikon Winamp. Sesaat kemudian Get Lost in Your Eyesnya Debbie Gibson mengalun.

Cocok, gimana? kusibak rambut yang menutupi tengkuknya dan kuciumi belakang lehernya.
Mmm.. kamu.. kreatif.. jawabnya.

Ciumanku menjalar ke punggung, bahu dan pipinya.

Jelas dong. Senior Art Designer! Tapi masa cuma kreatif aja, nggak ada lainnya? tuntutku di telinganya.

Aku mulai panas dingin lagi.

Lho, jarang lho cowok kreatif soal making love, tegasnya.
Mhhm. Kalau cowokmu dulu.. gimana? kejarku.

Ia langsung berbalik dan menyumbat mulutku dengan ciuman.

Jangan ngomong soal orang itu, ah! tolaknya.
OK. soal kita saja, ya.

Kami mulai bercumbu lagi. Seperti tadi, ia menggerayangiku ke manamana sementara lidahnya bermain di kedua putingku. Tibatiba tangannya meluncur turun merabai perutku, menyusuri rambut pendek yang tumbuh mulai bawah pusar hingga ke pangkal batang kemaluanku. Lalu ia mulai menjahili kelaminku yang setengah ereksi. Betulbetul bikin penasaran. Cuma telunjuknya saja yang ke sana kemari merambah batang kemaluan sampai kantung zakar.

Shake me, kataku. Ia raguragu. Kugenggamkan tangannya ke kelaminku. Ia langsung melepaskannya. Please, pintaku. Sekali lagi kubawa tangannya ke sana. Ia menekanku lembut. Sakit nggak? tanyanya. Aku menggeleng. Ia mulai mengurutku. Amboi! Si kecil langsung menegang penuh. Tanti menghela nafas dan merapatkan tubuhnya padaku. Kuangkat ia ke meja poster di sebelah mejaku. Lembarlembar storyboard, disain poster, kepingan negative slide dan sebuah asbak penuh puntung kusapu begitu saja saat kami menaiki meja.

Babak kedua dimulai. Berada dalam tindihan tubuhku, Anita begitu penurut dan mesra. Ah, seandainya ia juga begini saat kami mengolah iklan. Ia seakan tahu apa yang kuinginkan dan membiarkan aku berbuat semauku. Dinding keramik ruang kerja kami memantulkan bayangan tubuh kami yang saling merapat, persis seperti lambang YinYang.
Desah Tanti makin jelas. Meski Tanti menyambut semua ciumanku dengan hangat dan membawa tanganku kemanamana menyusuri tubuhnya, gerbang selatannya tak seramah si pemilik. Tiap kali kuayun panggulku agar tongkatku masuk lebih dalam, terowongan yang tersembunyi di balik hutan kecil itu melawan habishabisan. Makin kugoyang, makin sempit saja rasanya. Di antara jepitanjepitannya yang heboh, otot liang Tanti sesekali bergerak memutar batangku. Ooh, dimana anak ini belajar jurus begituan?! Aku sempat kelabakan juga untuk mengimbanginya. Untung, Tanti sendiri agaknya tak cukup kuat menahan orgasmenya.
Tak lama kemudian liangnya membasah dan makin licin. Runtuh juga akhirnya pertahanan yang gigih itu. Dengan semangat juang membara aku mulai memompa kuatkuat. Darahku rasanya berdesirdesir di ubunubun karena Tanti masih berusaha melakukan perlawanan terakhir meski sudah basah kuyup.

Batang kemaluanku rasanya seperti dipijat maju mundur oleh celah yang penuh dilumasi cairan kewanitaan. Tanti mulai terengahengah lagi. Jemarinya yang berkuku pendek mulai ngawur mencakari bahuku. Kutangkap kedua tangan mungilnya, kubawa ke atas kepalanya dan kutindih dengan lenganku.

Jangan galakgalak, dong, bisikku di telinganya.
S.. sori, aku nggak tahan.. sahutnya di sambil menarik nafas.
Nggak tahan ini ya.. kuayun panggulku perlahan hingga kemaluanku bergerak dalam liangnya.
Ngghh..! pekiknya sambil menggeliat.

Pahanya langsung mengencang mengepit pinggangku.

Yo, lepasin dong! rengeknya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku.
Nggak enak, nggak bisa peluk kamu.
Asal janji nggak main cakar, perih nih.. tawarku.

Ia mengangguk. Begitu kulepas, ia langsung mengusap bahuku.

Mana yang perih, ooh, ini ya? Kaciyaann.. ledeknya sebelum mengecupi lecet bekas kukunya itu.

Mau tak mau aku tertawa juga melihat ulahnya. Jeda sesaat itu ternyata justru mengobarkan klimaks yang tertunda karena cakaran Tanti. Masih tertawatawa, kuteruskan pompaan ke jalan bahagia Tanti yang sudah banjir deras. Tanti memekik tertahantahan setiap kali aku menggoyangnya. Ia menggeliat, menggelinjang tak karuan dalam tindihanku, namun tibatiba saja tubuhnya merapat erat.

Te.. rus.. Yo, teruss.. desahnya meracau.
Tahan Tan, sedikit lagi.. bujukku pada Tanti yang sudah mabuk orgasme.

Dengan sabar dan lembut Tanti mengulum bibirku, merabai dadaku, melarikan jemarinya ke tengkuk dan pangkal telinga serta mengusapi rambutku sampai akhirnya meriamku meletus habishabisan dalam liangnya.

Bukan Anita namanya kalau tidak penuh kejutan. Tak lebih dari sepuluh menit setelah kami selesai, ia sudah merosot turun dari meja poster dan memunguti bajunya yang terserak di lantai dan mejaku, sementara aku masih melayanglayang menikmati sensasi.

Sudah jam empat, kerjaan belum selesai, katanya.
Aku mandi dulu.

Hilang sudah Anita yang hangat dan merajuk manja. Kini kembali kulihat creative director yang dingin dan efektif. Hampir sejam Anita di kamar mandi, ia muncul dalam keadaan wangi dan berbaju bersih. Rambut lurusnya basah bekas keramas. Sisa air masih menetesnetes di ujung rambutnya.

Coba kau lihat ini, bagaimana kalau disainnya kita buat begini.. panggilku.

Selama ia mandi aku berhasil menyelesaikan rancangan storyboard utama berkat pikiran yang sudah jernih.

Ini bagus, katanya sambil menunduk memandangi disainku di layar komputer.

Entah kenapa tibatiba terlintas dalam pikiranku bahwa ia milikku dan jangan sampai teman sekantor lainnya mendekatinya.

Udah, kamu mandi dulu gih, cleanupnya biar aku yang rapiin, katanya dengan nada tak mau dibantah.
Kali ini dengan senang hati aku menurutinya. Saat office boy datang pukul 06:00, disain untuk presentasi internal sudah selesai seluruhnya, kami juga sudah merapikan meja poster yang semalam jadi arena pergumulan. Pukul 08:00 saat temanteman datang, mereka cuma melihat creative director and senior art designer yang asyik berkutat dengan komputer masingmasing.

Wah, hebat. Gimana nih kabar pasangan Lapis Legit kita? ledek Tigor si media planner.
Sip! kataku.
Storyboard utama sudah siap dipresentasikan.

Tigor ternganga.

Sialan. Kompak juga kalian, makinya kemudian.
Pukul 09:30, briefing di mulai. Dengan dingin Anita menerangkan pekerjaan kami, dan membagi kesempatan bicara untukku, namun tidak sekalipun ia memandangku. Entah apa yang dipikirkannya. Entah bagaimana kelanjutan hubungan kami nantinya.

September 7, 2024 Melepas Kerinduan Seks Dengan Kekasih Gelapku

Melepas Kerinduan Seks Dengan Kekasih Gelapku

Siang itu di sebuah rumah yang cukup asri, seorang gadis yang berambut panjang terurai dengan raut wajah yang manis terlihat sedang menanti kedatangan seseorang. Tibatiba datang seorang pemuda yang mengenakan kaos biru di padu dengan jeans warna serupa. Dia berjalan menuju kerumah gadis yang sedang asyik duduk di depan rumahnya, si gadis sesekali mengawasi depan rumahnya kalaukalau yang di tunggu sudah datang atau belum.
Dengan senyum yang manis kemudian gadis itu menyapa sang pemuda yang kelihatan rapi, harum dan segar siang itu. Hallo Mas Adietya sayang.. sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku.
Hallo juga.. Sayang, balasku pendek.
Sudah lama yah nunggunya, lanjutku lagi. Antara aku dan si gadis memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masingmasing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah sang gadis nampaknya sedang sepi, dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti sore. Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata. Adiet kangen banget nih sayang, bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya.
aku juga kangen Mas sayang.. jawabnya pelan. Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu si gadis dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampaisampai kita bisa merasakan hembusan nafas masingmasing, saat kita bertatapan wajah. Kamu cantik sekali siang ini sayang.. kataku lembut. Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Si gadis tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat. Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya. Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 36b itu. Jemari tanganku langsung mengelus tepian payudaranya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual. Ohh.. Mas sayang.. desahnya lembut. Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri payudaranya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung payudaranya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali. Ohh.. Mas sayang.. Enak sekali. Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata. Sayang.. Payudara kamu sungguh indah bentukya, bisikku lirih di telinganya. Sang gadis hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak si gadis berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bungabunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya. Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy sang gadis dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Sang gadis masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh sang gadis kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut. Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh sang gadis kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau sang gadis sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku. Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh sang gadis. Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy. Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih. Oh.. Mas sayang.. desahnya parau. Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan. Ssshh.. desisnya lirih. Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar sang gadis mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu vaginanya yang menyerupai garis segitiga. Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar vaginanya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang vaginanya. Tubuh sang gadis mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas vagina miliknya oleh ujung lidahku. Ohh.. Mas sayang jeritnya tertahan.
Aku nggak kuat Mas.. tambahnya lirih. Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh sang gadis dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap penisku yang sudah berdiri tegang sekali. Dengan gerakan lincah bibir sang gadis langsung mengulum kepala penisku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala penisku yang mengkilat. Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang penisku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku. Ohh.. Sayang desahku pelan. Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat sang gadis menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai. Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang penisku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah vaginyanya. Oh.. Mas sayang.. Please.. Aku enggak kuat jeritnya lirih. Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua payudaranya bergantian dan berakhir di puting payudara yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar. Ohh.. Mas sayang.. Sekarang yah pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu. Perlahan aku mengarahkan batang penisku tepat di belahan vaginanya dan mendorongnya lembut. Slepp.. irama yang di timbulkan ketika penisku sudah menyeruak bibir vaginanya. Kembali bibir sang gadis mengeluarkan desahan sexynya. Hekk.. Mmm.. gumamnya lirih. Setengah dari batang penisku sudah masuk ke dalam vaginanya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut. Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang penisku ke rongga vaginanya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung penisku menyentuh Gspotnya. Mulut sang gadis menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya. Mmm.. Mmm gumamnya. Sambil menahan nikmat, tangan sang gadis menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya sang gadis akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih. Ohh.. Mas sayangg.. jeritnya bergetar. Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga vaginanya menjepit erat batang penisku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang sang gadis kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata. Thanks yah.. Mas sayangucapnya mesra. Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan. Aku bahagia.. kalau sayang bisa menikmati semua ini ucapku kemudian. Hanya beberapa saat setelah sang gadis mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan vaginanya yang menggairahkan. Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang penisku dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap penisku menyeruak sedikit demi sedikit membelah vaginanya lembut. Slepp.. masuklah setengah batang penisku ke dalam rongga vaginanya.
Sss.. sang gadis mendesah menerima desakan penisku. Tanganku perlahan meremas payudaranya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga vaginanya lebih dalam. Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang penisku dapat menyentuh Gspotnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua payudara berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya. Ohh.. Mas sayang desahnya. Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan penisku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan vaginanya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua payudaranya lembut. Sayang aku mau keluar nih, bisiku lirih.

Ohh.. Mas sayang aku juga mau sahutnya pelan. Aku mempercepat gerakanku memompa vaginanya dari belakang tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua payudaranya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua pinggulnya erat dan memajukan penisku lebih dalam. Creett.. Ohh.. Sayang, jeritku kemudian. Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga vaginanya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya penisku mengecil dengan sendirinya di dalam vaginanya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan. Demikianlah rasa rinduku terhadap kekasihku setelah beberapa lamanya tidak saling bertemu episode cerita dewasa kali ini.

September 7, 2024 Sejak Pertama Kali ML, Aku…..

Sejak Pertama Kali ML, Aku…..

Namaku Anggi, umurku 22 tahun. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Saat ini aku sudah berada di tingkat akhir dan sedang dalam masa penyelesaian skripsi. Sebelum aku memulai kisah yang akan menjadi kisah indah bagiku, perkenankan aku mendeskripsikan diriku. Tinggiku 160 cm dengan berat 45 kg. Rambutku hitam panjang sepinggul dan lurus. Kulitku putih bersih.

Mataku bulat dengan bibir mungil dan penuh. Payudaraku tidak terlalu besar, dengan ukuran 34 B. Sebulan yang lalu, seorang lakilaki berumur 28 tahun memintaku jadi pacarnya. Permintaan yang tak mungkin aku tolak, karena dia adalah sosok yang selalu ku impikan. Dia seperti pangeran bagiku. Badannya yang tinggi dan atletis serta sorot matanya yang tajam selalu membuatku terpana.

Namanya adalah Rico, kekasih pertamaku. Rico sudah bekerja di perusahaan swasta di Jogja. Rico sangat romantis, dia selalu bisa membawaku terbang tinggi ke dunia mimpi. Ribuan rayuan yang mungkin terdengar gombal selalu bagai puisi di telingaku. Sejauh ini hubungan kami masih biasa saja. Beberapa kali kami melakukan ciuman lembut di dalam mobil atau saat berada di tempat sepi. Tapi lebih dari itu kami belum pernah.

Sejujurnya, aku kadang menginginkan lebih darinya. Membayangkannya saja sering membuatku masturbasi. Hari ini (30 Maret 2010) tepat sebulan hari jadi kami. Rico dan aku ingin merayakan hari jadi tersebut. Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan weekend kita berlibur ke kaliurang. Sabtu yang ku tunggu datang juga. Rico berjanji akan menjemputku pukul 07.00 WIB.

Sejak semalam rasanya aku tidak bisa tidur karena berdebardebar. Untuk hari yang istimewa ini, aku juga memilih pakaian yang istimewa. Aku mengenakan kaos tanpa lengan berwarna biru dan celana jeans 3/4. Rambut panjangku hanya dijepit saja. Karena takut nanti basah saat bermain di air terjun, aku membawa sepasang baju ganti dan baju dalam.

Tak lama kemudia Rico datang dengan mobil honda jazz putihnya. Ahh,, Rico selalu tampak menawan di mataku. Padahal dia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans panjang. Sudah siap berangkat, Nggi? aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan masih cukup sepi. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai di tempat wisata. Ternyata pintu masuk ke area wisata masih ditutup.

Masih tutup, mas.. Kita jalan dulu aja ke tempat lain, gimana? tanyaku Iya.. coba lebih ke atas. Siapa tau ada pemandangan bagus. Rico segera menjalankan mobilnya. Tidak begitu banyak pemandangan menarik. Begitu sekeliling tampak sepi, Rico memarkir mobilnya. Kita nunggu di sini aja ya, sayang. Sambil makan roti coklat yang tadi aku beli. Kamu belum sarapan, kan?

iya, mas.. Anggi juga lapar Sambil makan roti, Rico dan aku berbincangbincang mengenai tempattempat yang akan kami kunjungi. Tibatiba Aduh Anggi sayang, udah gede kok makannya belepotan kayak anak kecil,,, ucapnya sambil tertawa. Aku jadi malu dan mengambil tisue di dashboard. Belum sempat aku membersihkan mukaku, Rico mendekat, Sini, biar mas bersihin. Aku tidak berpikir macammacam.

Tapi Rico tidak mengambil tisue dari tanganku, namun mendekatkan bibirnya dan menjilat coklat di sekeliling bibirku. Oooh,, udara pagi yang dingin membuatku jantungku berdebar sangat kencang. Nah, sudah bersih. Ucap Rico sambil tersenyum. Tapi wajahnya masih begitu dekat, sangat dekat, hanya sekitar 12 cm di hadapanku.

Sekuat tenaga aku mengucapkan terima kasih dengan suara sedikit bergetar. Rico hanya tersenyum, kemudian dengan lembut tangan kirinya membelai pipiku, menengadahkan daguku. Bisa ku lihat matanya yang hitam memandangku, membuatku semakin bergetar. Aku benarbenar berusaha mengatur nafasku. Seketika, ciuman Rico mendarat di bibirku.

Aku pun membalas ciumannya. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya. Ku rasakan tangan kanan Rico membelai rambutku dan tangan kirinya membelai lenganku. Tak berapa lama, ku rasakan ciuman kami berbeda, ada gairah di sana. Sesekali Rico menggigit bibirku dan membuatku mendesah, uhhhh refleks aku memperat pelukanku, meminta lebih.

Tapi Rico justru mengakhirinya, I love you, honey Lalu mengecup bibirku dengan cepat dan melepaskan pelukannya. Aku berusaha tersenyum, I love you, too. dalam hati aku benarbenar malu, karena mendesah. Mungkin kalau aku tidak mendesah, ciuman itu akan berlanjut lebih. Aaahh,,, bodohnya aku.

Rico lalu menjalankan mobilnya menuju tempat wisata. Kami bermain dari pagi hingga malam menjelang. Tak terasa sudah pukul 19.00 WIB. Sebelum kembali ke kota, kami makan malam dulu di salah satu restoran. Biasa, tidak ada makan malam hanya 1 jam. Selesai makan, ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30 Waduh, mas,,, sudah jam segini. Kos Anggi dah tutup, nih.

Anggi lupa pesen maw pulang telat. Gimana, ini? Aduuh,, gimana, ya?? Ga mungkin juga kamu tidur di kos mas. Uuuh,, gimana, dong?? Udah, jangan cemas. Kita cari jalan keluarnya sambil jalan aja. Selama perjalanan aku benarbenar bingung. Di mana aku tidur malam ini?? Sayang, kita tidur di penginapan aja, ya. Daerah sini kan banyak penginapan. Gimana?

Iya deh, mas.. dari pada Anggi tidur di luar lebih baik di penginapan Tak lama kemudia Rico berhenti di sebuah penginapan kecil dengan harga murah. Tapi ternyata kamar penginapan sudah penuh karena ini malam minggu dan banyak yang menginap. Sampai ke penginapan kelima, akhirnya ada juga kamar kosong. Tapi cuma satu. Karena sudah hampir pukul 23.00 kami memutuskan mengambil kamar di penginapan tersebut.

Sampai di kamar, Rico langsung berbaring di kasur yang ukurannya bisa dibilang single bed. Aku sendiri karena merasa badan lengket, masuk ke kamar mandi untuk ganti baju. Selesai mandi, dalam hati dongkol juga. Kalau tau nginap begini, satu kamar, aku kan bisa bawa baju dalamku yang seksi. Terus pake baju yang seksi juga.

Soalnya aku cuma bawa tank top ma celana jeans panjang. Hilang sudah harapanku bisa merasakan keindahan bersama Rico. Selesai mandi, aku segera keluar kamar. Tampak Rico sudah tidur. Sedih juga, liat dia udah tidur. Aku pun naik ke atas kasur dan membuat dia terbangun. Dah selesai mandi, ya.. Iya,, mas ga mandi?? Ga bawa baju ganti ma handuk

Di kamar mandi ada handuk, kok. Pake baju itu lagi aja, mas Rico mungkin merasa gerah juga, jadi dia pun mengikuti saranku. Gantian aku yang merasa mengantuk. Segera ku tarik selimut dan memejamkan mata tanpa berpikit apaapa. Baru beberapa saat aku terlelap, ku rasakan ada sentuhan dingin di pipiku dan ciuman di mataku. Saat aku membuka mata, tampak Rico telanjang dada.

Hanya ada sehelai handuk membalut bagian bawah. Badannya yang atletis tampak begitu jelas dan penampilannya membuatku menahan nafas. Ngga dingin mas, ga pake baju. Cuma pake handuk Kataku dengan senyum penuh hasrat. Tidak ada jawaban dari Rico. Dengan lembut dan cepat di rengkuhnya kepalaku dan kami pun berciuman. Bukan ciuman lembut seperti biasanya.

Tapi ciuman penuh gairah. Lebih dari yang tadi pagi kami lakukan. Lidah kami saling bermain, mengisap, mmmmmmm.. Ku lingkarkan tanganku di punggungnya, ku belai punggungnya. Tangan kananku lalu membelau dadanya yang bidang, memainkan puting susu yang kecil. Gerakanku ternyata merangsang Rico, di peluknya aku lebih erat, ku rasakan badannya tepat menindihku.

Rico mengalihkan ciumannya, ke telingaku, aaah,,mmm,, Tangannya menjelajahi badanku, menyentuh kedua gunung kembarku. Di belainya dengan lembut, membuatku mendesah tiada henti aaah,,mm,, masss,,,uhh,,, badanku sedikit menggeliat karena geli. Bisa ku rasakan vaginaku mulai basah karena tindakan tadi. Tangan Rico, kemudian masuk ke dalam tank topku, menjelajahi punggungku.

Seakan mengerti apa yang dicari Rico, ku miringkan sedikit badanku dan ku lumat bibirnya penuh nafsu. Rico pun membalas dengan penuh nafsu dan tidak ada 1 detik kait BH lepas. Ku rasakan tangan Nico langsung kembali ke badanku dan mmbelai langsung kedua payudaraku. aaah,,,uhhh,,, Sayang,,, tank topny dilepas, ya ujarnya dengan nafas tersengal karena penuh gairah.

Tanpa persetujuan dariku, lepaslah tank top dan juga BHku. Bagian atasku sudah tak berbusana. Rico langsung menikmati kedua payudaraku. Di remasnya payudaraku,,, membuatku menggeliat, mendesah, aaah,,sssmaass,,uhhh,,,, Erangan dari mulutku tampaknya membuat Rico semakin bernafsu, dia kemudian mengulum dan mengisap pentil payudaraku,

aaaahh,,,,ohhh,,,,,mmmm,,, aku mengerang, mendesah, menggeliat sebagai reaksi dari setiap tindakannya. Tangan kiri Rico membelai perutku dengan tangan kanan dan mulut yang masih sibuk menikmati payudaraku yang mengeras. Ku rasakan tanga kiri Rico cukup kesulitan membuka celana jeansku. Ku naikkan pinggulku dan kedua tanganku berusaha membukan kaitan celana jeans dengan gemetar.

Susah payah celana jeans itu akhrinya terlepas juga. Tanga kiri Rico tanpa membuang waktu langsung menyusup ke dalam celana dalamku, membelai vaginaku yang sudah basah, aaahh,,,maass,,aah,,teruus,,ssshh,,mmmmm Kurasakan Rico menekan klitorisku, aaahh,,,, membuatku semakin mendesah dan bergetar. Apalagi Rico masih mengisap puting payudaraku.

Tidak lama kemudian ku rasakan seluruh badanku terasa kencang, vaginaku mengalami kontraksi dan aku menggeliat hebat, AAAHHH,,,,,, sambil memegang pinggiran tempat tidur menyambut orgasme pertamaku. Rico tampak puas dapat membuatku merasakan orgasme. Belum selesai aku mengatur nafas, Rico berada di antara kedua pahaku, dijilatinya kedua payudaraku, turun ke bawah, menjilat kedua perutku.

Membuatku merasa geli penuh nikmat, Oooh,,mass,, Seakan tau apa yang ku inginkan, kedua tangan Rico melepas celana dalamku. Tampakalah vaginaku yang memerah dengan sedikit rambut halus di sekitarnya. Rico kemudian memainkan lidahnya di vaginaku. Rico menjilati, mengulum vaginaku, membuatku menggelinjang hebat dan ku rasakan kedua kalinya, adanya kontraksi, aaaaahh,,,,.
Aku orgasme untuk kedua kalinya. Sensasi yang sangat menyenangakan. Rico belum puas dengan orgasmeku tadi. Setelah dia membersihkan vaginaku, bisa kurasakan lidah Rico menerobos masuk dan menyerbu klitorisku. Nafasku semakin memburu dan dari bibirku a terus mengalir alunan desahan kenikmtan yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.
Aahh,, mas,,aah,,uuhh,,, eeenaakk,,mmm,,sss Aku sangat menikmati oral yang diberikan Rico. Kurasakan dorongan lidah Rico lebih dalam lagi ke dalam vaginaku, membuat cairan dari dalam vaginaku terus mengalir tanpa henti. membuat Desahan yang keluar dari mulutku semakin kencang.

Semakin lama Rico memberikan rangsangan di dalam vaginaku, membuatku menggeliat dan mengerang semakin kuat. Kurasakan lagi vaginaku berkontraksi, dan aku pun orgasme. Setelah orgasmeku reda, Rico dengan wajahnya yang basah dan penuh gairah menindih badanku yang sudah telanjang bulat. Rico mengulum bibir dan lidahku.

Tangan kiriku kemudian menarik handuk yang masih menutupi bagian bawahnya. Membuatku merasakan penisnya menusuk perutku, membuatku semakin bergairah. Ciuman kami semakin basah. Mulut kami terbuka lebar, bibir saling beradu. Lidah Rico dengan lincah menelusuri bagian luar dari mulut dan daguku. aku pun membalas kelincahannya. Lidahku membasahi mulut dan dagunya.

Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kulitku, kurasakan api hasrat liarku makin membesar. Lidah kami akhirnya bertemu. Aku makin bertambah semangat dan terus mendesah nikmat. Tanganku menelusuri seluruh bagian dari punggungku. Rico membelai kepalaku dan tangan kirinya meremasremas pantatku yang bulat.

aaahh,, mass,,, Rico tibatiba menghentikan cumbuannya, sayang aku mencintaimu, aku ingin kamu seutuhnya dan mencium lembut bibirku yang sudah basah. Aku sudah terlalu dipenuhi gairah karena segala tindakan Rico. Hingga rasanya bicara aku sulit. Kulingkarkan kedua lengaku di leher Rico dan kuhisap kedua bibirnya dalamdalam sebagai jawabanku. Aku ingin segera menanggalkan keperawananku dalam pelukan Rico.

Rico mengalihkan ciuman bibirnya keleherku yang putih, menciuminya, menjilatinya, membuatku semakin terangsang. Kurasakan penis Rico mengusap vaginaku, membuatku semakin bergairah, apalagi kedua payudaraku yang sudah sangat mengeras dimainkan oleh Rico. Jilatan Rico dari leherku terus kebawah hingga lidahnya menyentuh ujung puting susuku yang makin membuat aku mengerang tak karuan, aaahh,,,oohh,,,mmm,,aahh .
Sementara puting susuku yang satu lagi masih tetap dia pilin dengan sebelah tangannya. Kemudian tangannya terus kebawah payudaraku dan terus hingga akhirnya menyentuh permukaan vaginaku. Tak lama kemudian kurasakan penis Rico tenggelam di dalam vaginaku setelah susah payah karena vaginaku yang sempit. Uuuh,,,aarggh,,,, ku rasakan nyeri yang sangat hingga menangis.
Sakit ya, sayang sabar, ya.. Ntar juga hilang kok Rico menenangkanku, sambil mencium mataku yang mengeluarkan air mata. Setelah kurasakan vaginaku mulai terbiasa dengan kehadiran penis Rico, Rico kemudian menggerakkan penisnya perlahan, keluarmasuk vaginaku. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan membuatku mendesah nikmat. Makin lama makin cepat, kembali aku hilang dalam orgasmenya yang kuat dan panjang.

Tapi Rico yang tampaknya nyaris tidak dapat bertahan, semakin mempercepat gerakannya. Aku yang baru saja orgasme merasakan vaginaku yang sudah terlalu sensitif berkontraksi lagi.. Sayaang,, aku sudah mau keluar, dikeluarin di mana? tanya sambil terengahengah. Di dalam saja, mass,, Toh, aku juga dalam masa tidak subur. jadi buat apa dikeluarin di luar, pikirku. Tak lama kemudian aku segera mengalami orgasme bersamaan dengan Rico.

Ku rasakan semburan di dalam liang vaginaku yang memberikan kenikmatan tiada tara. Rico kemudian merebahkan diri di sampingku dan memeluk erat tubuhku. Tubuh mungilku segera tenggelam dalam pelukannya. Tangan Rico dengan lembut membelai rambut panjangku, Anggi sayang Selamanya kita bersama ya, sayang. dan ciuman lembut, romantis mendarat di bibirku.

Iya, mas.. ku cium bibirnya lambat tapi sesaat. kemudian ku rapatkan badanku ke badannya. Ku lihat jam di kamar menunjukkan pukul 01.00, mataku pun sudah lelah dan kami pun tidur dengan pulas. Pagi menjelang, sinar matahari masuk ke dalam kamar melalu jendela dan membangunkanku. Ada sedikit rasa terkejut melihat wajah Rico karena baru pertama aku tidur dengan lakilaki.

Tapi teringat kejadian semalam membuatku kembali terangsang. Perlahan, ku cium bibi Rico yang sedikit terbuka. Ternyata ciumanku membangunkan Rico yang kemudian membalas ciumanku dengan lebih bergairah dan menggigit telingaku. Selamat pagi sayangku, cintaku,, ucapnya. Pagi,,, ku cium lagi bibirnya dan tak lama kami pun saling mengulum bibir satu sama lai, dan memainkan lidah, menambah kenikmatan di pagi hari.

Karena ingin sedikit iseng, ku lepas ciumanku Aku mandi dulu, ya belum sempat aku berdiri, baru duduk, Rico menarik perutku, menciuminya dengan lembut. Membuatku menahan keinginan untuk meninggalkan tempat tidur. Nanti saja sayang.. Perlahan ciuman Rico dari perut naik menuju leherku, menjilatinya, membuatku mendesah nikamat, aahh..mmm.. Rico menjilati leherku dari belakang.

Tangan kanannya meremasremas payudaraku dan tangan kirinya menekan vaginaku. Ku rasakan jarinya masuk menyusuri liang vaginaku, memainkan klitorisku. Tak lama badanku pun menggeliat, pinggulku terangkat, dan orgasme pertama pagi itu datang. Dengan lembut Rico memangkuku. Diletakannya aku di atas kedua pahanya. Kakiku melingkar di punggungnya.

Kami pun berciuman dan Rico perlahan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Rico kemudian memompa penisnya, membuatku menggelinjang penuh nikmat. Sambil memainkan penisnya, Rico menikmati kedua payudaraku yang mengeras. aaah,,aah,,aahh,, semakin lama, semakin cepat, dan aku merasakan vaginaku kembali berkontraksi.
Ku peluk kepala Rico dengan erat dan aku mengerang karena orgasme Aaaaaaahhhh. yang disusul dengan Rico yang juga mencapai puncaknya. Setelah itu kami bercumbu lagi beberapa saat kemudian baru mandi dan pulang ke kota meninggalkan seprei kamar yang basah karena cairanku dan Rico serta bercak darah pertanda hilangnya keperawananku. Sebelum memulangkanku ke kos, kami mampir ke kos Rico untuk bercinta lagi.

September 7, 2024 Seorang Duda

Seorang Duda

Namaku Andra seorang duda, umurku 33th, dengan tinggi 170cm dan berat 64kg, serta kulitku lumayan putih. Mungkin dikira wanita2 yang disekelilingku, ak anak orang yg berkecukupan tp mereka meleset krn ak hanya anak orng biasa dan sederhana. Aku bersyukur diberi paras yg lumayan jg, tmn2 bilang musex(muka ngesex). Libidoku termasuk tinggi, Bibir yang enak dikulum(menurut wanita2 yang pernah berciuman dengan ak), lidah panjang lancip(wanita2 suka jilatanku yang bikin mereka orgasme dan ketagihan)karena memang ak suka sekali jilatin memek mereka.

Klo ukuran Penisku biasa saja tapi bengkok ke kiri, tp menurut wanita2 yang pernah menjalin hubungan denganku tidak mempermasalahkan ukuran Penisku dan mereka maklum sekali(karena yang paling bikin gemes n ketagihan mereka sama ak itu adalah bibir dan lidahku, bisa buat mereka orgasme berkali kali dengan jilatan lidahku). Sekarang ak sangat menikmati hidup dengan kesendirianku. Dan tidak lupa ak penyuka sex yang aman. Tipe cewek yang ak sukai adalah kulit bersih, tapi ak cenderung lebih suka kulit puber(putih bersih), yang paling utama mempunyai sepasang kaki yang indah (paha dan betis yang menggagirahkan) , badan sexy, payudara oke, wajah relatif yang penting enak dipandang,mempunyai vagina yang terawat(bulu dicukur rapi) ,umur wanita yang ak sukai biasanya lebih tua dari ak ,ga tau kanapa ak suka wanita yang lebih tua mungkin nyaman dan pengalaman kali. Apalagi klo lihat wanita umur diatas 35th yang sexy dan badannya terawat, tambah nafsu akunya. Tidak menutup kemungkinan wanita yang umurnya di bawah ak, jg suka yang penting seperti tipe ak diatas. Wanita bertubuh mungilpun ak pernah jg.
Kini aku tinggal bersama Paman n Bibi di salah satu kota di Jawa Tengah tepatnya di daerah kota Solo. Aku sekarang lg belajar usaha kecil2an dengan modal yang pas2an , , tp ak menikmati bekerja sendri. Dan berharap ada yang ngasih modal ato kerjasama bareng.

Di dalam waktu yang tepat ini ak akan bercerita tentang kisah sedihku dulu. Aku pernah menikah dengan seorang janda beranak 2 (cowo semua) dari kota lain th. 2000. Dia keturunan MenadoBelanda dng tinggi 168cm dan berat 55, walo udah melahirkan 2 orang anak tp msh kliatan cantik dan sexy, orang ga bakalan nyangka klo dia itu janda. Wajahnya ga kalah sama artis dng body yang sexy, paha dan betis yang sempurna, kulit mulus putih bersih, leher jenjang, mempunyai payudara yang indah, memek merah jambu warnanya dan dihiasi bulu2 tipis. Wanita semacam dia adalah tipe aku banget. Meskipun pernikahanku kurang disetujui orang tuaku, tp tetep ak jalani dengan tanggung jawab dengan aku bs menerima status dia dng anak2 tiriku yg aku sayang. Semua kebutuhan mrk ampe sekolah aku penuhin dan kebutuhan rumah tanggaku jg, namun sebagai pria normal yang bernafsu tinggi, penyaluran sexku adalah utama, hampir tiap hari aku melakukan hub sex dngn dia, dmn pun tmpt di dlm rmh ak coba, Petualangan sex di dlm rumah dengan berbagai kondisi pernah kami coba, dan pada akhirnya, setelah perkawinan menginjak tahun kedua yaitu th 2001 istriku mulai berulah dan berubah dengan memfitnah klo ak selingkuh dengan tetangga, dia melaporkan hal ini ke keluarganya yang tinggal disebelah rumah kontrakanku. Istriku membuat cerita2 bohong tentang diriku, dan ak meyakinkan keluarganya dan istriku bahwa ak tidah pernah melakukan perselingkuhan, sampai2 ak berani di sumpah. Karena ak betul2 tidak melakukannya. Tetap saja istriku semakin berulah dengan pulang selalu terlambat dan itu berlanjut. Tabunganku pribadi msh tetap dibawanya, rencana ak memang mau beli rumah mungil di daerah itu. Tabunganku itu sebagian uangnya merupakan pemberian dari orang tuaku. Agar aku bisa memiliki rumah walo sederhana dan tidak perlu kontrak lg. Seiring waktu berjalan hampir tiap hari ngajak ribut, ak merasa di dlm neraka. Ribut dan ribut terus. Posisi waktu itu ak memang sedang tidak bekerja, hanya serabutan. Dan penghasilanku tidak mencukupi. Kadang ada kerjaan kadang ya sepi. Pernah mencoba berdagang dengan berjalan kaki keliling kampung menjual sandal japit walo untung mepet tetep aku jalani. Klo ga laku ya langsung kena damprat istriku. Coba berdagang makanan yang ak bikin sendiri tapi mengalami nasib yang sama, ga banyak terjual. Menginjak tahun ketiga perkawinan rumah tanggaku semakin kacau. Adanya semakin menjadi krn ulah istriku, dtambah dlm setahun dua kali dia operasi krn hamil di luar kandungan, ada kista yang menutupi indung telurnya. Operasi pertama terjadi pada bulan april th 2002 krn ada pendarahan organ dlm perutnya, kubawa ke rumah sakit diperiksa dan ternyata istriku hamil tanpa sepengetahuanku, dia sengaja tidak memberitahuku dan digugurkan bayi yang di dalam rahimnya atas persetujuan ibu mertuakuGila. Pikirku. Kenapa dia melakukan itu.. ak kan juga pingin punya anak dari dia, kata ibu mertua dan istriku Ntar kasian anak2(maksudnya anak2 istriku itu).Ak juga tidak habis pikir, selama ini ak sama sayang banget dan sudah ak anggap anak sendri, dr hal kecil ak perhatikan dan tanggung jawab ke mereka dan keluarga. Ak mencoba mengerti kata ibu mertua dan istriku, tp ak ga trima, rasa ini hanya ak pendam sampai istriku menjalani dan perawatan pasca operasi. Aku tetap memperhatikan dia dngn penuh tanggung jawab walo hatiku sakit. Ak mencoba untuk ikhlas. Dengan biaya semua ditanggung keluargaku. Pasca Operasi akupun mengalami nasib ga enak lagi, ga dapet jatah ngesex selama setahun. Ak hanya bs bersabar, tp klo keinginanku meledak. Ak hanya bs ngesex sama TanTe RoSa ( Tangan Tengen Ro Sabun ) itu istilah jawa klo di indonesiakan ( Tangan Kanan Sama Sabun ). Klo Aku tak tahan, nafsu birahiku minta dituntaskan. Akupun pergi kekamar mandi. Sampai di kamar mandi, kukeluarkan penisku dari balik celanaku. Kukocokkocok sekitar lima belas menit. Dan crot! crot! crot! Spermaku muncrat kelantai kamar mandi. Lega sekali rasanya. Memang nasibku kurang baik, tp daripada jajan ak ga mau. Takut kena penyakit jg dan pada prinsipnya ak ga suka jajan gt. Berjalannya waktu hidupku semakin tersiksa, istriku masih berulah tetap pulang telat alasannya banyak kerjaan, anak2nya semenjak kami menikah jarang sekali diperhatikan dia, dari suapin anak,mandiin mereka, klo malam selalu ngompol yang gantiin ak juga dengan ngantuk2 dan istriku dengan pulasnya tidur. Kadang ak berpikir, gila bener selama nikah ternyata ak jd pembantunya tanpa ak sadari. Ak hanya bs sabar dan ikhlas krna ak tanggung konsekuensinya dah nikah ma dia. Waktu berjalan terus pada bln November 2002, istriku kesakitan di dlam organ perutnya, ak periksakan kembali dan ternyata penyakitnya sama, ad kista di indung telurnya dan harus diangkat krna pernah menjalai operasi pertama.Ak hanya bs pasrah dan berdoa di beri kekuatan,kesabaran dan keikhlasan, cobaan selama 3th perkawinanku ternyata lom berakhir. Setelah mendapat persetujuan, operasi segera dilakukan telah berhasil walo hatiku sedih. Kami sama2 sedih krn diberi cobaan berat. Setelah menjalani perawatan sampe selesai, ak diliputi kebingungan krn uangku tidak cukup untuk membiayai operasi dan perawatan. Ak beranikan telpon rumah tentang keadaanku sekarang sama orang tuaku, mereka kaget dan bs mengerti akan kesulitanku, mereka akhirnya membantu membiayai semuanya. Ak sangat malu sekali seperti ditampar mukaku waktu itu, sudah berkeluaraga tapi msih merepotkan orang tua. Tp mrk tetep sayang sama ak. Waktu demi waktu, istriku tambah berubah sama ak. Kumat lg ulahnyaseperti yang diatas kelakuannya terhadap akDan dia pernah berkata kepadaku.Gara2 km, ak operasi dua kali!Hatiku serasa diirisdan dalam hati kubertanya Kurang apa ak selama ini,dan apa yg diberikan dia kepadaku, ak hanya dimanfaatin..Walo ak kerja serabutan, tp ak tetep tanggung jawab dan berusaha sekuat tenaga. Setelah istriku operasipun ak bekerja sebagai kuli bangunan, itu selama 2 bln dan menerima bayaran seminggu sekali, bayaran tetep ak kasih walo sebenernya istriku malu ak sebagai kuli bangunan. Klo dibilang ga pantes ya lumrah, ak punya badan dan muka yang lumayan. Tp apa boleh buat, namanya tanggungjawab sm kluarga apapun dilakukan yg penting hasilnya halal. Tp kelakuan istriku bukannya menjadi baik tapi malah semakin tidak homat dan tidak menghargai sama ak. Tabungan yang sengaja tidak ak otak atik yang sekiranya ak simpan untuk beli rumah mungil kandas sudah, habis sama istriku. Ga tau untuk apa, dia dengan entengnya berkata.. Emang ak ga butuh duit? tp alasannya ga jelas yang semakin bikin ak muak sama dia.Dalam hati kuberkata Sampai kapan cobaan ini..Uang menipis, dia minta duit lagiAk bilang ga punya..Dia malah ngomong seenaknya tanpa perasaan Klo ga bs kasih duit, ak bs minta lelaki lainmsh byk yang mau denganku! .Dalam hati Ak bertanya Ak ini kenapa ya, di dpn dia kayak mati kutu.semacam disetir dia..kyaknya ad yang salah dlm diriku ini!.Ak ingat2 ternyata dia suka sekali pergi ke orang pintar entah apa tujuannya, pernah dia keceplosan. Dan memang benar kluarga dia itu suka mistik..beberapa hari setelah mendengar perkataan itu, ak mulai persiapan buat ak sendri. Mulai kumpulin uang seribu rupiah setiap hari dan mulai terkumpul ak simpan yang aman. Sebulan kemudian ayah mertuaku meninggal, menurut kabar berita yang ak terima, beliau kena guna2 dr teman sekantornya yang iri terhadap karir ayah mertua. Ak percaya ga percaya, yang penting ikhlasin saja kepergian beliu. Beliau paling baik terhadapku dan tak pernah terpengaruh omongan serta cerita2 bohong dr istriku dan ibu mertua. Beliau tau akan posisiku, mengerti dan memahami di dlam rumah tanggaku yg bermasalah. Setelah 2 minggu wafatnya beliau, ak beranikan diri pamit ke ibu mertua untuk pulang ke daerah asalku mencari pekerjaan yang menjajikan karena ak ditawari ayahku pekerjaan diperusahaan yang ternama disalah satu kota Y. Ak pamit ibu mertua dan kedua anak2 tiriku yg sudah seperti anak kandung sendiri. Mereka menangis terisak isak sambil berkata Papah Om jangan pergi, siapa yg temenin kita?..Ak jg sedih waktu mo meninggalkan mereka, tp bagaiman lg ini memang keputusan yang harus diambilAk berusaha membujuk dan berjanji akan menengok mereka.Ak pergi tanpa sepengetahuan istriku, waktu itu dia sedang bekerja. Krn ini memang rencanaku untuk meninggalkan dia, setelah bekerja ak akan datang dan mengajukan cerai. Berbekal uang seadanya ak bersyukur bs sampai di rumah orangtuaku, mrk senang akan kedatanganku krn sudah lama tidak ketemu. Waktu itu badanku kurus kering kayak orang kena narkoba dan pucat wajahku. Mereka hanya bs menghela nafas akan ceritaku yg sesungguhnya selama ak berumahtangga. Mrk akhirnya bs mengerti dan mendukung akan keputusanku yang ingin mengajukan cerai ke istriku. Sambil menunggu kabar ak diterima ato enggaknya bekerja di perusahaan yang pernah ayahku janjikan, ak mendapat kabar klo istriku di gerebeg satu RT kerena memasukkan 2 orang lelaki di kontrakan yang pernah ak tempati. Ak mendengar itu bukannya sedih tp gembira, ternyata itu sebuah petunjuk dr rentetan kejadian dan masalah yang selama ini ak alami. Aku bersyukur di bukakan hatiku yang selama ini ternyata ak kena guna2 dari istriku. Ak br percaya akan hal itu dan bersifat ghoib. Lambat laun badanku mulai berisi dan wajahku mulai memancarkan sinar keceriaan lagi, mendapat pekerjaan dan kehidupan yang normal seorang lelaki.

Pernah libidoku naik waktu melihat istriku memakai daster yg pendek sehingga terlihat paha mulusnya, lekuk tubuhnya kelihatan sempurna ketika itu istriku lg bermain dng anak2, ak mencoba mendekati dia. Aku cium tengkuk lehernya yg jenjang menyusuri kulit mulusnya, dia melenguh dan berkata.. Ughhhhhh..Sayang jangan,ad anak2″. tp aku makin menjadi, aku remas payudaranya dr belakang, aku gesek2 Penisku di pantat dia dan semakin tegang tanpa sepengetahuan anak2. dia makin mendesah dan mendesis.. Aghhhh Sayang kamu nakal sambil mendesah pelan menikmati rabaanku ke payudaranya yang indah, puting susunya semakin mengeras menonjol keluar dan waktu itu dia tidak memakai bra.. Kedua Tanganku mulai msuk di dlm dasternya.Aku remas pelan payudaranya.Aku pilin2 n dan aku putar2 puting susunya dengan jari telunjuk dan ibu jari sesekali ak jepit diantara jariku.. Dia tmbh mendesis kenikmatan..Oughhhh nikmat sayang..dengan suara lirih biar ga kedengeran anak2. Penisku semakin tegang dan aku gesek2 di belahan pantat istriku yang aduhai walo msh memakai daster tp kliatan menggairahkan aku mendesis pelan. Ughhhh nikmat sayangAshhhh. semakin aku remas payudaranya. semakin kenikmatan dia.suaranya mendesis lirih membuat aku tambah hot. Ashhhhh enak sayang, sambil dia berbisik kepadaku Dia ternyata juga menikmati rabaan dan pilinanku di payudaranya yg kencang. Waktu itu anak2 asyik dengan mainan mereka dan ga terpengaruh ato mungkin tidak mendengar suara papa mama mereka yang nafsunya lg bergelora. Kemudian aku berbisik kepadanya.Ma. ak dah tegang bgt ni,ughhhh. istriku menjawab dengan mata sayu karena terangsang berat. Iya Pa .. mama jg dah pingin ditusuk ni, Papa nakal sih. Tanganku masih gerilya di dalam daster istriku tangan dan jariku mulai turun raba n elus lembut perut ramping istriku.Dia benar2 pintar menjaga tubuhnya tetap bagus. Tangan dan jariku mengarah ke dua paha mulusnya. Ak usap2, ak elusedia kegelian dan mengerang pelan sambil mendesi.Agghhhhh. jariku mulai gesek2 CD nya yg terasa basah. Ternyata istriku menikmati rangsanganku hingga vaginanya lembab mengeluarkan lendir kawin Ak usap2 lembut bagian depan CDnya..dia mengerang kecil. Oughhhhh Pa .Enakkkk..Ughhhh. tangan dan jariku menuju selangkangan istriku.. dan ujung jari menelusup dalam CD istriku yg sudah basah.menyentuh ujung bibir vagina istriku yg terasa lembut, hangat dan basOhhhh Pa Enakk, desahnya, ketika kumasukkan jarijariku ke dalam lubang vaginanya yang telah basah. Setelah puas memainkan jarijariku dilubang vaginanya, kulepaskan dekapan dari tubuhnya. Aku berbisik kepada istriku Ma.. Papa tusuk ya sambil duduk di kusi itu. Ak sambil menoleh ke kursi di belang anak2. Mereka msh asyik bermain dengan mainan yg ak belikan tempo hari dan tidak menghiraukan kami yang lg bergeloraAku tarik pelan tangan istriku , dia mengangguk setujukrn dia juga menginginkannya.Dia sudah terangsang berat . Kami menuju kursi dan kupangku tubuh istriku yang menggemaskan membelakangi aku.Kami masih berpakaian lengkap, ak memakai celana pendek kolor, krn kebiasaan di rmh memakai celana pendek tanpa CD, sehingga klo sewaktu waktu minta jatah istriku tinggal melorotkan saja..Ak cium tengkuk dia sambil meraba payudaranya yg masih kencang dengan puting yang keras menjulang. Dia melenguh pelanPaaaa..ayo dung masukin penis papaMama dah ga tahan dan pingin ditusukUghhhhh.suara istriku bergetar menahan gejolak birahinya. Kemudian dia memintaku membantu menggeser CDnya kesamping selangkangannya. Vaginanya telah basah dan mengeluarkan bau yang khas.. Ak menjadi semakin bernafsu, rasanya ingin sekali kujulurkan lidahku dan menjilati lubang vaginanya dari belakang, sambil kuremasremas pantatnya. Tp karena kondisi yang yang tidak memungkinkan akhirnya aku alihkan pikiranku dan konsentrasi ke selangkangan istriku..Diraihnya batang penisku, dituntunnya ke lubang vaginanya. Perlahanlahan dia mulai menurunkan pantatnya. Kurasakan kepala penisku mulai memasuki lubang yang sempit. Penisku serasa dijepit dan dipijitpijit. Meski agak susah, akhirnya amblas juga seluruh batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Perlahan, centi demi centi, penisku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut penisku.istriku terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butirbutir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama istriku melenguh dan mendesis pelan AghhhhPaaaa.Mama mo kluaaaarrrr..dah ga tahan dikerjain papa tadiUghhhhh.Mama mo nyampe ni PaaaaUghhhhhhh.. Istriku tambah menaikturunkan pantatnya, dengan irama pelan. Diiringi desahandesahan lembut penuh birahi. Sesekali dia memutarmutar pantatnya, penisku serasa diadukaduk dilubang vaginanya. Aku tak mau kalah, kuimbangi gerakkannya dengan menyodoknyodokkan pantatku ke atas. Seirama gerakkan pantatnya..Aku mendesi kenikmatan..Oughhhh Maaaa Papa juga keenakan ni Keluar bareng ya Maaaaa . Semakin lama semakin cepat istriku menaik turunkan pantatnya. Nafasnya tersengalsengal. Dan kurasakan vaginanya berkedutkedut semakin keras.Ohhhhhg Paa Mama Mau Keluarr, desahnya pelann
Tahan Ma Akuu Belumm Mauu,bisikku.
Akuu Tak Tahann Sayang, bisikannya keras.
Tangannya mencengkeram keras pahaku.
Akuu Ke Ke Luarr Sayangg, bisikannya panjang. Dan Istriku mencapai orgasmenya. Istriku tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan. Vaginanya msh berada diatas selangkanganku. Ditekan penisku ke lubang vaginanya. Istriku mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama semakin dalam. Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Sesaat kemudian istriku mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali digoyanggoyangkan pantatnya kekirikekanan. Kutusuktusukkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya. Dan ku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme..Dan..Sayang Akuu Ke Keluarr, jeritku pelanKurasakan penisku berkedutkedut dan crott! crott! crott! kutumpahkan seluruh spermaku di dalam lubang Vaginanya. Oughh.. Paaa.. keluar lagi..
Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya msh kerasa. Aku dibuat terbang rasanya. Peniskuku berdenyut keras, ada sesuatu yang telah dimuntahkan oleh penisku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Istriku tlah orgasme yang kedua kalinya..Oughhhhhhh.. erangnya pelan..tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya Semakin cantik kalo melihat istriku sedang orgasme.Hmmmmmm. Kami berdua telah terpuaskan walo kondisi yang tidak memungkinkan, sebuah pengalaman yang indah. Kami pun cepat membetulkan pakaian masing2, takut ketauan anak2Untung saja mereka masih bermain main.
Suatu ketika ak habis mandi. Dengan hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku, aku pergi ke dapur. Membuat secangkir kopi. Sampai didapur kudapati istriku sedang mencuci piring.Pagi Mamaku syang sambil kecup kepalanya, sapaku.Istriku tak menjawab sapaanku. Mukanya cemberut. Aku tak heran, memang sering begitu. Ak memulai buka pembicaraan.Ada apa sih Ma, kok cemberut begitu, tanyaku lagi.
Mama marah sama aku? ..Istriku masih diam saja, membuatku tak enak hati dan bertanyatanya dalam hati..Ok, Ma. Kalau Mama nggak senang, aku nyingkir aja deh,..kemudia istriku mulai ngomong.

Mama nggak marah sama Papa ko, sahutnya sambil menarik tanganku.
Habis Mama marah sama siapa? Boleh tahu kan Ma ? tanyaku lagi.
Ok, Mama akan kasih tahu, tapi jangan bilang sama siapasiapa ya!, jawabnya.
Papa janji Ma, kataku meyakinkannya.
Pa.Mama lagi kesal sama Ibu(Ibu mertuaku), kata Istriku.
Kesal kenapa Ma?, selaku.
Belakangan ini, Ibu sering ngajak mama ribut terus, katanya sambil merebahkan kepalanya didadaku.
Setiap aku pingin dekat dengan anak2, Ibuku selalu menolak dan suruh jangan ganggu mereka karena lg asyik bermain( Ibu mertua lg bermain dengan anak2), imbuhnya
Mungkin Ibumu lagi lelah asyik tu Ma, hiburku sambil kuusapusap rambutnya.
Ah, masak setiap malam lelah, sahutnya.
Mungkin ada yang bisa Papa bantu, untuk menghilangkan kekesalan Mama, pancingkuMumpung anak2 lg sama eyangnyagodaku. Istriku tak menjawab pertanyaanku. Sebagai orang yang cukup berpengalaman soal sex, aku tahu Istriku sangat menginginkan hubungan sexsual. Maka dengan memberanikan diri, kukecup lembut keningnya. Dan kurasakan remasan halus tangannya yang masih memegang tanganku.
Merasa mendapat respon positif, kugerakkan bibirku menciumi kedua pipinya dan berhenti dibelahan bibir mungilnya.Istrikupun membalas kecupanku pada bibirnya dengan kuluman yang hangat, penuh gairah. kukeluarkan lidahku, mencari lidahnya. Kuhisaphisap dan kusedotsedot. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan kugerakkan menggerayangi istriku. Dan perlahanlahan kususupkan tangan kananku kebalik daster tipisnya. Dan kurasakan halusnya punggung Istriku. Sementara tangan kiriku meremasremas pantatnya yang padat. Istriku melepaskan seluruh pakaiannya. Agar aku lebih leluasa menggerayangi tubuhnya. Setelah semua terlepas maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang montok, perutnya yang ramping dan vaginanya yang ditumbuhi bulu halus. Membuat nafsu birahiku semakin menjadijadi dan kurasakan penisku menegang. Akupun melepaskan kulumanku pada bibirnya dan dengan sedikit membungkukkan badanku. Aku mulai menjilati buah dadanya yang mulai mengeras, secara bergantian. Puas menjilati buah dadanya, jilatanku kupindahkan ke perutnya. Dan kurasakan halusnya kulit perut Istriku. Istriku tak mau ketinggalan, ditariknya handuk yang melilit dipinggangku. Dengan sekali sentakan saja, handukku terlepas.

Ahhhhh sayang, dah ngaceng penismu, decaknya kagum, sambil memandangi penisku yang telah menegang dan mengacungngacung setelah handukku terlepas. Istriku menggerakkan tangannya, meraih batang penisku. Diusapusapnya dengan lembut kemudian dikocokkocoknya, membuat batang penisku semakin mengeras.

Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu, Kusudahi jilatanku pada perutnya. Kuangkat tubuhnya dan kududukkan diatas meja dapur. Kedua pahanya kubuka lebarlebar. Dan terpampanglah di depanku bukit kecil yang dicukur bersih. Bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil yang tersembul diatasnya. Kubungkukkan tubuhku dan kudekatkan wajahku ke selangkangannya. Dan aku mulai menjilati pahanya yang putih mulus, dihiasi bulubulu halus. Sambil tanganku merabaraba vaginanya. Beberapa menit berlalu, kupindahkan jilatanku dari pahanya ke vaginanya. Mulamula kujilati bibir vaginanya, terus kebagian dalam vaginanya. Lidahku menarinari didalam lubang vaginanya yang basah.Ohhhhh terus Paa terus Niiiik Matt, serunya tertahan. Membuatku semakin bersemangat menjilati lubang vaginanya. Kusedotsedot klitorisnya. Pantat istriku terangkatangkat menerima jilatanku. Ditariknya kepalaku, dibenamkannya pada selangkangannya.Ahhhhh Sayang Aku ga Tahan Masukin Paa Masukin penismu, pintanya mengiba. Kuturuti kemauannya. Aku kemudian berdiri. Kuangkat kedua kakinya tinggitinggi, hingga ujung jari kakinya berada diatas bahuku. Kudekatkan penisku keselangkangannya. Istriku meraih penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya. Aku diam sejenak mengatur posisi supaya lebih nyaman, lalu kudorong pantatku lebih keras, membuat seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Kurasakan penisku dijepit dan dipijitpijit lubang vaginanya yang sempit. Vaginanya penuh sesak karena batang penisku.Ouuuuggghhh Pelanpelan Paa penismu enak sekali., pekiknya, ketika aku mulai memaju mundurkan pantatku, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya. Tak terasa sudah tiga puluh menit aku memaju mundurkan pantatku. Dan kurasakan vagina istriku berkedutkedut. Dan otototot vaginanya menegang..Ohhhhhhh sayang Aku Keluarr Sayang, teriaknya lantang. Sedetik kemudian kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Dan Istriku mencapai orgasmenya. Istriku tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan. Dia turun dari atas meja dapur. Kemudian berjongkok dihadapanku. Diraihnya penisku dan dikocokkocok dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meremasremas buah pelirku.Agggghhhhh Maa Enak Niiikk Maatttt terus, seruku, ketika Istriku mulai menjilati batang penisku. Dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Mataku merem melek merasakan nikmatnya jilatan Istriku. Aku semakin merasa nikmat ketika Istriku memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Dan mulai mengulum batang penisku. Istriku memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Sementara tangannya mengocokngocok pangkal penisku..Ooughhhhhh Maaa Akuu ga Tahan, teriakku. Dan kurasakan penisku berkedutkedut semakin lama semakin cepat. Kujambak pelan rambutnya dan kubenamkan kepalanya diselangkanganku.Maaa Akuu Ke Luarr, teriakku lagi lebih keras. Istriku semakin cepat memaju mundurkan mulutnya. Dan crott! crott! crott! penisku memuntahkan sperma yang sangat banyak di mulutnya. Istrikupun menelannya tanpa raguragu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati sisasisa spermaku sampai bersihTerimakasih Papaku sayang, Papa telah memberiku kepuasan, pujinya sambil tersenyum.
Samasama Mamaku cantik, aku juga sangat puas, sahutku.
Mama masih mau lagi kan, tanyaku.
Mau dong, tapi kita mandi dulu yuk, ajaknya. Kemudian kami meraih pakaian masingmasing untuk selanjutnya bersamasama pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Sehabis mandi, masih samasama telanjang, kubopong tubuhnya menuju ruang tamu. Aku ingin melaksanakan impianku selama ini, yaitu bersetubuh sepuasnya mumpung anak2 ga ada.Pa Jangan disini sayang, nanti dilihat orang, protesnya.
Kan nggak ada siapasiapa di rumah ini kecuali kita berdua, sahutku. Istrikupun tidak protes lagi, mendengar jawabanku. Sambil berdiri kupeluk erat tubuhnya. Kulumat bibirnya. Istriku membalas lumatan bibirku dengan pagutanpagutan hangat. Cukup lama kami bercumbu, kemudian aku duduk dikursi sofa. Dan kusuruh Istriku berjongkok dihadapanku. Istriku tahu maksudku. Diraihnya batang penisku yang masih layu. Dieluselusnya lembut kemudian dikocokkocok dengan tangannya. Setelah penisku mengeras Istriku menyudahi kocokannya, dia mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Lidahnya dijulurkan dan mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputarputar dikepala penisku, kemudian turun kepangkalnya..Oouuggghhhh terus Maa Nikmat banget, desahku.Isepp Maa Iseppp, pintaku. Istriku menuruti kemauanku. Dimasukkannya penisku kemulutnya. Hampir sepertiga batang penisku masuk ke mulutnya. Sambil tersenyum padaku, dia mulai memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku maju keluar masuk dimulutnya..Maa Aku Tak Tahan, seruku. Istriku kemudian naik ke pangkuanku. Vaginanya pas berada diatas selangkanganku. Diraihnya penisku dan dibimbingnya ke lubang vaginanya. Istriku mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama semakin dalam. Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Sesaat kemudian Istriku mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali digoyanggoyangkan pantatnya kekirikekanan. Aku tak mau kalah, kusodoksodokkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya.Uuuuuhhhhhh Paa Aku Mauu Ke luarr, teriaknya setelah hampir sepuluh menit menggoyang tubuhku. Dan kurasakan otototot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram dadaku dengan keras. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat merembes dilubang vaginanya..Mama tak ingin mengecewakanmu Pa, katanya sambil tersenyum. Dia menarik penisku keluar dari lubang vaginanya, kemudian memasukkannya ke lubang vaginanya dengan posisi duduk membelakangiku. Istriku rupanya tahu kesenanganku. Meski agak susah, akhirnya bisa juga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Perlahan tapi pasti Istriku mulai menaik turunkan pantatnya. Membuatku merasakan nikmat yang tiada taranya. Cukup lama Istriku menggoyanggoyangkan pantatnya, kemudian kami berganti posisi. Kusuruh dia menungging, membelakangiku dengan tangan bertumpu pada kursi taman. Kugenggam penisku dan kuarahkan tepat ke lubang vaginanya. Kudorong sedikit demi sedikit, sampai seluruhnya amblas tertelan lubang vaginanya. Lalu kudorong pantatku maju mundur. Kurasakan nikmatnya lubang vagina Istriku. Sambil gesek2 klitorisnya dengan jarijariku. Membuat nafsu birahi Istriku bangkit lagi. Istriku mengimbangi gerakkanku dengan mendorongdorong pantatnya seirama gerakkan pantatku. Aku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Demikian juga jarijariku semakin cepat gesekan ke klitorisnya.Maa Maaa Akuu Mau Keluar, serukuAkuu Juga Paaa, sahutnya. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kami mencapai orgasme. Kutarik penisku dari lubang vaginanya, dan kutumpahkan spermaku dipunggungnya. Istriku kemudian membalikkan badannya dan berdiri, sambil memintaku duduk kursi sofa. Didekatkannya selangkangannya kewajahku. Ditariknya rambutku dan dibenamkannya kepalaku keselangkangannya. Dan akupun mulai menjilati vaginanya sambil duduk. Kuhisap dan kusedotsedot cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Istriku sangat puas dengan perlakuanku.

Hari itu kami melakukan persetubuhan sampai puas, dengan berbagai macam gaya . Sungguh luar biasa Istriku, meskipun janda. Tapi dalam soal bersetubuh dia tak kalah dengan seorang gadis. Memang sungguh nikmat Istriku. Vagina dan mulutnyanya sama nikmatnya. Membuatku ketagihan menyetubuhinya. Meskipun kita suami istri, tapi penuh variasi, sperma tidak selalu dikeluarkan di dalam vagina.

Percintaan dan persetubuhan dengan Istriku sekarang hanya tinggal kenangan, setelah bercerai ak masih melakukan aktifitas sex walo tidak terlalu sering dengan wanita2 yang ak kenal. Banyak variasi dan pengalaman. Waktu di kota Yogya ak berkenalan dengan seorang wanita di salah satu perusahaan tempat kerjaku. Namanya Vira. Kami mulai akrab dan sering ketemu, pada suatu waktu ak main ke tempat kosnya. Dan ditempat kos dia itu terkenal bebas, banyak pasangan muda mudi yang asyik dengan pasangan masing2. ak ngiri melihat mereka.

Dan Nafsu birahiku tak tertahankan lagi, penisku menegang dibalik celanaku. Tanpa sadar kupeluk tubuh Vira yang berdiri di depanku. Vira diam saja dan membiarkanku memeluknya. Malah tangan dibawa ke belakang dan disusupkan ke balik celanaku. Mendapat perlakuan seperti itu, nafsuku semakin memuncak dan penisku semakin menegang. Apalagi saat Vira menggerakgerakkan tangannya mengocokngocok batang penisku, membuat nafsu birahiku semakin tinggi. Kususupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dapat kurasakan vaginanya yang telah basah, pertanda Vira juga bangkit nafsu birahinya. Kucucukcucuk vaginanya dengan jarijariku. Dia mendesah penuh nafsu. Vira mengimbangi dengan semakin cepat mengocokngocok penisku. Sekitar sepuluh menit Vira mengocok penisku. Vira kemudian menyudahi kocokkannya dan membalikkan badannya, menghadap ke arahku. Ditariknya celanaku hingga terlepas. Setelah celanaku terlepas, keluarlah penisku yang tegang penuh dan mengacungacung dengan bebasnya. Vira terpukau melihat penisku yang bengkok. Vira kemudian berjongkok dikakiku, wajahnya berada pas di depan selangkanganku. Vira mendekatkan mulutnya kebatang penisku. Mulamula dia menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Terus dia mulai mengulum dan menghisap kepala penisku. Kemudian sedikit demi sedikit batang penisku dimasukkannya ke dalam mulutnya sampai kepala penisku menyodok ujung mulutnya. Dan mulutnya penuh sesak oleh batang penisku. Dengan lihainya, Vira mulai memajumundurkan mulutnya, membuat penisku keluarmasuk dari dalam mulutnya. Mataku meremmelek merasakan nikmat dan badanku serasa panas dingin merasakan kuluman di penisku. Vira sangat lihai mengulum penisku. Kudorong maju pantatku dan membenamkan kepalanya ke selangkanganku. Sekitar sepuluh menit berlalu Vira menyudahi kulumannya, dan melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian dia berdiri menghadap ke dindingOougghhhhh Aggghhhhh Akuu nggak tahann Sayang, serunya tertahan.
Tusukkk aku Tussukk Say, imbuhnya. Kutarik sget, desahnya sambil menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku, tak menghentikan sodokkanku pada Vira.
Aku jugaa Sayang, sahutku. Sementara itu, aku semakin cepat memajumundurkan pantatku, membuat Vira berteriakteriak saking nikmatnya. Kurasakan vaginanya berkedutkedut semakin lama semakin cepat dan menjepit penisku.Sayyy Saayyaaangg Akuu Mauu Keluarr, teriaknya panjang.
Tahann Say Aku Belum Apaapa, sahutku.
Aaaagggghhhh Akuu ga Tahan Sayang Akuu, jawabnya terputus dan vaginanya semakin keras menjepit penisku. Tak lama kemudian Vira mencapai orgasme. Kurasakan ada cairancairan yang merembes didinding vaginanya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kusuruh dia berjongkok dihadapanku. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkangku. Vira mengerti maksudku. Dia mulai menjilati dan menghisapisap penisku lalu mengulumnya. Sambil tangan kirinya mengusapusap buah pelirku. Lidahnya dijulurkan untuk menjilati buah pelirku. Tangan kanannya mengocokngocok pangkal penisku. Secara bergantian tangan kanan kiri Vira, mengocokngocok, bibir dan mulutnya menjilati dan mengulum penisku. Penisku keluar dari mulut Vira kemudiam masuk ke mulutnya lagi, kemudian keluar dari mulut Vira lalu masuk kemulutnya lagi, begitulah seterusnya. Hingga kurasakan penisku berkedutkedutSaaayyyyy Akuu Mauu Ke Keluarr, jeritku.
Keluarin di mulutku Sayang, sahut Vira lembut..Dan crott! crott! crott! Spermaku muntah dimulut Vira yang sedang kebagian mengulum. Vira menelan spermaku tanpa rasa jijik sedikitpun. Kemudian penisku kembali dimasukkan ke mulutnya. Dan sisasisa spermaku dihisap dan dijilatinya sampai bersih.Kamu puas Sayang, kata Vira.
Puas sekali Say, km memang luar biasa, sahutku.
Kamu mau yang lebih seru nggak,kata Vira.
Mau, mau .Say,sahutkuVira menyuruhku tidur terlentang diranjang, kemudian menarik kakiku, hingga pantatku berada ditepi ranjang dan kakiku menjuntai kelantai. Lalu Vira berjongkok dilantai dengan wajah berada pas di depan selangkanganku. Vira mulai mengusapusap dan mengocokngocok batang penisku yang masih layu, sehabis orgasme. Kurasakan sedikit ngilu tetapi kutahan. Vira menyudahi usapan dan kocokannya. Dan mulai menjilati dan menghisapisap penisku dimulai dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Lidahnya berputarputar dan menarinari diatas batang penisku. Puas menjilati penisku, Vira kemudian memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk kemulutnya. Dan kurasakan sedikit demi sedikit penisku mulai menegang didalam mulutnya, hingga mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang sudah tegang penuh. Vira sangat pintar membangkitkan birahiku. Mulutnya maju mundur mengulum penisku. Pipinya sampai kempot, saking semangatnya mengulum penisku. Vira nafsunya bangkit lagi. Dia merabaraba dan memasukkan jarijari tangan kirinya ke dalam vaginanya sendiri, sedangkan tangan kanannya meremasremas buah dadanya hingga mengeras dan padat. Diiringi desahandesahan penuh birahi disela sela kuluman penisku. Dia ternyata ga tahan juga, setelah puas mainin penisku dengan mulut dan lidahnya serta puas bermainmain dengan vagina dan buah dadanya sendiri, Vira kemudian naik ke atas tubuhku. Dan mengangkangi wajahku. Lubang vaginanya berada pas diatas wajahku. Dia menurunkan pantatnya, hingga bibir vaginanya menyentuh mulutku. Kujulurkan lidahku untuk menjilati vaginanya yang telah basah. Kucucukcucuk dan kusedotsedot klitorisnya, dia mengerangerang merasakan nikmat. Vira menarik rambutku, membenamkan wajahku diselangkangannya. Kepalaku dijepit dengan kedua paha mulusnya. Pasrah.
Dengan kedua jariku, kubuka vaginanya dan terlihat klitorisnya yang merah
merekah. Basah. Sungguh indah dan mengeluarkan bau yang khas. Kujulurkan lidahku di sekitar
pahanya sebelum mencapai klitorisnya. Vira mendesis desis dan mulai
meracau dan terlihat seksi sekali. Ayo, Sayang.. jangan buat ak tersiksa..
terus ke tengah sayang.. Aku malah menjilat bagian deket anusnya membuat dia
uringan uringan dan makin bernafsu. Bermain sex memang perlu teknik dan
kesabaran tinggi yang membuat wanita merasa di awang awang. Sayyyy.. gila
enek bangett.ke bawah sayang.. please.. Hmm.. iya nih, ak suka banget
melihat vagina yang indah ini sayang kataku terengah engah. Akhirnya
lidahku hinggap di labia mayoranya. Kusibak dengan lembut rimbunan hutan
yang sudah becek itu. Kuhirup cairan yang meleleh di sela selanya.
Kelentitnya kuhisap seperti menghisap permen karet. Akibatnya pantatnya
terangkat tinggi dan Vira menjerit nikmat. Lidahku terus merojok sampai ke
dalam dalamnya. Kuangkat pantatnya dan kupandangi, lalu kusedot lagi. Vira
berteriak teriak nikmat. Aku jadi kuatir kalau suaranya sampai keluar.. Tenang sayang, perang baru dimulai.. Kataku berbisik. Sayang kita 69 yuk.? Dia mengangguk dan perlahan aku putar posisi menjadi 69. Posisi yang paling aku sukai karena dengan demikian seluruh isi vaginanya terlihat indah. Batangku yang bengkok juga sudah terbenam di bibirnya yang mungil dan terasa hangat serta nikmat sekali. Kutahan agar aku tidak meletus duluan. Punya kamu enak Sayang.. Iya, sayang punya kamu
lebih enak dan baguss sekali.. kataku terengah engah. Uhhhh, becek
sayang.. Aku lanjutkan menjilat seluruh permukaan memeknya dari bawah.
Uh, benar pembaca, siapa tahan melihat barang bagus dan cantik ini. Yang
luar biasa warna bibir vaginanya merah muda merekah. Bentuk kemaluannya menggelembung. Ak ga tahan Say, cepetan Sayang..
Aku percaya jika sudah mencapai orgasme
dia justru akan berterima kasih dan menginginkannya lagi. Kembali
kujelajahi kemaluannya. Cepat cepat aku jilat berulang ulang klitorisnya.
Dan pembaca, apa kataku, pantatnya tiba tiba menekan keras wajahku
dan mengejang beberapa kali..lalu mengendur. Uuhh.. Ak nyampe Saayyy ..yyaangg..
aahh.. uhh.. uhh.. Masih dalam posisi 69, Vira terdiam sesaat, kulihat
kemaluannya masih merekah merah. Perlahan ia mulai bangkit dan mngecup
bibirku. Sorry sayang, Ak duluan.. Ga pa pa sayang.. kamu merasa
mendingan? Ia mengangguk, memelukku dan mencium bibirku. Terima kasih
Sayang, km emang hebat. Kami mengobrol sebentar namun
tangannya masih menyentuh nyentuh batangku. Ia mengambilkanku minuman dan menyorongkan gelas ke bibirku. Ketika
tegukan terakhir habis, bibirku perlahan mengulum bibirnya. Putingnya
mulai mengeras dan aku mulai aksi sedot menyedot seperti bayi. Vira
kembali menggelijang. Aku bisikkan perlahan, Vira.. ak pengen
menggendong kamu sayang. Hmm..mulai nakal ya.. katanya dan merentangkan
tangannya. Aku peluk dan angkat dia lalu kusenderkan ke dinding dekat meja
rias. Dari balik cermin kulihat pantatnya yang montok dan mulus itu,
membuat gairahku meledak ledak. Dengan posisi berdiri, tubuhnya sungguh
seksi. Aku perhatikan dari atas ke bawah, sungguh proporsional tubuhnya.
Segera kusedot putingnya dan jariku sebelah kiri segera mengelus rimbunan
hutan lebatnya. Basah, hmm..dia mulai naik lagi. Klitorisnya kupilin pilin
pelan dan Vira mendesis seperti ular. Making love sambil berdiri adalah
posisi favoritku selain 69. Perlahan sebelah kakinya kuangkat ke kursi pendek meja rias dan terlihatlah belahan vaginanyanya yang merah merekah, indah dan seksi sekali
Kuturunkan kepalaku dan segera kutelusuri paha bawahnya dengan lidahku.
Dari bawah aku lihat wajahnya mendongak ke atas menahankan nikmat. Sungguh
saat itu Vira kelihatan sangat seksi. Sebelum lidahku mencapai
klitorisnya, aku sibakkan labia mayoranya dengan kedua Ibu jari. Hmm..
sungguh harum. Cepat Sayang.. ak udah gak tahan.. jilat sayang.. jilat..
Benar benar nikmat melihatnya tersiksa, namun sebetulnya aku lebih
tersiksa lagi karena batangku sudah mengeras bagaikan batu. Aku nyaris tak
bisa menahan klimaks, namun aku harus membuatnya orgasme untuk kedua
kalinya. Benar saja, begitu lidahku menyedot klitorisnya, Vira langsung
mengejang dan berteriak pertanda orgasme. Kusedot habis cairannya. Luar biasa, aku menikmati ekspresinya ketika mencapai orgasme dan itu
jugalah puncak orgasmeku. Cepat aku berdiri dan aku tekan batangku ke sela
sela pahanya dan seketika muncratlah semua. crott.. crott..! Uuahh.. Ooughhhh
Sayangggg, kita keluar bersamaan sayang.. Iya, enak banget Say.. km membuat
ak melayang Sama.., Sayang ak berterima kasih.. Ak sayang
kamu juga. .kemudian ak mencium kening dan bibirnya dengan lembut.
Para Pembaca..Begitulah ceritanya. Tak selamanya seks harus
kluar masuk vagina ato lobang yang lain. Setelah kejadian itu Vira makin ketagihan. Dia sangat terkesan bisa mencapai orgasme berkali kali di atas bibir dan lidahku. Dia juga menyukai posisi 69 dan posisi berdiri yang bisa mirip 69. Kadang kadang
aku datang ke kosnya dan hanya dengan mengangkat roknya aku menjelajahi
area2 sensitifnya secara cepat dan efisien. Dan pada saat yang sama

aku juga mencapai orgasme. Masih ada Cathrine, Fitri, Anna, Anty, Dewi, Sofie, Shinta, Cynthia, Maya, Nita , Anne dan Amel, msh beberapa wanita yang tidak ak sebutkan di sini, yang ketagihan seperti Vira. Ada jg beberapa wanita yang ak puaskan itu memberi materi(uang) ke ak untuk mengucapkan terimakasih, sering ak tolak tp mereka malah marah n ngambek. Pada intinya bukan materi yang ak cari, sebuah kepuasan dan seni bercinta yang didasari suka sama suka dan saling Take and Give. Aku selalu bilang pada wanita2 berpendidikan itu bahwa suatu saat akan pasti ketemu lagi.

September 7, 2024 Asmara Di Toko Buku

Asmara Di Toko Buku

Pada suatu siang sekitar jam 12an aku berada di sebuah toko buku di Gatot Subroto untuk membeli sebuah majalah edisi khusus, yg katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos tshirt putih dan celana katun abuabu.

Novel Seks Sebenarnya bentuk tubuhku sih biasa biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tdk mancung dan tdk pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tdk ada yg istimewa denganku.

Saat itu keadaan di toko buku tersebut masih sepi, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 78 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yg juga hendak mengambil majalah tersebut.

Kami sempat saling berebut sesaat dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut sehingga majalah tersebut jatuh ke lantai.

Maafff.. kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yg ternyata adalah seorang perempuan yg berusia sekitar 37 tahun, berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. Busyet! molek juga nih ibuibu, pikirku.

Gpp kok, nyari majalah X juga yah.. saya sudah mencari ke manamana tapi nggak dapet, katanya sambil tersenyum manis.
Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak..
Kamu suka juga fotografi yah?
Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok..

Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya,

Ma, Mama.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah, potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.
Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan, katanya sambil menggandeng anaknya.

Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak papa, aku lihatlihat buku terbitan yg baru saja.

Sekitar setengah jam kemudian ada yg menegurku.

Hi, asyik amat baca bukunya, tegur suara wanita yg halus dan ternyata yg menegurku adalah wanita yg tadi pergi bersama anaknya.

Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.
Ada yg kelupaan Mbak?
Oh tdk.

Putrinya mana, Mbak?
Les piano di daerah Tebet
Nggak dianter?
Oh, supir yg nganter.

Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus. Akhirnya Mbak yg bernama Lina tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Lina duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.

Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tdk keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaikturunkan tumitku sehingga pahaku menggesekgesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggarukgarukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.

Ke mana? tanyaku.
Terserah kamu saja, balasnya mesra.
Kamu tahu nggak tempat yg privat yg enak buat ngobrol, kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.
Aku tahu tempat yg privat dan enak buat ngobrol, katanya sambil tersenyum.

Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremasremas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremasremas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesekgesekkan. Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tdk tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.

Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Lina yg berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesekgesekan dengan perlahan burungku ke pantat Mbak Lina, Mbak Lina pun memberi respon dengan menggoyanggoyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku.

Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Lina dari belakang, kuremasremas dadanya yg membusung dan kucium tengkuknya. Mmhh.. kamu nakal sekali deh dari tadi.. hhm, aku sudah tdk tahan nih, sambil dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempatsempatnya tangannya meremas batanganku.

Dia segera membalikkan tubuhnya, payudaranya yg berada di balik BHnya telah membusung.

Buka dong bajumu, pintanya dengan penuh kemesraan.

Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yg sudah keluar dari CDku. Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar. Aku sih tdk mau ambil pusing, segera kucium bibirnya yg tipis dan kulumat, segera terjadi pertempuran lidah yg cukup dahsyat sampai nafasku ngosngosan dibuatnya.

Sambil berciuman, kutarik kedua cup BHnya ke atas (ini adalah cara paling gampang membuka BH, tdk perlu mencari kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yg kecil warnanya coklat dan terlihat uraturatnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CDnya.

Ketika CDnya sudah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yg menggantung dekat lututnya, dan bibirku terus turun melalui lehernya yg cukup jenjang. Nafas Mbak Lina semakin mendengusdengus dan kedua tangannya meremasremas buah pantatku dan kadangkadang memencetnya.

Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa BHnya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yg cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan.

Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, ketika ciumanku mencapai bagian iga, Mbak Lina menggeliatgeliat, saya tdk tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yg memilinmilin putingnya yg sudah keras. Dan semakin ke bawah terlihat bulu kemaluannya yg tercukur rapi, dan wangi khas wanita yg sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali.

Kulihat Mbak Lina segera menghentakhentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Dan sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yg kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Lina bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Mbak Lina ingin menggerakgerakkan pinggulnya tapi tertahan.

Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Lina yg tadinya sayupsayup sekarang menjadi keras dan liar. Dan kuhisaphisap klitorisnya, dan aku merasa ada yg masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerakgerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Mbak Lina menjeritjerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tdk kuasa untuk menahan pinggulnya yg bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan,

Slebb.. tdk masuk, hanya ujung batanganku saja yg menempel dan Mbak Lina merintih kesakitan.

Pelanpelan Wan, pintanya lemah.
Ya deh Mbak, dan kuulangi lagi, tdk masuk juga.

Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahanlahan tapi pasti kudorong lagi senjataku.

Aarrghh.. pelan Wan.. Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah susah masuknya.

Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga. Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras.

Arrhhghh.. Mbak Lina menjerit, terlihat air matanya meleleh di sisi matanya.

Kenapa Mbak, mau udahan dulu? bisikku padda Mbak Lina setelah melihatnya kesakitan.
Jangan Wan, terus aja, balasnya manja.

Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Lina yg ketat sekali.
Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Mbak Lina. Terus terang saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini bisa dilihat dari keringatku yg mengalir sangat deras.

Setelah Mbak Lina tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Lina mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Lina mulai terasa licin dan rasa sakit yg diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini adalah sangat nikmat.

Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tibatiba dia memelukku dengan kencang dan,

Auuwww.., jeritannya sangat keras, dan beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.
Istirahat dulu Mbak, tanyaku.
Ya Wan.. aku ingin istirahat, abis capek banget sich..

Tulangtulang Mbak terasa mau lepas Wan, bisiknya dengan nada manja.

Oke deh Mbak, kita lanjutkan nanti aja.., balasku tak kalah mesranya.
Wan, kamu sering ya ginian sama wanita lain.., pancing Mbak Lina.
Ah nggak kok Mbak, baru kali ini, jawabku berbohong.
Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Wan, Kamu hebat Wan.. Sungguh perkasa, puji Mbak Lina.
Mbak juga hebat, lubang surga Mbak sempit banget sich.., padahal kan Mbak udah punya anak, balasku balik memuji.
Ah kamu bisa aja, kalau itu sich rahasia dapur, balasnya manja.

Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan.

Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami kaget saat terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yg tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan bermacammacam posisi.

Dan yg lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tdk menemui kesulitan yg berarti, karena selain kami sudah samasama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Lina tdk sesempit yg pertama tadi, mungkin karena sudah ditembus oleh senjataku yg luar biasa ini sehingga kini lancarlah senjataku memasuki liang sorganya.
Tapi permainan ini tdk berlangsung lama karena Mbak Lina harus cepatcepat pulang menemui anaknya yg sudah pulang dari les piano. Tapi sebelum berpisah kami saling memberikan alamat dan nomer telepon sehingga kami bisa bercinta lagi di lain saat dengan tenang dan damai.

September 7, 2024 Pengalaman Ngesex Pertamaku Waktu SMA

Pengalaman Ngesex Pertamaku Waktu SMA

Sebelumnya perkenalkan, sebut saja namaku Cindy umur 20 tahun. Aku akan menceritakan kisah seruku waktu masih duduk di bangku kelas 2 SMA di Surabaya. Aku sekolah di SMA swasta Katolik terkenal. Aku termasuk anak yang pandai di kelas namun tidak kuper. Temanku banyak, karena aku orangnya seru dan gokil. Dan aku juga suka pesta, bukan pesta sex lho he2 Beberapa waktu sekali aku dan teman teman segank suka mengadakan pesta di berbagai tempat. Kalau lagi ada uang kami bahkan menyewa restoran hotel untuk pesta. Dengan mengundang temanteman seangkatan, kami patungan untuk menyewa tempat. Kadang di Westin, Sheraton, Shangrila atau Majapahit.

Aku sangat menikmati masamasa SMA dulu, berkumpul dengan temanteman. Meskipun aku anak yang pandai tidak berarti aku anak yang belajar melulu. Aku juga pernah ikut temanteman bolos pelajaran atau eskul. Malah pernah aku terlibat ngerjai guru. Lucu sekali. Untung dengan wajahku yang polos ini aku dapat lolos dari hukuman. Aku bilang kalau aku tidak ikutikut. Dan para guru percaya. Yang kena ya temanteman pria.
Selain teman wanita, aku juga punya banyak teman pria. Tapi aku selalu memegang prinsip, bahwa selama belum kuliah aku tidak akan pacaran. Soalnya rugi. Aku tidak akan mendapatkan teman yang banyak. Beberapa dari mereka pernah berusaha menjadikanku pacar. Menurut mereka aku cukup keren dan asyik. Tapi aku ya menolak dengan halus sehingga tidak menyakiti perasaan mereka. Soalnya mereka juga teman sendiri. Kalau sakit hati kan persahabatan bisa bubar.

Kupikirpikir aku memang keren kok. Hihihi Yang jelas aku rutin aerobic seminggu tiga kali. Postur tubuhku juga lumayan, tapi beberapa teman mengatakan aku agak kurus. Dengan tinggi 163 cm, beratku hanya 46 kg. Tapi biarlah tidak papa. Yang penting kan sexy.

Kejadian mendebarkan dan tidak akan terlupa kualami waktu pesta Valentine bulan Februari. Seperti biasa, kami segera mempersiapkan event besar ini dengan pesta yang heboh. Bahkan kami menentukan tema pesta kali ini. Seluruh undangan harus pakai kostum aneh. Asyik juga meskipun akhirnya tidak ada yang sewa kostum, hanya kostum bikinan sendiri hasil modifikasi bersama.

Aku sendiri memakai gaunku yang model jaman kerajaan. Seperti gaun Cinderella dengan rok menggembung disumpal jalinan kain dan sejenis kawat lentur seperti kandang ayam. Payah juga. Agak mengganggu waktu duduk. Tapi saat aku memakainya aku seperti melihat wanita anggun tempo dulu. Hanya kurang payung kecil dan wig pirang. Aku mempersiapkan kostum ini semalaman dibantu Mamaku. Aku rasa ini akan jadi pesta Valentine terheboh sepanjang SMA.

Karena pada saat itu semua hotel tidak menyewakan restorannya (karena masingmasing sudah punya pesta Valentine), maka kami sepakat untuk menggunakan villa salah satu teman kami di Trawas. Villa ini besar sekali dan full fasilitas. Kami sudah sering menginap beramairamai di tempat ini.

Kami mengundang banyak sekali anak kelas 2. Maka saat kami memulai pestanya kami benarbenar seperti dalam acara besar. Ada yang berkaraoke, ada yang joget dan ada yang main billyard. Pokoknya kami menikmati seluruh fasilitas di villa.

Mendekati puncak acara, yaitu disko ramairamai, aku pergi ke meja minuman untuk mengambil minum lagi. David temanku yang anak orang kaya itu mensponsori berbagai macam minuman, dari yang beralkohol sampai juice buahbuahan. Aku tertarik dengan minuman berwarna hijau daun yang entah sampai saat ini aku tidak tahu namanya. Mungkin Fanta, hihihi.

Tibatiba dari bawah meja yang ditutupi taplak besar muncul salah satu temanku Andi.

Aku kaget dan bertanya, Ngapain kamu?

Dia bilang kalau mau bikin kejutan di tengah arena disko dengan muncul tibatiba pakai kostum Zorro. Aku hanya tertawa mendengarnya. Soalnya dari tadi Andi tidak muncul. Baru muncul sekarang dengan kostum Zorronya yang kacau balau.

Sekedar informasi, Andi adalah sahabat baikku sejak kecil. Kebetulan rumah kami berdekatan. Dari kecil kami selalu main bersama, sekolah di sekolah yang sama dan kadang kala beli baju kembaran. Orangtuaku dan orangtuanya sudah kenal baik sejak pindah di komplek perumahanku sekitar tahun 1980an. Sebenarnya aku ada sedikit perasaan sih sama Andi. Tapi kok rasanya dia hanya menganggapku saudara. Jadi ya kusimpan baikbaik saja. Yang tahu hanya sahabatku Rosa.

Aku menyetujui usulnya. Kemudian dia bilang kalau dia butuh bantuanku. Dia mau sembunyi di dalam rokku yang besar, terus aku disuruh jalan ke tengah arena, dan dia segera muncul. Kemudian berlagak menyandera salah satu cewek. Jelas saja aku tidak mau. Kesenangan dia dong. Terus dia bilang kalau dia kan sudah sering lihat aku berenang. Buat apa malu. Lagipula ini kan temanteman sendiri.

Setelah kupikirpikir, oke lah. Dia toh sudah sering melihatku pakai baju renang maupun baju senam kok. Dan aku tidak malu. Selama ini Andi juga tidak pernah kurang ajar padaku. Malah cenderung memperhatikan dan menyayangiku.

Kemudian setelah mendapat persetujuanku, dia segera mempersiapkan topengnya dan masuk ke dalam rokku. Tidak ada yang melihatnya masuk ke dalam rokku, karena meja minuman ini ada di sudut samping tangga, agak jauh dari kerumunan. Jadi semua berjalan lancar. Aku senyumsenyum saja membayangkan rencana si Andi. Sebenarnya risih juga ada seorang pria, meskipun si Andi, berada dekat sekali dengan daerah pinggulku. Tapi kupikir toh dia sudah sering lihat. Aku merasa dia sedang membetulkan posisinya di dalam rokku. Memang rokku besar juga dan Andi orangnya kurus. Tapi pasti cukup sulit bagi orang setinggi kirakira 175 cm untuk bergerak.

Tibatiba bagai disambar petir, aku baru ingat kalau aku ternyata hanya pakai celana dalam terbaruku yang model Gstring. Model celana dalam yang bagian depannya kecil sekali dan bagian belakangnya masuk di antara pantatku. Selain itu aku hanya pakai stocking warna coklat. Wajahku mendadak bersemu merah. Jantungku berdebar. Andi belum pernah melihat pantatku terbuka sedemikian rupa. Dia pasti melihat pantatku. Aku segera panik dan berusaha memanggil Andi.

Aku baru sadar kalau Andi diam saja di dalam rokku. Aku hanya merasakan hembusan napasnya di pahaku. Berarti dia sedang melihat daerah kemaluanku. Aku menepuknepuk rokku dan berusaha memanggilnya. Tapi dia diam saja. Kemudian kulihat Rosa dan Dewi menghampiriku. Mereka mengambil minum dan menanyakan kenapa aku berdiri di pojok terus. Kok tidak bersama teman yang lain.

Sementara aku bercakapcakap dengan Rosa dan Dewi, aku merasa kalau Andi berpindah ke belakang. Sial. Dia pasti sedang menikmati pantatku yang montok. Aku merasa hembusan napasnya yang dekat sekali. Sedetik kemudian dia mulai meraba pantatku. Aku tersentak, sehingga Rosa bertanya. Aku berusaha menjelaskan kalau aku hanya kaget karena minuman yang kuambil ternyata tidak enak. Aku segera berlagak mengganti dengan minuman yang lain.

Dalam hatiku berkata, Awas kamu Ndi..!

Sebenarnya aku bisa saja menolak dengan mengangkat rokku atau bergerak ke samping, sehingga Andi keluar. Tapi ada perasaan aneh dan mendebarkan kala Andi meraba pantatku. Aku merasakan sensasi yang aneh yang belum pernah kurasakan.

Tahu kalau aku tidak marah, Andi semakin berani. Dia mengeluselus pantatku dengan lembut, dari batas pinggul ke bawah terus hingga daerah selangkangan. Kemudian dia mengusapusap perlahan dengan gerakan tidak beraturan. Kadang berputar lebar, kemudian makin ke tengah. Aku begitu menikmatinya walau aku terus berbicara dengan Rosa dan Dewi. Entah rona wajahku berubah atau tidak.

Kemudian Rosa mengajakku karaoke. Aku bilang kalau aku masih mau mencobai minuman yang ada. Setelah Rosa dan Dewi pergi dengan keheranan, aku setengah berbisik memanggil Andi. Kutepuk kepalanya (kirakira) dan kusuruh segera keluar meskipun sebenarnya aku penasaran.

Andi hanya berkata, Sebentar..! sambil tetap meneruskan aksinya.

Kemudian disco time mulai. Lampu mulai dipadamkan, hanya lampu disko mini punya Samuel yang dinyalakan. Sehingga suasana cenderung gelap. Hanya arena disko yang agak terang dengan lampu warna warni. Kulihat beberapa pasangan mulai larut dalam kegelapan. Ada yang asyik berciuman, ada yang berdansa mesra, bahkan kulihat pasangan yang asyik petting di sofa. Aku mengingatkan Andi untuk segera memulai aksinya. Namun dia diam saja. Aku jadi salah tingkah.

Melihat suasana yang mendukung, Andi segera melancarkan jurus baru yang membuatku semakin terlena. Dia menciumi pantatku dengan lembut. Mulainya perlahan, dari pantat yang kiri kemudian yang kanan. Setelah mencium seluruh permukaan pantatku, Andi mulai menjilati keduanya. Aku sampai memejamkan mata karena asyiknya. Geli sekali tapi enak. Membuat bulu kudukku berdiri. Pantatku sampai tegang dan merapat. Suaraku masih menyuruh Andi keluar, tapi hatiku masih menginginkan dia meneruskan aksinya.

Saat itu perasaanku campur aduk. Otakku sudah lepas kontrol. Karena Andi merasa aku hanya setengah hati menyuruhnya keluar, dia semakin berani. Dia berpindah ke depan dan menempelkan mulutnya di daerah kemaluanku. Dengusan napasnya yang hangat sampai di antara pahaku. Aku bergetar dan mulai menyukainya. Aku diam saja waktu dia menciumi dan menjilati daerah itu sampai celana dalamku basah. Aku merasa otototot di sekitar kemaluanku mengejang. Rasanya seperti merapat terus.

Dia terus menjilati dan menyedot sambil tangannya meremasremas pantatku.

Aahh..! hanya desahan tertahan itu yang keluar dari mulutku.

Pantatku menegang terus karena geli dan nikmat. Aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan, karena ini pengalaman baru bagiku. Aku hanya merasakan dan merasakan. Suaraku tenggelam dalam suara keras house music yang berdebamdebam.

Kemudian Andi melakukan suatu hal yang paling mengejutkan seumur hidupku. Dengan beraninya dia menurunkan celana dalamku sampai ke paha. Aku malu sekali. Dia melihat hal yang tidak boleh dilihat. Dia melihat kemaluanku. Matanya tepat di depan kemaluanku. Sesuatu yang tidak pernah dilihat pria manapun sejak ditumbuhi bulu. Aku malu sekali dan menyuruhnya menghentikan perbuatannya. Tapi dia malah melepaskan celana dalamku sampai ke bawah.

Aku hampir marah padanya sampai tibatiba aku merasa ada benda lembut dan hangat lewat di antara paha yang kurapatkan menyentuh permukaan kemaluanku.

Aahh..! aku menjerit tertahan.

Antara kaget dan geli, kusadari dia menjilati kemaluanku. Lembut sekali. Mendadak kemarahanku hilang tidak berbekas, bahkan ingin dia tetap meneruskan. Aku memejamkan mata dan mengerang. Aku berpegangan pada sisi tangga dan meja minuman. Lidahnya bermain ke sana kemari. Benarbenar nikmat. Tanpa terasa aku semakin melebarkan kakiku.

Ahh..! jilatannya semakin terasa.

Seakan tahu keinginanku, Andi memasukkan wajahnya di antara pahaku dan menjilati kemaluanku sepuaspuasnya. Seluruh kemaluanku masuk ke dalam mulutnya. Kemudian dengan kuat dia menghisap kemaluanku. Rasanya seluruh cairanku terhisap keluar. Badanku menegang seperti orang kesetrum.

Setelah itu, lidahnya menjulur keluar masuk secara terus menerus namun lembut. Terbersit perasaan malu, namun nafsuku mengalahkannya. Pikiranku sudah terbang ke khayangan.

Uuhh..! Apalagi aku merasakan lidahnya bermain di antara belahan bibir kemaluanku. Dihisap, dikulum, dijilat dan diciumi. Sampai pada tahap lidahnya memainkan klitorisku.

Uuahh Sensasinya, benarbenar membuatku terlena. Dengan ujung lidahnya dia menjilati klitorisku. Ke atas ke bawah, berputar dan kadang dengan seluruh permukaan lidahnya yang lebar, melewati klitorisku ke depan dan ke belakang.

Aku sudah tidak perduli pada sekeliling. Toh suasana gelap. Aku membiarkan Andi menjilati dan memainkan kemaluanku. Celana dalamku terasa mengganggu sehingga aku membiarkan Andi melepaskannya dari kakiku. Kemudian salah satu kakiku dinaikkan ke pundaknya. Aahh Semakin nikmat. Aku membiarkan dia menghisap sambil kedua tangannya menyibak bibir kemaluanku. Aku merasa kemaluanku terbuka lebar dan bagian dalamnya dijilati oleh lidahnya yang lembut.

Luar biasa..! Benarbenar nikmat tidak terkira. Aku seperti orang gila yang menahan erangan. Ingin rasanya aku berteriak merasakan aksinya sepuaspuasnya.

Dalam waktu kirakira sepuluh menit dia mengerjai kemaluanku, aku merasa ada dorongan aneh. Seluruh otot di daerah kemaluanku mengejang dan rasanya seperti ada sesuatu yang mau keluar dari kemaluanku. Aku tidak dapat menahan dan mencengkram pinggiran meja dengan kuat. Andi tetap menjilati klitorisku dengan cepat. Dan akhirnya, setelah perasaan yang tidak dapat kugambarkan karena nikmatnya, aku menjadi lemas, lemas sekali. Seakanakan seluruh tulangku lepas. Aku sempoyongan. Untungnya Andi sigap dan menyangga kedua kakiku.

Dengan susah payah aku berpegangan pada tangga dan Andi keluar dari rokku dan memapah pundakku. Kemudian kami menyadarkan diri di tangga dan dia mengambil minuman segar dan menawarkan padaku. Aku mengangguk malu. Setelah kami berdua minum, dia segera mencium pipiku seperti biasa dan menanyakan padaku apa aku suka dengan tindakannya tadi. Ciumannya terasa lain. Lebih lembut. Aku purapura marah dan mengatakan aku tidak suka. Tapi Andi kembali mencium pipiku dan menggodaku dengan bertanya enak mana dihisap, dijilat atau dikulum? Aku memukul bahunya sambil menyembunyikan wajahku yang tersipu.

Aku masih malu sekali mengingatnya. Mungkin kalau lampunya terang dia dapat tertawa melihat wajahku yang tidak karuan. Sambil mengantongi celana dalamku yang jatuh di lantai dia berkata kalau pernah lihat BF dan ingin mempraktekkan apa yang dilihat. Terutama dia penasaran dengan kemaluan cewek. Penasaran apakah cewek memang bereaksi seperti itu atau hanya acting saja. Karena itu waktu melihat celana dalamku yang seksi itu dia penasaran ingin mencobanya.

Sialan, terus aku yang dijadikan kelinci percobaan pikirku.

Tapi itu nggak akan membuatku hamil kan..? aku bertanya polos.

Dia tertawa dan berkata, Gile kamu Cin, nggak ada yang masuk ke kemaluanmu kok. Kamu masih perawan, bagaimana bisa hamil..? Lagipula aku nggak akan merusak masa depanmu. Aku sayang banget sama kamu.

Lega juga mendengar perkataannya.

Aku sudah berpikir yang tidaktidak. Bagaimana kalau aku hamil..? Bagaimana kalau aku sudah tidak perawan..? Bagaimana kalau aku tidak kawin dengannya..? Namun aku lega semuanya tidak akan terjadi.

Malam itu aku meneruskan pesta sampai pulang tanpa menggunakan celana dalam, rasanya aneh, dingin. Sedang otototot kemaluanku masih berdenyutdenyut nikmat seperti perasaan mau pipis. Soalnya ini pertama kali aku orgasme. Ternyata asyik dan menegangkan juga berada di antara temanteman tidak memakai celana dalam. Dan mereka tidak tahu. Celana dalamku yang basah dimasukkan tasnya Andi bersama pakaian gantinya. Dia janji akan mengantarkan lewat pos. Sialan dia.

Sejak saat itu aku semakin akrab dengan Andi. Aku terkadang masih suka membayangkan perbuatannya pada kemaluanku. Kenikmatannya yang mengasyikkan. Andi juga semakin dekat padaku. Kemanamana makin sering berdua. Sampai temanteman mengira kami jadian. Kalau di rumah tidak ada orang, kami sering mandi bersama. Dan Andi masih sering melakukan kesukaannya mengerjai kemaluanku sampai aku orgasme, kali ini sambil meremasremas payudaraku.

Aku juga mulai belajar menghisap burungnya Andi. Lewat BF, aku belajar merangsang burung agar mencapai orgasme. Soalnya aku kasihan melihat dia selalu onani setelah memuaskan aku. Andi baik juga, dia tidak memaksaku melakukan itu. Dia hanya senang kalau aku orgasme. Aku jadi semakin tidak enak mendengarnya. Maka itu aku cari kesempatan mempraktekkan ilmuku saat rumahku kosong.

Di siang hari, di rumah aku sering sendirian. Kakak perempuanku sekolah di luar negeri, sedang ayahku kerja sampai sore. Kalau ibuku sering aktif di beberapa organisasi sejak aku SMA. Tinggal pembantuku yang agakagak lugu.

Ketika kesempatan itu tiba, aku segera mengontak Andi agar datang ke rumahku. Segera setelah Andi masuk ke kamarku, aku menyampaikan maksudku. Andi hanya tertawa dan segera meremasremas lembut kedua payudaraku. Aku bilang kalau aku serius. Tapi dia tidak perduli, malah tangannya merabaraba kemaluanku.

Kemudian dia membuka dasterku sehingga aku hanya pakai celana dalam saja. Kemudian tangannya masuk ke celana dalamku. Dia meremas kemaluanku. Kudorong dia ke ranjangku, kemudian kukunci pintu dan kunyalakan BF di bagian yang sudah kupelajari. Kemudian kubuka celananya.

Pertama kalinya, sambil melihat BF di kamarku, aku mulai dengan memegang seluruh bagian burung. Rasa penasaranku semakin menjadijadi saat menggenggam burungnya secara langsung. Mulai kepalanya, batangnya dan telurnya. Kemudian kuusapusap. Andi memejamkan mata dan mendesah.

Kupikir, Wah.., bisa nih..!

Terus aku mulai dengan mengurutnya seperti cara dia onani. Perlahahanlahan, kemudian makin cepat. Andi bergetar seperti orang kedinginan. Kepala burungnya mulai basah. Aku semakin hanyut oleh perasaan. Senang rasanya kalau dapat membuatnya orgasme. Lalu kulihat di BF, si cewek mulai memasukkan burung lawan mainnya ke mulut dan memainkannya dengan lidah. Perlahan kucoba mendekatkan mulutku ke burungnya. Dengan jelas kulihat kepala burungnya yang merah dan basah. Aku terhenti sejenak.

Kemudian Andi berkata kalau aku tidak siap tidak usah. Justru perkataannya semakin membuatku merasa egois. Dia tidak jijik kok aku merasa jijik. Dengan cepat kumasukkan kepala burungnya ke mulutku. Andi mengerang dengan keras. Rasanya aneh. Seperti rasa besi. Hihihi Aku melirik ke arah TV melihat apa saja yang dilakukan si cewek dan bagaimana reaksi si cowok. Soalnya aku penasaran.

Kuhisap perlahan naik turun sambil tanganku mengeluselus telurnya. Konon katanya telur itu kalau diusapusap nikmatnya sebanding dengan kalau puting payudaraku diusapusap. Perasaan aneh karena bau dan rasa burung yang asing segera hilang melihat Andi mengerangerang dan memejamkan matanya karena nikmat. Aku ingat perasaanku saat itu. Aku segera meneruskan aksiku.

Kulihat di TV si cewek meneteskan ludahnya ke kepala burung dan menjilatinya. Aku menirunya. Woow.., si Andi tampak menikmatinya. Lalu kujilati batang burungnya dari pangkal sampai ujung kepalanya. Lalu kuhisap lagi sedalamdalamnya, terus keluar masuk sambil tanganku mengeluselus telurnya.

Setelah berbagai gaya mengerjai burung kulancarkan, Andi terlihat akan mencapai klimaks. Sambil merintih dia memintaku mengocoknya. Aku mengocoknya dengan kecepatan tinggi sehingga dia makin kejangkejang tidak karuan. Aku tidak mengerti kecepatan yang sesuai bagaimana. Tibatiba dari kepala burungnya menyemprot cairan putih banyak sekali ke atas, kemudian jatuh. Sebagian mengenai rambutku, sebagian jatuh lagi ke pahanya.

Di TV kulihat si cewek cepatcepat memasukkan burung cowoknya ke mulut begitu orgasme. Aku menirunya. Kumasukkan burungnya ke mulutku dan kuhisap perlahan naik turun. Andi berkata sesuatu tapi aku tidak mendengarnya dengan jelas karena dia bergetar hebat. Seluruh otot perut dan pantatnya mengejang. Kuhisap terus burungnya sampai mulutku penuh cairan putih itu. Tibatiba burung Andi menjadi loyo tidak bertenaga. Aku sempat bingung. Terus terlihat Andi yang terkapar tidak berdaya.

Dia berkata lagi bahwa spermanya jangan diminum. Aku baru sadar bahwa mulutku penuh sperma sampai menetes ke badanku. Rasanya aneh, hangat dan agak asin. Aku memuntahkan sperma Andi ke wastafel, kemudian kumur. Rasa burung dan sperma seakanakan mendominasi mulutku sampai agak lama.

Kata pertama yang diucapkan Andi waktu aku kembali adalah, Hebatnya kocokanmu, sampai burungku mau lepas..!
Aku agak bingung pertamanya. Baru setelah itu kusadari kalau kocokanku terlalu cepat. Hihihi. Maklum baru pertama. Saat itu perasaanku senang sekali dapat membalas jasa Andi memuaskanku. Jadi kini aku dapat juga memuaskan Andi.
Kadang kala timbul keinginan memasukkan burungnya ke dalam kemaluanku, tapi Andi selalu menolak. Aku sendiri kalau sedang nafsu tidak mampu mengontrol diriku sendiri.
Sampai saat ini, setelah sekian lama berlalu, pengalaman itu tidak akan pernah kulupakan. Pengalaman peramaku mencapai orgasme tanpa kehilangan keperawanan dan pelajaran memuaskan pria tanpa berhubungan.

September 7, 2024 Nikmatnya Bercinta Dengan Gadis Korea Teman Sekolahku

Nikmatnya Bercinta Dengan Gadis Korea Teman Sekolahku

Namaku Andri, sekarang aku lagi kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malaysia. Aku akan menceritakan pengalaman tak terlupakanku waktu SMU dulu.

Kejadiannya sekitar 2 tahun lalu, ketika aku masih bersekolah di sebuah sekolah internasional di kuala lumpur Malaysia. Seperti layaknya sebuah sekolah internasional, banyak sekali murid-muridnya yang berasal dari luar negeri. Akan tetapi, mayoritas berasal dari Korea atau yang lebih dikenal sebagai ‘negeri ginseng.
Kisahku bermula ketika ada seorang gadis Korea yang baru saja masuk ke sekolahku. Namanya Kim Chi, dia baru duduk di bangku kelas 1 SMP. Tapi biarpun masih kelas 1 SMP, dia sudah memiliki tubuh seperti seorang gadis berusia 17 tahun lebih. Dengan sepasang buah dada yang condong ke depan dan bokong yang begitu montok. Saat itu juga timbullah niat busukku untuk mencumbui tubuhnya yang padat dan berisi itu.
Tapi untuk dapat menikmati tubuhnya itu, aku harus dekat dengan dia. Maka saat itu juga, kuputuskan untuk berkenalan.

“Halo, namaku Andri.. ” ucapku sembari menawarkan tanganku. Dia pun menjabat tanganku dan memperkenalkan dirinya. Setelah cukup lama berbincang, akhirnya kita saling menukar nomor handphone. Dan sejak saat itu, aku pun sering SMS-an dan juga teleponan sama dia. Kita pun jadi dekat dan mulai berpacaran.
Minggu-minggu pertama pacaran merupakan minggu-minggu yang membosankan. Ini disebabkan si Kim Chi masih malu-malu kucing. Tiap kali aku ingin menciumnya, dia selalu menghindar. Dan dikalanya tanganku meraba paha ataupun buah dadanya, dia selalu menarik tanganku. Setelah kuselidiki, ternyata Kim Chi berasal dari sebuah sekolah khusus perempuan. Di mana tidak ada yang namanya pria atau lelaki sama sekali. Aku pun heran dan bertanya-tanya pada diriku sendiri, orangtua macam apa yang mau menyekolahkan anak perempuannya ke sekolah yang hanya berisikan perempuan saja.
Menurut teman-temannya, selama 6 tahun dia tidak pernah mengenal yang namanya laki-laki. Ya ampun, pasti dia belum pernah merasakan yang namanya dicium ataupun dipegang-pegang. Sejak mendengar cerita tersebut, aku pun memberanikan diri. Aku berkata padanya,
“Kalau dicium itu enak rasanya, apalagi kalau buah dada dan paha kamu diraba-raba.”
Pada mulanya ia menolak dan enggan bibirnya kucumbui dan tubuhnya kupegang-pegang. Tetapi akhirnya, setelah kubujuk beberapa kali, Kim Chi pun mau dan ingin mencoba nikmatnya dicumbu dan diraba-raba. Maka mulai saat itu juga, setiap kali aku dan dia jalan, pasti ada adegan cium-ciuman dan pegang-pegangan. Aku dan Kim Chi sangat sering jalan berduaan di KLCC, sebuah shopping mall di Kuala Lumpur. Dan tempat yang paling aku gemari dari situ adalah di bioskopnya dan juga di tamannya. KLCC memiliki sebuah taman yang cukup besar, jadi seandainya tidak bisa melakukan ‘hal-hal’ tersebut di bioskop, maka taman merupakan tempat kedua paling cocok buat berduaan.

Pertama kalinya aku mendengar Kim Chi mendesah karena nikmat adalah ketika kami di taman KLCC. Saat itu kebetulan lagi sepi dan tidak banyak orang yang datang untuk belanja. Jadi kuputuskan untuk mengajak Kim Chi ke taman dan duduk berduaan di bawah pohon, tujuannya supaya tidak kelihatan orang lain. Setelah cukup lama berbincang, aku pun sudah tidak sabar lagi, maka langsung saja kuciumi lehernya dan menjilati telinganya. Kedua tanganku juga tidak tinggal diam, tangan kiriku meremas buah dadanya dan tangan kananku menelusuri roknya sambil mengelus-elus vaginanya. Ia pun mendesah dengan hebatnya,
“Aaah.. Aaah.. ”
Mendengar desahannya itu, aku jadi tambah bernafsu dan langsung saja kuselipkan jari-jariku ke dalam BH-nya dan bermain dengan putingnya.
“Ya ampun.. Lembut sekali putingnya.. Begitu menggemaskan.. ” bisikku dalam hati.
Jari-jariku pun kuselipkan ke dalam CD-nya, dan kurasakan betapa halusnya vagina si Kim Chi. Aku merasakan bulu-bulu halus yang baru tumbuh, tidak hanya itu, kurasakan pula cairan yang keluar membasahi vaginanya.
“Aaah.. Aaah.. Andri.. ” desahannya semakin menjadi-jadi sembari memelukku dengan erat. Ia begitu lemas dan tidak berdaya, memeluk dan mencium-cium kecil saja yang dapat ia lakukan pada saat itu.
“Gimana rasanya Chi? Enak kan?” tanyaku padanya. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya saja dan tersenyum malu. Kim Chi kelihatan begitu lelah sekali, wajar saja, ini merupakan pengalaman pertamanya. Pertama kalinya vagina dan buah dadanya dimainkan seorang laki-laki. Maka kuputuskan untuk mengantarnya pulang ke rumahnya saja.
“Chi, kamu aku antar pulang ya, kamu kelihatan capek sekali.. ”
Kembali ia diam saja tak mengatakan sepatah kata pun, hanya menganggukkan kepalanya saja. Aku jadi merasa bersalah karena telah berbuat demikian pada dirinya, apalagi kita ini baru saja saling mengenal. Tetapi pemikiranku salah, aku salah besar. Ternyata setelah kejadian itu, si Kim Chi jadi lebih bernafsu. Dia berubah menjadi seorang cewek yang nafsuan, yang sangat liar. Setiap kali ada waktu kosong di sekolah, ketika semua murid lagi pada di dalam kelas, atau di kala semua orang lagi makan siang di kantin, pastinya si Kim Chi selalu mengajakku melakukan “hal-hal” tersebut secara diam-diam.

Kamar mandi guru, kelas kosong, ataupun di kamar mandi cewek. Tempat-tempat ini merupakan tempat-tempat yang paling digemari Kim Chi buat melakukan ‘hal-hal’ tersebut denganku. Pokoknya setelah kejadian di taman KLCC waktu itu, Kim Chi jadi lebih liar dan ganas. Malah ia jadi begitu aktif memainkan penisku. Yang tadinya tidak tahu sama sekali cara memainkan penisku, jadi sangat aggresif memainkannya. Ia sangat menggemari kegiatan meremas-remas penisku. Kim Chi menjadi seorang cewek yang sangat nakal.
Aku pun mulai mengajari dia cara memainkan vaginanya sendiri ataupun bermain dengan putingnya alias masturbasi. Bukan hanya itu, aku juga mengajarinya cara berphone sex. Sepertinya Kim Chi begitu menikmati phone sex soalnya setiap kalinya aku telpon, dia pasti selalu menanyakanku untuk melakukan phone sex. Karena keseringan melakukan phone sex dan juga ‘hal-hal’ tersebut, maka aku beranggapan kalau sudah waktunya gadis Korea ini merasakan sex yang sungguh-sungguhan. Apalagi sekarang ini, dia sudah menjadi sangat liar dan aggresif, pasti berhubungan sex dengan dia merupakan hal yang tidak cukup sulit.
Aku pun terus berpikir, kapan waktu yang paling bagus buat menghilangkan keperawanan si Kim Chi, dan di mana tempat yang paling sesuai buat melakukan itu semua. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya aku menemukan jawabannya. Aku baru ingat kalau aku pernah tanya sama si Kim Chi, kalau dia sudah pernah atau belum dikasih hadiah ulang tahun sama cowok. Kim Chi pun berkata kalau ia belum pernah dikasih hadiah ulang tahun sama cowok, dan ia ingin sekali mendapatkan hadiah ulang tahun dari cowok. Maka kuputuskan untuk melakukannya pada hari ulang tahunnya, di aparteman temanku yang kebetulan lagi kosong dan kuncinya dititipkan padaku.
Tibalah hari ulang tahun Kim Chi yang ke 15, aku pun mengajaknya makan dan jalan-jalan, seperti biasa di KLCC. Setelah cukup lama keliling KLCC, aku pun bertanya kepada Kim Chi,
“Chi.. Kamu mau nggak ikut aku ke suatu tempat spesial? Di sana aku sudah nyiapin sebuah hadiah yang sangat bagus buat kamu.. Kamu bilang kamu ingin banget dapet hadiah ulang tahun dari cowok.. Biarin aku jadi cowok pertama yang kasih kamu hadiah ulang tahun.. ”

Kim Chi kelihatan sangat gembira dan setuju dengan tawaranku. Maka pergilah kami ke aparteman temanku itu. Sesampainya di sana, aku langsung saja membawa Kim Chi ke kamar yang sudah kusiapkan. Setelah masuk ke kamar, aku pun mengunci pintu dan langsung saja menanggalkan semua pakaianku. Aku hanya memakai CD-ku saja.

“Eh Andri.. Kamu ngapain buka-buka pakaian kamu? Memangnya kamu mau ngapain? Terus, hadiah yang kamu janjikan ke aku mana?”
“Hadiahnya ya ini Chi.. Kita bisa buat yang gitu-gitu sampai puas.. Plus, biasanya kan kita cuma pegang-pegangan tapi nggak sampai lihat dalamnya kan? Kamu masa nggak mau liat penisku bentuknya gimana.. Masa nggak mau liat apa yang ada di balik CD putih ini.. ”
Dan seperti biasa, ia hanya tersenyum malu sambil menganggukkan kepalanya. Tapi yang membuatku sangat bernafsu ialah ketika ia menjulurkan lidahnya sambil menggigit-gigit bibirnya. Aku langsung menerkamnya dan menariknya ke tempat tidur. Kubuka kancing bajunya satu demi satu dan juga roknya sehingga ia hanya memakai BH dan CD saja. Betapa indahnya pemandangan pada saat itu, apalagi BH dan CD yang dipakai Kim Chi jenis BH dan CD yang transparan atau tembus pandang. Aku bisa melihat puting dan juga vaginanya secara samar-samar. Aku langsung menuju ke buah dadanya yang sangat menggiurkan dan menanggalkan BH yang dipakainya.
“Wah.. Indah sekali buah dadanya.. Begitu putih dan mulus.. Padat berisi sekitar 34-B. ” Dengan puting yang sangat imut dan masih berwarna merah jambu. Langsung saja kuciumi dan kujilati buah dadanya yang sangat lezat itu. Aku juga menyempatkan untuk menggigit putingnya yang ternyata begitu kenyal dan nikmat. Ia mendesah dengan hebatnya,
“Aaah.. Ooohh.. “, sambil menarik-narik rambutku.

Setelah puas mengulum buah dadanya, aku pun turun ke perutnya. Kembali kuciumi dan kujilati perutnya itu. Ia menggelinjang karena kegelian dan semakin menarik rambutku. Aku turun dan turun hingga ke vaginanya. Kuarahkan lidahku ke clitorisnya dan memainkannya seenakku. Kim Chi pun kembali mendesah sembari menarik rambutku, namun kali ini desahannya begitu keras,
“Oooh.. Aaah.. Andri.. Oh yeah.. Aaah.. Jangan berhenti.. ”
Desahannya tersebut membuatku semakin bernafsu, membuatku mempercepat permainan lidahku pada clitorisnya. Ia pun mendesah lagi dan nampaknya akan segera menyemprot. Dan betul dugaanku, cairan asin menyemprot ke mukaku yang sedang menjilati vaginanya. Kim Chi pun kelihatan lemas sekali setelah kulakukan foreplay pada dirinya.
Namun demikian, aku tidak ingin sampai di situ saja. Aku menyuruhnya untuk mengulum penisku. Ia pun menurut dan langsung menggenggam penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Oh yeah.. Oohh.. Chi.. Oooh.. Nikmat sekali..”
Ia begitu pintar memainkan penisku. Diputar-putar, dijilat-jilat, terus dicelupin ke mulutnya. Bukan hanya itu, ia juga bermain dengan kedua bijiku.
“Pintar sekali ini cewek..”, ujarku dalam hati. Ia menyedot dan juga menjilati kedua bijiku dengan variasi yang berbeda.
“Oooh.. Oooh.. Oh yeah..”
Aku pun akhirnya keluar dan menyemprotkan semua spermaku ke dalam mulutnya. Karena baru pertama kali melakukan ini, Kim Chi menelan habis semua spermaku. Ia merasa jijik dan ingin muntah setelah menelan semuanya. Aku hanya bisa tertawa melihat ekspresi wajahnya yang begitu polos dan lugu.
Setelah cukup lama berbaring di atas ranjang, Kim Chi pun menyuruhku mengantarnya pulang, apalagi hari sudah hampir malam dan orangtua Kim Chi pasti mencarinya. Akan tetapi, aku belum mengijinkannya untuk pulang.
“Chi, kamu mau ke mana? Jangan buru-buru.. Aku masih ada satu lagi hadiah ulang tahun buat kamu..”
Ia pun heran dan bertanya-tanya. Aku hanya menyuruhnya menutup matanya saja.
“Inilah kesempatanku untuk merasakan vaginanya dan menghilangkan keperawanannya.. “, bisikku dalam hati.
Dan tanpa basa-basi, aku dengan perlahan memasukkan batang penisku ke dalam liang vaginanya. Kim Chi pun kaget dan membuka matanya, ia mau melepaskan diri dan menghindar. Tapi aku menahannya dan membisikkan arah telinganya,
“Chi.. Kamu jangan takut.. Apa pun yang akan terjadi, aku tetap sayang sama kamu dan akan bertanggung jawab..”
Kim Chi pun hanya dapat menangis kesakitan ketika kumasukkan seluruh batang penisku ke dalam vaginanya. Dan di situ juga, kusaksikan darah mengalir dari liang vaginanya. Aku telah menghilangkan keperawanannya.
Kurasakan dinding-dinding vaginanya yang begitu hangat menjepit penisku. “Oooh.. Aaahh..” Nikmat sekali rasanya. Kim Chi hanya dapat menangis dan menangis, karena keperawanannya telah hilang. Aku pun kembali mengecup keningnya dan berkata,
“Chi.. Aku nggak akan meninggalkan kamu.. Aku akan bertanggung jawab.. Kamu jangan nangis ya..” Ia mengangguk dan menurut saja.
Keesokan harinya aku mengantar Kim Chi ke rumahnya. Setelah itu aku berkata padanya kalau aku enggak akan ninggalin dia. Tapi aku berbohong, aku belum siap untuk semua ini. Aku belum siap menjalin hubungan seperti ini.
Aku pun berbohong kepada Kim Chi dan mengatakan kalau aku akan balik ke Indonesia dan tidak akan kembali lagi. Ia mencoba menelponku dan juga mengSMSku. Tapi aku sudah terlanjur membuang kartu telponku dan menukarnya dengan yang baru. Aku pun pindah ke kota lain, kota yang jauh dari Kuala Lumpur, kota yang jauh dari Kim Chi.
Aku begitu menyesal dengan apa yang telah terjadi. Tidak kusangka nafsu seorang pelajar kelas 3 SMU yang berlebihan, bisa menghancurkan masa depan seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP. 2 tahun telah berlalu, dan aku pun tidak mengetahui kabar terbaru dari Kim Chi. Aku harap dia baik-baik saja.

Kisahku memang kampungan dan terlampau kuno. Tapi aku baru sadar, nafsu yang terlalu berlebihan tidaklah baik. Melakukan hubungan sex dengan gadis Korea memanglah nikmat, dan kuakui itu memang cita-citaku dari dulu. Tapi akibat nafsuku yang berlebihan itu, semuanya menjadi begitu fatal.

September 7, 2024 Kenikmatan Seks Akibat Pengaruh Inex

Kenikmatan Seks Akibat Pengaruh Inex

Kurang lebih 2 tahun yang lalu. Dengan kepandaianku mengelola saat itu aku telah memiliki banyak pelanggan di bengkelku. Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan yang bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Santi, usianya 35 tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan judi online

Wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih bersih. Tubuhnya sangat seksi, padat, dan berisi. Yang menjadi pusat perhatianku adalah bentuk payudaranya. Bentuknya besar, tapi terlihat serasi dengan postur tubuhnya. Aku sering membayangkan jika suatu saat dapat merasakan halusnya kulit dadanya dan meremas bahkan mengulum puting susunya.
Malam itu saya sedang menunggu Taksi mau pulang, karena mobil yg biasa saya pakai, dipinjam adik. Saya baru saja selesai menutup bengkel. Sekitar 10 menit saya menunggu, datang mobil sedan menghampiriku, lalu kaca mobil itu terbuka, dan kulihat Mbak Santi di dalam mobil mewah itu memanggilku, dia pun bertanya.
“Mau kemana An..? kok sendirian, mau saya antar nggak?”
Tanpa basa-basi saya lalu memasuki mobil mewah itu, kemudian kita mengobrol di dalam mobil. Singkat kata Mbak Santi mengajakku ke discothique, waktu itu malam minggu. Sesampainya di diskotik. Kami mencari table yang kosong dan strategis di pojok tapi bisa melihat floor dance.
“Saya sedang pesan lagi satu untuk kita berdua,” kata Mbak Santi.
Untuk “on”, saya memang butuh dorongan inex, tapi cukup setengah, sementara satu setengahnya lagi untuk Mbak Santi. Ternyata takaran satu setengah baru cukup untuk Mbak Santi. Ternyata Mbak Santi suka triping. Pesanan tak lama datang. Kubayar bill-nya.
Ditanganku ada dua butir pil inex, yang satu saya bagi dua. Mbak Santi segera menelan satu setengah, dan sisanya untuk ku. Setelah 15 menit, Mbak Santi terlihat semakin on. Maka kami berjoget, menari-nari, dan berteriak gembira di dalam diskotek yang penuh dengan orang yang sama-sama triping.
Saat saya berdiri dan melihat Mbak Santi “ON” berjoget dengan erotisnya, tak lama kemudian Mbak Santi menghampiri dan merapatkan tubuhnya yang mulus itu ke depanku. Ia mengenakan t-shirt putih dan celana warna gelap. Dalam keremangan dan kilatan lampu diskotek, ia nampak manis dan anggun. Saya kembali menyibukkan diri dengan bergoyang dan memeluknya belakang tubuhnya.
Sesekali tangan ku dengan nakal meremas dada Mbak Santi yang masih tertutup kemeja, Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas ke dua gunung kembarnya yang masih terbalut BH. Tanganku akhirnya dapat merasakan halus dari payudara Mbak Santi, jari-jari ku mencari-cari puting payudara Mbak Santi dengan menyusup ke dalam BH Mbak Santi.

Saya remas dada Mbak Santi dengan perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggung Mbak Santi berusaha membuka pengait bra itu, aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya dan mulutku pun menciumi leher jenjang itu, sambil tanganku memainkan puncak puting susu itu hingga memerah akibat remasan tanganku.
Sementara Mbak Santi hanya memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tangan dan terus bergoyang mengikuti irama, saya terus mengelus dadanya sehingga membuat Mbak Santi dari gerakan tubuhnya Mbak Santi memang kelihatan ingin sekali dipuasi, terlihat dari pantatnya yang montok dan masih terbalut rok, terus merapat ke ke belakang.
“Kamu sudah on berat ya?” katanya. Saya tersenyum, kupeluk tubuhnya dan kucium pipinya. Pada pukul 02.00 pagi, DJ mengumumkan discothique akan terus buka sampai pukul 05.00. Pengunjung bersorak-sorai riang gembira. Tapi Mbak Santi kelihatannya sudah mulai “Droop”.
“Sayang saya sudah lelah,” keluh Mbak Santi.
“Ah, masa lelah, sayang,” ucapku sambil terus memeluk erat dan menciumi leher belakangnya.
“Sayang.. kita pulang yuk..,” katanya. “Saya ingin istirahat”.
“Pulang ke mana?” tanyaku.
“Ke mana aja” jawabnya. Saya baru mengerti, bahwa dia ingin lanjut ke tempat tidur.
“Saya sebenarnya sudah booking kamar di hotel dekat sini” ujarnya.
“Kalau begitu. kita ke sana”
“Tapi tunggu, saya mau bilang temen dulu yang lagi digaet cowok di pojok sana,” katanya.
Tepat pukul 02:30 dini hari kami keluar dari discothique tersebut dengan rasa puas dan senang terus kami menuju ke hotel. Sesampainya kami dikamar Mbak Santi langsung berjoget lagi kali ini tanpa musik tapi dia yang bernyanyi dan sembari melucuti pakaiannya pas seperti orang sedang menari striptis, saya hanya melihat dan duduk disebuah kursi sofa yang ada tepat didepan jendela.
Sambil menari dan melucuti pakaiannya Mbak Santi menghampiri saya dan segera jongkok didepan saya sambil membuka resleting celana saya, saya hanya memperhatikan apa yang akan dilakukannya, “Wowww.. besar dan kencang sekali.. buat Santi ya..”
Kemudian Mbak Santi mengulum penisku yang menegang sejak tadi.
“Ooogghh.. sshh.. enak sekali San..”, ucapku.
Dia mengeluarkan penis saya yang sudah setengah tegang dan langsung diisapnya dalam-dalam. Jago memang Mbak Santi dalam memainkan isapannya, sambil mengisap lidahnya terus menari dan meliuk diteruskan ke buah zakar saya, setelah 10 menit naik dan turun dia isap dan jilatin penis saya,
Mbak Santi melemparkan tubuhnya ke atas kasur, dan jatuh telentang. Langsung saya menyergapnya, dan kami bercumbu dengan dorongan nafsu sangat tinggi karena pengaruh inex. Kami berciuman, beradu lidah dan bergantian mengisapnya. Kuciumi pipinya, matanya, keningnya, dagunya. Kujilati daun telingaya, dan kusodok-sodok lubang telinganya dengan lidahku.

Tanganku tak diam. Mengelus dan meremas rambutnya, menyusuri leher dan belahan dadanya. Kuusuap-usap perutnya, punggungnya, dan bokongnya. Kubekap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus nan rimbun. Jari manis dan telunjukku merenggangkan pinggiran vagina Rani. lalu jari tengahku mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan.
“Ooh.. sshh.. aahh..!” desah Mbak Santi.
“Sayang..,” dengusku sambil terus mencumbunya.
Aku menarik tanganku dari vagina Mbak Santi. Kini kedua tanganku mengelus-elus pinggiran payudaranya. Berputar sampai akhirnya meremas bagian putingnya. Akhirnya anganku tercapai.
“Oooh.. terus.. say..!” desah Mbak Santi lagi.
Saya jilati pinggiran buah dadanya, lalu menghisap putingnya.
“Oohh.. sayang..!” Mbak Santi merintih nikmat. Mbak Santi bangkit dan mendorong aku supaya telentang. Ia melakukan cumbuan meniru caraku. Ia pun membekuk penisku dan mengelusnya dengan tekanan yang membangkitkan birahi. Mbak Santi memutarkan badan di atas tubuhku yang telentang. Ia menciumi dan menjilati penisku sementara vaginanya disumpalkan ke mulutku.
Akhirnya Mbak Santi menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Putingnya kian memerah. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seperti keringatku. Juga nafasku. Juga si nagaku yang sudah meronta. Dia sepertinya bingung ketika kuambil dua bantal. Dengan lembut kuangkat tubuhnya, lalu bantal itu kuletakkan di bawah pantatnya.
Menyangga tubuh bagian bawahnya. Membuat pahanya yang putih mulus kian menantang. Terlebih ketika bukit venus dengan bulu-bulu halusnya menyembul ke atas. Membuat magmaku terasa mau meledak. Dia mengerang saat lidahku kemudian jemariku mengelus-elus bulu-bulu itu. Dia menjerit saat kucoba menguak kemaluannya dengan jari telunjukku. Otot pahanya meregang saat kuhisap clitorisnya.
“Masukkan penismu, cepat sayang,” rintihnya.
“Aahh..!” rintihan kenikmatannya kali ini terdengar nyaris seperti jeritan. Aku jongkok di pinggir tempat tidur,
kutarik kaki Mbak Santi sampai bokongnya berada di tepi ranjang. Kusingkap selangkangannya, dan kulumat vaginanya yang sudah becek. Kubalikkan tubuhnya, kujilati bokongnya sambil sesekali setengah menggigitnya. Kukorek-korek anusnya dengan jari tengahku.
“Ouuwww.. ooh.. sshh.. sayang, cepet masukan!” katanya memelas-melas.
Semakin Mbak Santi memanas birahi, aku semakin terus mempermainkannya dan belum mau melakukan penetrasi. Aku melihat Mbak Santi sampai meneteskan air mata menahan orgasme. Dipegangnya penisku yang sudah membesar ini.
Dia bimbing dan penisku terasa menyentuh bibir kemaluannya. Dia melepaskan pegangannya. Kudorong sedikit. Dia menjerit. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi. Dia memekik. Pada dorongan kesekian kalinya sasaran lepas lagi.
Dia terengah-engah. Aku mengambil posisi. Duduk setengah jongkok, kedua kakinya kutarik. Membuat jepitan atas tubuhku. Kuarahkan penisku ke lubang yang basah dan menganga itu. Ketika kudorong dia meremas rambutku kuat-kuat.
Kutekan. Dan kutekan terus. Tak memperdulikan rintihannya. Kedua kakinya meregang ototnya. Dengan penuh keyakinan kutambah tenaga doronganku. Pertama terasa gemeretaknya tulang. Kemudian terasa sesuatu yang plong. Membuat dia menjerit, merintih keras,
“Acchh.. sshh..”
Ketika kupacu dia dengan irama yang lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua tanganku berada di belakang punggungnya. Membuat kaitan diantara ketiaknya. Dia meremas rambutku seiring dengan naik turunnya tubuhku.
Kukunya mencengkram punggungku ketika kukayuh pantatku penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di tengah jalan. Dia meronta. Membuka matanya. Dengan wajah kuyu. Dari keringat kami yang menyatu. Tanpa diduga, dia mulai mengikuti irama permainanku.
Dengan menahan rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak tubuhku yang di atasnya. Tak lama kemudian Mbak Santi merubah posisi menduduki pahaku, memegang penisku dan dimasukkannya pelan ke vaginanya.
“Uppss.. ooh..” rasanya nikmat sekali penisku didalam vaginanya. Mbak Santi terus bergoyang naik turun.
“Ahh.. enak..”erangku.
Mbak Santi terus bergoyang sambil menjerit kecil. Dadanya yang naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan posisinya kebawah.Dan aku gantian memompanya dari atas. Aku terus memompa sampai akhirnya dia mengerang panjang. Otot vaginanya berkontraksi meremas penisku.

“Oghh.. saya sudah keluar sayang..” erang Mbak Santi.

Tiba-tiba, pintu kamar ada yang mengetuk.
“San.. San!” suara perempuan.
Aku kaget dan sempat terhenti mencumbu Mbak Santi.
“Teruskan, sayang..! Itu temanku, biarkan saja,” kata Mbak Santi.
“San..!” pintu diketuk lagi diikuti suara panggilan.
“Masuk aja, Lin, enggak dikunci, kok” ujar Mbak Santi.
“Huuss..!! Kita lagi nanggung dan bugil begini masa temenmu disuruh masuk..?” sergahku.
“Engga apa-apa, cuek aja..” kata Mbak Santi enteng sambil tersenyum manis.
“Wah, rupanya lagi pada asyik nih,” kata Lina begitu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar.
Aku masih dalam posisi jongkok dan penisku masih di dalam vagina Mbak Santi, dan hanya menyeringai melihat kedatangan Lina.
“Mana cowokmu tadi?” tanya Mbak Santi.
“Tahu kamu pulang ke hotel bawa cowok, yah aku dibawa ke hotel lain” sahut Lina.

Aku masih bengong mendengar percakapan dua cewek cantik itu. Tiba-tiba tangan Mbak Santi menarik tanganku yang tersampir di pahanya.
“Ayo sayang goyangin penismu, jangan kalah sama Lina” desak Mbak Santi.
Aku berdiri dan mengangkat tubuh Mbak Santi ke tengah tempat tidur. Penisku yang sudah tegang dari tadi, segera saya tembakkan lagi ke dalam lubang vagina Mbak Santi yang sudah tidak perawan tapi masih terasa lengket. Kami sama-sama merasakan kehangatan yang nikmat.
“Yang dalam.. cepat.. ah.., enak..” pinta Mbak Santi. Aku pompakan penisku dengan penuh gairah.
Sementara Lina pergi ke kamar mandi dan mengurung diri disana. Mungkin berendam di bathtub. Pengaruh inex membuat daya tahan persenggamaanku dengan Mbak Santi cukup lama. Berbagai gaya kami lakukan. Mbak Santi beberapa kali mengerang dan menggigit pundakku saat mencapai orgasme. Sementara penisku masih anteng dan melesak-lesak ke dalam vagina Mbak Santi.
“Aduh.. capek, sayang..!” rintih Mbak Santi.
“Istirahat dulu.. yah..?”
“Sabar, dong, say. Aku sangat menikmati hangatnya vaginamu,” rayuku.
Mbak Santi lantas menggelepar pasrah, tidak kuasa lagi menggerak-gerakkan tubuhnya yang lagi kugarap. Matanya terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kami sudah bermandikan keringat. Tapi penisku masih tegang, belum mau memuntahkan sperma. Akhirnya aku kasihan juga sama Mbak Santi yang sudah keletihan dan nampak tertidur meski aku masih menggagahinya.
Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi. Spontan aku bangkit dan melepas penisku dari vagina Mbak Santi. Dengan langkah pelan supaya tidak membangunkan Mbak Santi dari tidurnya, aku berjalan dan perlahan membuka pintu kamar mandi.
Benar saja Lina sedang berendam di bathtup dengan tubuh bugil. Ia nampak sedang menikmati kehangatan air yang merendamnya. Kepalanya bersender pada ujung bathtub. Aku menghampirinya dengan penis yang masih tegang. Mata Lina terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bathtup, menghadap ke arahnya.
“Mana Santi?” tanyanya setengah berbisik sambil matanya turun naik melihat ke arah muka dan penisku yang ngaceng. “Dia tidur.. jangan berisik,” kataku sambil naik ke dalam bathtup dan langsung menindih tubuh Lina yang sintal dan pasrah. Kami bergumul dalam cumbuan yang hot.
“Lin kamu diatas yah.. ” Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik keatas perutku dan dengan segera di pegangnya penisku sambil diarahkan kevaginanya, kulihat vaginanya indah sekali, dengan bulu-bulu pendek yang menbuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan vaginanya. “Aaawww.. enak banget vagina kamu Lin..”

“Enak kan mana sama punya Santi..?”
Katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol. Rasanya penisku mau patah ketika diputar didalam vaginanya dengan berputar makin lama makin cepat.
“Ah.. Lin.. enak banget ah..” Aku pun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukemut dan kuhisap.
“Ton.. saya mau keluar..”
“Rasanya mentok.. ah..”
Memang dengan posisi ini terasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.
“Ah.. ah.. eh..” suaranya setiap kali aku menyodok vaginanya.
Kugenjot vaginanya dengan cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yang dijepit erat vaginanya,
“Lin mau keluar..”
Kupeluk erat dia sambil melumat putingnya. Kupompa vaginanya sampai kami tak sadar mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yang sampai membangunkan Mbak Santi. Mbak Santi tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi dengan tubuh bugil dan matanya menatap aku dan Lina yang lagi bersetubuh.
“Gitu yah, enggak puas dengan aku kamu dengan Lina,” hardik Mbak Santi dengan nada manja, pura-pura marah.
Eh, malah Mbak Santi kini ikut naik ke dalam bathtup.
“San, ayo gantian, aku sudah dua kali dibikin keluar, sampai lemes rasanya. Cowokmu ini terlalu perkasa,” kata Lina.
“Ayo sayang, sekarang aku akan membuat penismu muntah,” kata Mbak Santi.
Segera Mbak Santi hampiri saya di dalam bath yang penuh dengan air, ditonton Lina yang duduk di ujung bathtup sambil membasuh vaginanya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Mbak Santi. Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang vaginanya yang basah dan berwarna merah, kuarahkan kepala penisku ke lubang tempiknya secara perlahan-lahan.
Kutekan penisku lebih dalam lagi, dia menggoyangkan pantatnya sambil menahan sakit. Terdengar suara kecroot, kecroot bila kutarik dan kumasukan penisku di lubang vaginanya, karena suara air kali ya. Mbak Santi semakin histeris, sambil memegang pinggiran Bath Tub dia goyangkan pinggulnya semakin cepat dan suara kecrat, kecroot semakin keras. Tak lama kemudian.
“Aduh say aku nggak tahan lagi ingin keluar..”.
“Aduh sayang.. terus..”
Mbak Santi terkulai lemas dan vaginanya kurasakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan vaginanya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Mbak Santi akan orgasme.
“Aduh, sayang, aku kalah lagi nih, sudah mau orgasme!”
Cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Mbak Santi. Aku masih terus menggenjot vaginanya. Wajah Mbak Santi terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme. Melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat.
“Sayang, saya mau keluar nich..”
“Keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Santi juga mau keluar.”
Dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang jakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Mbak Santi. Air maniku keluar dengan derasnya ke dalam vagina Mbak Santi dan Mbak Santi pun menikmatinya.
“Akhirnya saya berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang,” kata Mbak Santi sambil memeluk dan menciumi bibirku. Terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama-sama melepaskan air mani kami.
“Lin.. emut penisku sayang” kataku lalu mencabut penisku dari vaginanya Mbak Santi. Lalu Lina melumat 1/2 penisku hingga pejuhku habis keluar. “Mhh.. ah.. enak sekali pejuhmu” katanya sambil mengocok ngocok penisku mencari sisa air pejuhku.
“Tapi sebentar lagi nagaku akan bangun lagi lho. Lihat, sudah mulai menggeliat!” kataku, menggoda.
“Hhhaah..?” Mbak Santi dan Lina terkesiap bersamaan kompak.
Kemudian aku segera keluar dari bathtup mendekati Lina dan menyuruhnya membelakangiku. Dari belakang saya mengarahkan penisku ke vaginanya yang sudah basah lagi karena nafsu melihat saya dan Mbak Santi. Sleepp.. bless.. Aku langsung memasukkan penisku terburu buru, karena sempit waktu membuat kesakitan Lina.
“Aduuh pelan pelan dong Say.., Lina sakit nih” katanya agak merintih.
“Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih” kataku lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah. Lalu aku mulai memaju-mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya.
“Shh.. ahh.. shh..” kata Lina setengah merintih kenikmatan.
“Lin.. vaginamu sempit.. nikmat Lin..” teriakku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami. Sleep.. bles.. cplok.. cplok.. irama persetubuhan kami sungguh indah hingga aku ketagihan.
Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kami sama-sama sampai hampir bersamaan.
“Shh.. ahh.. say, Lina sampai nih” katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.
“Iya Lina sayang, saya juga sampai nih, didalam yah say..” kataku lalu menghunjamkan penisku dalam dalam divagina Lina.
Seerr.. croot..croot kami keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut penisku dari vagina Lina. penisku terlihat basah dari air mani kami dan air kenikmatan Lina.
“Ugh.. say enak banget..” katanya.

Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.

September 7, 2024 Kenakalan Yang Digemari Suami Tercintaku

Kenakalan Yang Digemari Suami Tercintaku

Pernikahannya berlangsung seperti normalnya orang menikah. Sampai suatu saat, Mirna menemukan beberapa foto PSK di HP suaminya… sehingga ia bertanya dalam hati. apa yang bisa dia lakukan agar suaminya tak lagi perlu jajan? Mungkin saran kakak iparnya bisa dicoba.

Mirna memberikan HP kepada kakak iparnya untuk memperlihatkan foto-foto yang diambilnya dari HP suaminya, Bram. Sitha, kakak ipar Mirna, menyandarkan punggung ke kursi salon yang didudukinya sambil membuka satu per satu foto-foto itu. Di cermin terlihat pantulan muka Mirna yang cemberut.
“Oo,” gumam Sitha tanpa ekspresi,
“Beginian. Dasar Bram. Penyakit lama, nih”.
Mirna agak kesal melihat kakak iparnya—merangkap pemilik salon tempat mereka berdua ngobrol—‘biasa saja’ melihat foto-foto perempuan lain yang membikin Mirna dan Bram bertengkar dua hari lalu. Waktu itu Mirna makin marah ketika Bram mengakui bahwa perempuan-perempuan itu PSK.

“Penyakit lama, Kak Sitha? Apa dari dulu Mas Bram memang suka jajan?”
“Emmm…” gumam Sitha sambil mengambil sebatang rokok dari bungkusnya yang ada di meja,
“Iya sih. Lho kamu kok malah baru tahu. Gimana. Kamu kan istrinya.”
Mirna malu sendiri. Tapi dia memang tidak bisa disalahkan, karena pernikahannya dengan Bram baru berjalan setahun, dan sebelumnya mereka berdua tidak pernah pacaran. Keduanya memang dijodohkan oleh orangtua masing-masing yang rekanan bisnis, dan sekarang mereka sama-sama disiapkan jadi penerus usaha keluarga besar mereka.
Mirna dan Bram sudah kenal sejak kecil, tapi mereka baru mulai saling mengakrabkan diri setelah menikah. Satu yang Mirna tahu, keluarga Bram memang longgar dalam mendidik anak-anaknya. Jadi seharusnya dia tidak heran kalau Bram ketahuan punya kebiasaan buruk seperti itu. Sama saja dengan kakak Bram, Sitha.

Sitha yang sekarang berumur 30-an tadinya malah disiapkan untuk dijodohkan dengan seorang saudara Mirna, tapi karena terbiasa bergaul sangat bebas, Sitha dihamili temannya waktu kuliah dan terpaksa dinikahkan dan selanjutnya diusir karena bikin malu keluarganya.
“Terus gimana nih?” Sitha bicara sambil menjepit rokok yang baru dinyalakan dengan bibirnya yang tersaput lipstik merah jambu tebal.
“Kamu udah dua hari nggak ngomong sama Bram. Apa mau terus-terusan? Ah, tapi kamu kan anak baik. Pasti kamu mikirin keluarga besar kita. Gak enak sama mereka kalau sampai… cerai.”
“Nggak!” jerit Mirna.
“Bram emang salah sih, tapi Kak, aku nggak niat cerai sama dia. Aku udah mulai belajar sayang dia Kak. Dan aku juga baru tahu kebiasaan dia yang ini. Makanya aku datang minta saran Kak Sitha, gimana baiknya aku hadapi masalah ini. Kak Sitha kan lebih kenal Bram,” suara Mirna mengecil karena malu,
“…lagian aku nggak mau nyusahin orangtua kita semua.”
Baik banget ini anak, pikir Sitha. Cuma saat itu juga Sitha merasa dapat satu lagi alasan yang bisa dia kasih kalau ada orang tanya pendapat dia tentang menikah tanpa pacaran. Mirna, yang tidak pernah pacaran dengan Bram, kaget waktu kebiasaan buruk Bram ketahuan sekarang.
Kalau Mirna pacaran dulu sama Bram, pastinya mereka bisa lebih saling ngerti, atau bisa putus tanpa repot kalau memang Mirna nggak suka. Sitha mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menyemburkan asap dari mulut. Mirna menghindar sambil mengipas-ngipas di depan muka.
Kakak iparnya itu sudah merokok sejak SMA, dan kadang-kadang Mirna mengira Sitha selalu bermake-up tebal (seperti saat mereka ngobrol sekarang) untuk menutupi penuaan dini di mukanya yang sudah belasan tahun kena asap rokok. Sitha memang tidak pernah tampil tanpa riasan lengkap, rambut tertata, dan pakaian mencolok; tidak hanya sejak dia membuka salon, tapi sejak dia remaja.
Mirna melihat Sitha seperti berpikir sambil merokok, lalu membetulkan tali sackdressnya yang melorot dari bahu. Sackdress hitam agak transparan itu gagal membuat bra merah yang ada di bawahnya tidak kelihatan. Sitha lalu menaruh rokoknya di asbak, tersenyum, berdiri, lalu mendekati Mirna.
“Kalau menurutku sih begini saja…”
“KOK GITU SIH CARANYA???” Mirna tidak bisa menahan volume suaranya setelah mendengar saran Sitha sampai habis. Yang memberi saran dengan santainya mengambil lagi rokok yang tadi ditinggal lalu meneruskan menyedot batang rokok.
“Terserah kamu sih. Saranku ya gitu. Kalau mengingat sifatnya Bram sih kupikir cara itu mempan. Kalau kamu mau coba tanya orang lain, silakan.”
“…” Mirna diam saja.
“Kalau kamu mau, aku siap bantu. Gratis,” kata Sitha, sambil nyengir. “Bukan cuma sekali, tapi seterusnya juga boleh. Hitung-hitung balas budi sama kalian yang udah bantu aku selama ini.”
“…Sebentar. Aku pikir-pikir dulu,” bisik Mirna, menimbang-nimbang.
Ternyata dia perlu waktu lama sekali buat menimbang-nimbang. Berkali-kali dilihatnya lagi foto-foto yang diambilnya dari HP Bram.
“Mas, aku mau bicara sama kamu nanti malam.” SMS itu Mirna kirim ke HP Bram.

Bram, yang sudah uring-uringan sejak bertengkar dengan Mirna setelah ‘foto-foto kenangan’nya ketahuan, menarik nafas lega di kantor. Menjelang sore.

Sesudah memastikan jalanan di luar kosong, Mirna langsung keluar dari salon Sitha dan secepatnya menuju rumah besar di sebelahnya. Rumah itu rumah Bram dan Mirna; Sitha tinggal dan buka usaha di sebelah rumah mereka berdua. Sewaktu mau membuka pagar rumahnya sendiri, Mirna kalang-kabut ketika melihat mobil Mercedes-Benz hitam muncul di ujung jalan. Tapi dia sempat masuk ke rumah sebelum Mercy itu lewat.
Mercy itu tidak berhenti di rumahnya, karena memang itu mobil orang lain; mobil mewah itu berhenti di depan salon Sitha. Dari balik pintu supirnya keluar seorang laki-laki, yang lantas mengunci Mercy itu, lalu masuklah dia ke salon Sitha. Semua itu tidak sempat diperhatikan Mirna. Mirna sendiri sudah cukup lega karena tidak kepergok siapapun dalam perjalanan yang cuma beberapa meter saja dari tempat kakak iparnya.
“Aku pulang kira-kira sejam lagi.” SMS dari Bram masuk ke HP Mirna.
Mirna duduk sendirian di dalam kamar di depan cermin. Normalnya dia bakal melihat rona mukanya sendiri berubah merah karena perasaannya yang campur aduk, tapi kali ini agak susah bagi dia. Rumah itu baru terisi mereka berdua, Bram dan Mirna, yang menikah tahun lalu. Belum ada anak. Selama ini kehidupan mereka lancar-lancar saja.

Mirna ‘si anak baik’ menerima saja ketika orangtuanya dan orangtua Bram memutuskan perjodohan mereka. Bram juga bukan suami brengsek. Setidaknya sampai belangnya ketahuan beberapa hari lalu. Hanya saja Mirna sering merasa Bram seperti bosan dengan dirinya.
Mirna masih muda. Bram lebih tua sedikit. Setelah lulus kuliah keduanya dijodohkan dan tak lama sesudahnya menikah. Karier mereka berdua terjamin karena mereka berdua akan meneruskan usaha yang dirintis orangtua-orangtua mereka, dan mereka sama-sama sedang bekerja di sana, hanya di bagian yang berbeda.
Mirna punya banyak waktu luang dan bisa bekerja di rumah, sedangkan Bram banyak bepergian keliling kota dan kadang-kadang ke daerah. Sebenarnya Bram tidak bisa dibilang rugi dijodohkan dengan Mirna, yang berwajah lumayan menarik. Sitha, yang sudah kenal duluan dengan Mirna sebelum Mirna mengenal Bram, pernah bilang dia iri dengan tubuh Mirna yang lebih sintal daripada tubuhnya sendiri.
Tapi kalau keduanya berjejer, orang bakal lebih banyak yang menengok ke arah Sitha daripada Mirna, karena Sitha selalu tampil ‘meriah’ dengan dandanan cenderung menor dan pakaian seksi, sementara Mirna selalu terlihat polos dan biasa berpakaian konservatif. Mirna masih tidak percaya kenapa akhirnya dia setuju mencoba saran Sitha. Tapi, pikirnya, dicoba sajalah… tidak ada salahnya.

Bram menyetir pulang membawa oleh-oleh kue coklat untuk istrinya yang dia kira masih ngambek, tapi sudah beritikad baik mengajak berdamai. Dia sadar, dia sendiri salah. Sudah kawin kok masih doyan jajan. Tapi, yah, kebiasaan lama susah luntur.
Dan ada hal-hal yang dia kira tidak bakal dia dapat dari Mirna. Bunyi SMS datang di antara bunyi radio mobil. Pesan dari seorang perempuan yang fotonya sampai tadi pagi ada di HP Bram. Sekarang semua foto itu sudah hilang dari HP Bram (tapi pindah ke tempat-tempat lain, tentu saja). Dan Bram tidak menanggapi ajakan dalam SMS itu.
“Jangan dulu deh”, pikir Bram.
Mirna mendengar bunyi mobil Bram dan sesudahnya bunyi pintu rumah dibuka. Dia menenangkan diri, mengulang lagi semua yang mau dia lakukan (atas saran Sitha), dan bersiap-siap. Tangannya dingin. Berjam-jam sudah dia habiskan untuk persiapan dengan dibantu Sitha tadi.
Dalam hati dia berusaha membenarkan pilihannya dengan mengatakan, mungkin ini memang perlu, demi kami berdua, dan demi keluarga. Tapi dalam hatinya berkali-kali terselip rasa penasaran. Dia ingin tahu, bagaimana jadinya nanti. Bagaimana kira-kira reaksi Bram. Bagaimana kira-kira reaksi dia sendiri.
“Sudah waktunya.” pikirnya
Bram melongo di pintu, memelototi Mirna yang berdiri di depannya. Malam itu, Mirna berubah. Mirna yang sederhana dan terkesan baik-baik sedang tidak hadir. Sebagai gantinya…Mirna tampil beda. Dia memakai gaun mini ketat berbahan satin berwarna hitam yang panjangnya tidak sampai menutupi setengah pahanya, sehingga memperlihatkan stocking jala hitam yang membungkus kedua kakinya sampai berujung ke sepasang stiletto hak tinggi. Di atas pinggang, gaun mini itu mendesak sepasang payudara Mirna sampai nyaris tumpah ke luar, sementara pundaknya terbuka. Kebetulan warna kulit Mirna coklat muda. Bukan putih atau kuning atau sawo matang, tapi warna di antaranya. Itu juga yang membuat lapisan bedak yang membuat mukanya lebih putih terkesan lebih kentara, karena kontras antara warna muka dan badan. Ketika Mirna berkedip, tampak rona biru muda di kelopak matanya, di bawah alis yang dibentuk dan dipertegas. Kedipannya juga menunjukkan bulu mata palsu yang menempel di kedua mata. Pipinya bersemu merah, tapi karena polesan.
“Kok bengong aja, Mas? Kamu suka yang kayak gini, kan?”
Kata-kata itu meluncur dengan nada menantang dari sepasang bibir Mirna yang kali ini tidak telanjang. Biasanya Mirna paling-paling hanya memakai lip gloss, namun malam itu mata Bram tidak bisa lepas dari bibir Mirna yang tampak lebih penuh dan sensual. Merah, mengilap, menantang. Seperti itulah saran Sitha untuk Mirna.

“If you can’t beat ‘em, join ‘em.” Sitha kenal benar dengan Bram. Adiknya itu tidak bisa dibilang ganteng, malah tampangnya terhitung pas-pasan. Maka itu sejak dulu Bram selalu kurang mujur dalam percintaan; biarpun dia anak pengusaha, tetap saja jarang ada cewek yang mau dengannya.
Jadi dia terbiasa lewat jalan pintas dengan jajan. Dan seleranya jadi terbentuk ke arah penampilan ‘khas’ cewek-cewek penjaja cinta: dandanan seksi tapi terkesan murahan. Perempuan-perempuan macam itulah yang fotonya Mirna temukan di HP Bram.
“Mirna… kamu… ini maksudnya…?”
Melihat Bram bengong saja, Mirna mengingat-ingat lagi apa kata Sitha mengenai bagaimana dia harus bersikap. Jadi dia segera maju mendekati Bram dan menarik dasi Bram. Bram melihat istrinya menatap tajam matanya, sambil mencium bau parfum yang lumayan keras.
“Kenapa? Gak seneng kalo aku kayak gini?”
Bram kewalahan, takut salah ngomong di depan istrinya yang entah kesambet apa sampai mendadak makeover jadi seperti WP langganannya. Dia cuma bisa menjawab pelan-pelan.
“Bukan… bukan gitu… tapi kamu… Aku… nggak…”
Mirna tambah sewot. Maksudnya apa itu? Apa dia malah gak suka aku jadi seperti ini? Melihat muka Bram yang tambah panik, Mirna memberanikan diri untuk agresif. Dipepetnya Bram ke tembok, sambil masih memegang pangkal dasi Bram seperti siap mau mencekik.
Bram lebih besar dari Mirna, tapi saat itu seperti tidak punya kekuatan untuk melawan Mirna. Sementara tangan kanannya siap membuat Bram susah bernafas, tangan kiri Mirna mencari-cari bagian tubuh Bram yang paling jujur.
Tuh, kan… pikir Mirna. Dia merasakan kemaluan Bram mengeras di balik celana.
Mirna meremas pelir Bram.
“Masih mau bohong?” katanya sengit.
“Aku udah tahu. Kamu paling suka ngelihat cewek dandan sampe kelihatan murahan kayak gini kan? Itu kan alasannya kamu masih terus aja jajan di luar biarpun kamu udah punya aku kan?”
Bram mau menjawab, sekaligus merasa agak nyeri di bijinya yang ada di cengkeraman Mirna. Mirna sudah kelihatan marah sekarang. Tapi Bram tidak bisa menyangkal bahwa dia terangsang melihat Mirna berani tampil seperti itu. Cuma dia tidak berani bilang.

“Gak usah nyangkal,” desis Mirna.
“Aku udah tahu seperti apa kamu sebenarnya, Mas. Tapi aku gak senang kalau kamu gak terus terang aja. Aku kan istri Mas Bram? Apa susahnya sih ngasih tau aku apa yang kamu suka?”
“Habisnya…” Bram meringis.
“…ya, kupikir dibilangin juga kamu ga bakal mau…”
“Jadi kamu ga nanya dulu, nyangka aku ga mau, makanya kamu milih ngentot sama lonte? Gitu? Apa ga pernah kepikiran kalau aku bisa aja mau ngikutin kemauan Mas?”
Bram menunduk, tidak berani bicara. Pada saat yang sama, dia tambah terangsang mendengar Mirna berani ngomong jorok seperti itu. Tambah sempit saja celananya terasa. Mirna juga merasakan itu.
“Tuh, yang di bawah situ udah ngaku,” sindir Mirna.
“Bilang aja kalo suka, Mas. Jujur aja.”
“Eh… i… iya… kamu… em… cantik?” Bram merasa salah ngomong, tapi tidak tahu yang benarnya seperti apa.
“Cih. Kaya’ gini yang dianggap cantik? Seleramu payah amat, Mas,” maki Mirna, walaupun dalam hati kecilnya dia senang juga dipuji seperti itu.
“Tapi daripada kamu gak mau berhenti jajan…” Sudah waktunya, pikir Mirna. Lanjut…
“…mending kukasih aja.”
Didorongnya Bram ke sofa ruang depan sampai Bram terduduk. Dengan tidak sabaran Mirna langsung naik ke pangkuan Bram dan memaksa mencium bibir Bram. Bram awalnya kelabakan, tapi langsung menyerah pada desakan Mirna. Hampir 10 menit bibir mereka bertempur, lidah mereka saling serang.
Buat Mirna sendiri, perlu kekuatan tekad sangat besar untuk bisa berpenampilan dan bersikap seperti saat itu. Seumur hidup belum pernah dia seagresif itu, jadi dia deg-degan sendiri waktu akhirnya berani bicara keras di muka Bram. Tapi itu baru permulaan.
Dia sudah berniat mau habis-habisan malam itu, dan meyakinkan Bram untuk seterusnya bahwa dia tidak mau lagi Bram main-main di luar. Artinya, dia sendiri harus melakukan semuanya supaya Bram tidak lagi punya alasan. Tangan kiri Mirna membuka kancing dan resleting celana Bram.
Mirna belum pernah melakukan seks oral dengan Bram sebelumnya, karena Bram tak pernah minta, dan Mirna sendiri kurang inisiatif. Tapi malam itu Mirna tidak ragu-ragu dan tidak menunggu Bram.
Setelah kemaluan Bram yang sudah mengeras terbebas dari celana, Mirna langsung menggarapnya. Jilat dan sedot. Bram terpana melihat bibir merah Mirna naik-turun mengelus anunya. Bukan pertama kali dia disepong; cewek-cewek langganannya lebih kenal dengan rasa kemaluan Bram daripada Mirna.
Karena itu juga Bram mulai bisa tenang lagi, menghilangkan kaget sambil memikirkan apa yang sedang terjadi. Sambil menjilati ereksi Bram, Mirna terus menahan rasa malu dan segan. Dia sudah tidak merasa jadi diri sendiri sejak pertama kali Sitha selesai mempermak habis penampilannya dan dia melihat sendiri mukanya di cermin.
Wajah perempuan bermake-up tebal yang asing itu terlihat norak sekaligus menggoda. Mirna sempat terpikir bahwa itu sudah berlebihan, tapi dia mencoba menerima saja hasil karya Sitha di mukanya.
Perempuan di cermin itu tidak terlihat seperti dia, tapi itu memang dia. Pakaian yang dipinjamkan Sitha pun tidak mencerminkan kepribadiannya yang biasa, tapi Mirna diam saja. Biarpun harus menahan malu, dia harus mencoba dulu. Demi Bram. Demi dia sendiri…
Berhubung Mirna baru pertama kali mempraktekkan fellatio, aksinya masih canggung. Dia tidak tahu apakah Bram suka atau tidak. Dia berhenti lalu melirik ke arah muka Bram. Bram sudah merasa pegang kendali. Satu hal yang tidak diceritakan Sitha ke Mirna, karena Sitha sendiri tidak tahu: kalau bersetubuh dengan wanita bayaran, Bram terbiasa dominan dan cenderung melecehkan lawan mainnya.

Itu juga salah satu alasan Bram ragu-ragu meminta Mirna mengikuti kemauannya. Bram tidak yakin istrinya bakal mau, dan kuatir kalau Mirna tahu apa kesukaannya, masalah bisa muncul. Beda kalau dengan PSK; dia tinggal bayar lebih supaya mereka mau meladeni permintaannya, atau cari cewek lain yang mau. Sekarang ternyata Mirna sendiri memberi sinyal bahwa sebenarnya dia mau mengikuti kemauan Bram. Dan Bram mulai sadar bahwa justru itulah yang dia tunggu-tunggu.

“Kok berhenti?” kata Bram, dengan nada tegas.
“Udahan, nih?”
Sekarang gantian Mirna yang kaget. Dia menganggap apa yang dia lakukan itu semacam akting, role-playing, bermain peran. Dia tidak menyangka Bram bakal secepat itu mengerti dan ikut ‘bermain’. Gara-gara salah perhitungan itu, perannya buyar. Dia merasa konyol karena bengong sementara bibirnya masih di seputar burung Bram.
“Jangan dipaksain kalo emang gak bisa,” kata Bram, mulai yakin bahwa dia sudah membalik keadaan. “Tapi kamu sendiri yang ‘masang’. Ya udah. Sekalian.”
Mirna melihat sekilas Bram nyengir jahat lalu merasakan kedua tangan Bram mencengkeram kedua sisi kepalanya. Sebelum Mirna sempat bicara, Bram berdiri, lalu dengan gencar memaksa kepala Mirna bergerak maju-mundur menyervis anunya. Mirna kelabakan sendiri, dan cuma bisa mengeluarkan bunyi-bunyi tak jelas selagi mulutnya berubah jadi alat masturbasi Bram.
Bram memutar tubuh sambil menarik Mirna sehingga sekarang Mirna membelakangi sofa. Lalu Bram menundukkan badan sehingga kepala Mirna terdorong sampai berbantalkan jok sofa. Setelah dalam posisi itu, Bram langsung menggerakkan pinggulnya membabi-buta, kemaluannya mengaduk-aduk seisi mulut Mirna yang tidak bisa apa-apa selain menerima.
Beberapa genjotan kemudian, Bram melenguh keras dan muncrat di dalam mulut Mirna. Setelah ejakulasi, Bram keluar dari mulut Mirna. Mirna terbatuk, berusaha mengeluarkan mani Bram dari dalam mulutnya. Bram melihat itu dan langsung menghardik.
“Heh. Siapa suruh muntahin? Telan.” Mirna yang masih kaget tidak sempat berpikir apa-apa lagi, secara refleks diikutinya perintah Bram.

Mirna memalingkan muka selagi menelan. Dia berusaha bangun, sementara Bram berdiri mengangkang di atas badannya. Mirna beringsut ke sofa. Bram tersenyum penuh kemenangan sambil membuka dasinya. Dilihatnya Mirna meringkuk di sofa. Sekarang istrinya itu terlihat ketakutan. Memang. Mirna seperti baru melepaskan anjing galak dari ikatan, dan sekarang anjing galak itu malah mengancamnya.
Ganti Bram yang mendesak Mirna di sofa. Kedua tangan Bram memegangi kedua pundak Mirna sementara tubuhnya merapat ke tubuh Mirna. Dilihatnya lagi wajah Mirna yang sedang main pura-pura jadi sundal itu. Walau ada yang cemong sedikit gara-gara mukanya tadi digagahi, bibir Mirna masih merah, maskaranya belum luntur, bedaknya masih ketebalan.
Topeng wanita murahan-nya masih ada. Cuma ekspresinya memang berubah; kalau tadi ekspresi PSK cari mangsa, sekarang tampang PSK kena razia. Tapi Bram yang mulai menikmati perubahan istrinya tidak mau membiarkan Mirna balik lagi seperti yang dulu.
Bram terpikir untuk bersikap gentleman dengan langsung melepas Mirna, meminta Mirna menghapus semua rias wajahnya dan ganti baju biasa, lalu meminta maaf dan kembali bersikap mesra. Tapi Bram tidak mau buru-buru melepas kesempatan. Mumpung istrinya lagi ingin bergaya binal, kenapa tidak dimanfaatkan sepuasnya?
“Mestinya dari dulu kamu begini,” kata Bram di depan muka Mirna, “Tapi kalo udah susah-susah dandan kayak gini, jangan setengah-setengah dong! Terusin aja.” Mirna seperti berusaha meraih mukanya maksudnya mau minta french kiss dari Bram, tapi Bram berkelit.
Dia belum lupa tadi habis membuang apa di mulut Mirna. Selagi Mirna kecewa, Bram menyerang sasaran lain. Dibuatnya leher, pundak, dan bagian atas payudara Mirna berbekas cupang merah. Lalu diangkatnya ujung bawah gaun mini Mirna. Di situ Bram mendapati Mirna tidak pakai celana dalam.
“Niat banget, ya? Sengaja ga pake CD?” goda Bram.
“Atau sedari tadi kamu udah gak tahan jadi self service dulu?” Yang digoda membuang muka karena malu.
Dengan leluasa Bram melalap selangkangan istrinya. Hingga malam itu kehidupan seks Mirna dan Bram relatif monoton; mereka biasanya cuma berhubungan seks biasa, sekadar bermesraan, petting, setubuh dengan posisi normal, tak banyak variasi. Mirna tidak mempermasalahkan; Bram merasa kurang tapi tidak mau bilang ke Mirna dan memilih melampiaskannya di luar.
Jadinya, ya, baru kali itu juga Mirna menikmati kemaluannya dimakan Bram. Sensasinya langsung membuat Mirna mendesah-desah keenakan sambil menjepit kepala Bram dengan kedua pahanya. Mirna sampai lupa terpikir untuk membalas perlakuan Bram tadi dengan tindakan yang sama, berhubung posisinya sekarang kebalikan yang tadi. Bram berkali-kali menyenggol G-spot Mirna dengan lidahnya.
“Mmmhhh…. Aaa!!Mass Brammm!!”
Mirna terengah-engah karena kenikmatan melanda badannya. Tangannya gemetaran, mulutnya menganga. Tapi tiba-tiba Bram berhenti dan berdiri.
“Yahh??” Mirna merengek kecewa. Bram menatapnya dengan pandangan lapar… dan iseng. Bagaimana kalau kita main-main dulu… pikir Bram.
“Mas Bram… terusin dong…” pinta Mirna. Bram cuek.
“Gak mau.”
“Mas Braamm…”
Bram maju. Tangannya memegang tangan Mirna. Bibirnya mendekati bibir Mirna, seolah mau mencium, tapi sekali lagi Bram berkelit dan malah mengulum telinga Mirna. Sementara itu tangannya membawa tangan Mirna ke arah kemaluan Mirna.
“Main sendiri. Sana. Di depanku. Aku pengen lihat lonteku ngobok mekinya sendiri. Gih.”

Bram lalu mundur dan melepas tangan Mirna. Mirna diam sejenak, lalu dengan ragu-ragu mulai. Entah kenapa, biarpun kata-kata Bram tadi sangat melecehkan kalau dalam keadaan normal, Mirna justru malah terangsang mendengarnya. Dia membebaskan buah dadanya dari balik baju dan mencubit-cubit pentilnya yang mengencang. Tangan satunya lagi mengelus-elus bibir kemaluan.
“Kayak gini Mas?… Gimana… ah… ahhh… Lihat aku Mas…”
Bram sendiri sibuk mengocok anunya, sambil terus ngomong.
“Ya. Terus. Gitu. Masukin jarimu ke sana. Jangan cuma satu, tapi dua sekalian. Kobel terus. Gimana. Udah tahu gimana rasanya jadi sundal? Enak?”
“Ah… ah… Mas lihatin aku… enak mas…“
“Mainin terus tuh pentilmu… jepit, cubit. Ah, sayang susumu gak segede itu. Kalo lebih gede kamu bisa gigit-gigit sendiri tuh pentil. Remas terus. Pencet terus.”
“Maafin kalo kurang gede Mas… uh, ungh… Mas aku jangan dibiarin sendiri terus dong… isep toketku Mas…”
“Gak. Pokoknya aku mau lihat kamu sampe klimaks. Terusin aja ngentot jari-nya.”
“Ah… ah… iya Mas… ini kuterusin… engh…” Erangan Mirna diseling suara becek dari kemaluannya yang dia obok-obok sendiri.
“Gimana Mirna? Suka gak jadi lonte? Tau nggak, aku langsung ngaceng begitu lihat kamu yang dandan abis tadi. Sampe sekarang juga masih. Biarpun tadi udah, kayaknya sebentar lagi aku ngecrot lagi.” Bram terus memancing-mancing Mirna.
“Auhhh…. Engg… Hahh, iya, iya Mas, ah… ah…”
“Ini baru di dalam rumah. Coba kalo kamu tadi keluar. Bayangin orang banyak ngelihat kamu. Apa nggak konak semua mereka.”

Kata-kata Bram memancing khayalan Mirna. Bram tidak tahu tadi Mirna sempat ada di luar sebentar, waktu buru-buru pergi dari salon Sitha ke rumah. Tadi Mirna bersyukur tidak kepergok siapapun termasuk orang di mobil Mercy hitam yang lewat.
Sekarang dia membayangkan sendiri andai dia tadi kepergok. Bukan cuma oleh satu orang, tapi banyak. Dan mereka semua terangsang melihat penampilannya yang menggoda. Dan dia dikerubuti oleh mereka, dipegangi, ditelanjangi, dipaksa…
“AHH~!!” Bibir merah Mirna menganga, mengerang tertahan, selagi kepalanya tersentak ke belakang dan sekujur tubuhnya gemetar. Dia orgasme gara-gara khayalan tadi.
“Ah… hah… ah…” nafas Mirna tersengal-sengal setelah mencapai klimaks. Bram mendekati Mirna, setengah mati berusaha menahan semburan dalam kemaluannya, menarik Mirna, dan dengan lega menyemprotkan spermanya ke muka Mirna yang bermake-up tebal itu.
“CROTT…. CROTT…”
Mirna terduduk di lantai. Dia mau mengusap cairan lengket di mukanya, tapi Bram menahan tangannya.
“Biarin dulu! Aku mau lihat mukamu kayak gini!”
Bram melihat maninya berleleran melintang di pipi dan hidung Mirna. Muka pelacur yang habis dientot. Dia merasa lebih suka istrinya yang versi ini.
“Ahh… Maass…” Mirna merengek. Entah karena apa. Dan Bram merasa masih kuat melanjutkan. Tapi dia perlu istirahat sebentar—
“Gak pernah aku lihat kamu seseksi ini,” kata Bram. “Tuh, yang di bawah udah pengen lagi.”
“Kamu juga jadi lain, Mas…” Mirna bilang,
“Aku baru tahu… apa ini yang Mas dapat dari cewek-cewek lain itu?”

Bram agak kesal karena Mirna masih juga mengungkit-ungkit kebiasaannya, dan tidak menjawab. Dia malah menyuruh Mirna menungging di depannya. Mirna menurut, berharap Bram melanjutkan ronde 3. Biarpun sudah orgasme satu kali, Mirna masih ingin kemaluannya dipenetrasi. Dia merasakan tangan Bram di pinggangnya, sementara kemaluan Bram yang mulai tegang lagi menggosok-gosok bibir bawahnya.
“…masukin dong Mas…” bisik Mirna.
“Apa?” Bram pura-pura nggak mendengar.
“Masukin dong Maaas,” rengek Mirna.
“Masukin apa ke mana? Yang jelas dong?”
Mirna terdiam sebentar lalu berkata,
“Masukin kemaluanmu ke kemaluanku Mas…” dengan malu-malu.
“Bagus… kamu udah bisa ngomong kayak mereka,” celetuk Bram, sambil menyodok kemaluan istrinya.
Mirna tidak menjawab, dan cuma mendesah karena nikmat. Tapi Bram masih terus berniat menggoda istrinya. Sambil merapat ke punggung Mirna, Bram berbisik.
“Becek amat di dalam sana, licin. Hayo ngaku. Udah dipake berapa orang kamu hari ini, lonte?”
Mirna menggigit bibir, malu karena diledek Bram. Dia mendengking waktu Bram menampar pantatnya. Tapi ternyata beberapa lama kemudian Bram mencabut burungnya dari kemaluan Mirna. Sebelum Mirna sempat protes, Bram menggenggam satu tangannya dan mendorong Mirna ke arah sofa sampai kepalanya bersandar di sofa. Mirna bertanya-tanya apa mau Bram, tapi dia langsung sadar ketika Bram menowel-nowel lubang anusnya…
“Mas? Mas Bram mau apa…?”
“Mau merawanin pantatmu…”
Sesudahnya, ada jeritan yang sampai terdengar oleh Sitha di rumah sebelah. Sitha tersenyum puas mendengar suara berisik di rumah adik dan adik iparnya. Sarannya kepada Mirna untuk coba berubah menjadi seperti perempuan-perempuan yang fotonya ada di HP Bram sepertinya manjur.
Baguslah, pikirnya. Daripada Bram bawa pulang penyakit atau anak haram, mendingan dengan Mirna. Orang yang tadi datang dengan Mercy hitam baru saja pergi dari salon Sitha, puas dengan pelayanan Sitha dan memberi tips cukup banyak. Sitha kembali memulaskan lipstik di bibirnya; tadi lipstiknya terhapus ketika dia memberi servis blowjob kepada si pengendara Mercy.
Satu jam sudah berlalu sejak Bram pulang. Sekarang dia terlentang telanjang, mandi keringat, di ruang tamu. Di dadanya bersandar Mirna yang awut-awutan, make-up tebalnya luntur setelah entah berapa ronde berperan sebagai pelacur demi Bram.

Dari lubang duburnya yang terasa agak nyeri, mengalir sedikit benih Bram yang tadi dikeluarkan Bram di sana. Dua-duanya terlalu capek untuk ngobrol ataupun merasa bersalah. Yang jelas, Mirna merasa tambah yakin Bram tidak akan perlu lagi jajan di luar. Dan sepertinya, Mirna sendiri juga menemukan sisi baru dalam dirinya….

September 7, 2024 Fella Penyanyi Cafe Yang Menggodaku

Fella Penyanyi Cafe Yang Menggodaku

Aku sedang menunggu clientku dan mencari tempat yang asyik dimana disana ada sajian live music untuk menghibur pengunjung saat itu yang main band beraliran jazz aku lihat dari penyayinya seorang cewek suaranya enak sekali , wajah manisnya ditambah dengan lesung pipinya membuat dia semakin manis , kira kira umurnya 26 tahun. “Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Fella bersama band akan menemani anda semua. Jika ada yang ingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau jika ingin request lagu.. silakan”.

Penyanyi yang ternyata bernama Fella itu mulai menyapa pengunjung Cafe. Aku hanya tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan client menyita perhatianku. Sampai kemudian telingaku menangkap perubahan cara bermain dari sang keyboardist. Aku melihat ke arah band tersebut dan melihat Fella ternyata bermain keyboard juga.
Fella bermain solo keyboard sambil menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang sangat sederhana. Aku menikmati semua jenis musik dan berusaha mengerti semua jenis musik. Termasuk jazz yang memang ‘brain music’. Musik cerdas yang membuat otakku berpikir setiap mendengarnya. Fella ternyata bermain sangat aman. Aku terkesima menemukan seorang penyanyi cafe yang mampu bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba aku menjadi sangat tertarik dengan Fella. Aku menuliskan request laguku dan memberikannya melalui pelayan cafe tersebut. “The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas request sekaligus menuliskan nomor HP-ku. Aku melanjutkan percakapan dengan clientku dan tak lama kemudian aku mendengar suara Fella.

“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”
Bahasa tubuh Fella menunjukkan bahwa dia ingin tahu dimana aku duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku tepat di depan band tersebut. Jadi, dengan jelas Fella bisa melihatku. Kulihat Fella membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya. Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku pun menatapnya. Untuk menggodanya, aku mengedipkan mataku. Aku kembali berbicara dengan clientku. Tak lama kudengar suara Fella menghilang dan berganti dengan suara penyanyi pria. Kulihat sekilas Fella tidak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.
“Fella.” tampak pesan SMS di HP-ku. Wah.. Fella meresponsku. Segera kutelepon dia.
“Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Fella?”
“Hi Boy. Aku di belakang. Ke kamar mandi. Kenapa ingin tahu HP-ku?”
“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku terus terang. Kudengar tawa ringan dari Fella.
“Rayuan ala Boy, nih?”
“Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang pantas buatmu yang memang sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapa? Aku antar pulang ya?”
“Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat kau dengan temanmu?”
“Oh.. dia clientku. Sebentar lagi dia pulang kok. Aku hanya mengantarnya sampai parkir mobil. Bagaimana?”
“Okay.. Aku tunggu ya.”
“Okay.. See you soon, sexy..”
Aku melanjutkan sebentar percakapan dengan client dan kemudian mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Setelah clientku pulang aku kembali ke cafe. Waktu masih menunjukkan pukul 23.30. Masih 30 menit lagi. Aku kembali duduk dan memesan hot tea. 30 menit aku habiskan dengan memandang Fella yang menyanyi. Mataku terus menatap matanya sambil sesekali aku tersenyum. Kulihat Fella dengan percaya diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik hingga membuatku ingin mencumbunya. Dalam perjalanan mengantarkan Fella pulang, aku sengaja menyalakan AC mobil cukup besar sehingga suhu dalam mobil dingin sekali. Fella tampak menggigil.
“Boy, AC-nya dikecilin yah?” tangan Fella sambil meraih tombol AC untuk menaikkan suhu. Tanganku segera menahan tangannya. Kesempatan untuk memegang tangannya.
“Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini aku baru bisa. Kalau kamu naikkan, aku tidak tahan..” alasanku.

Aku memang ingin membuat Fella kedinginan. Kulihat Fella bisa mengerti. Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kuusap perlahan. Fella diam saja.

“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimulum ringan. Fella tersenyum. Dia tidak menolak.
“Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, kamu suka jazz juga ya?”
“Hampir semua musik aku suka. Oh ya, baru kali ini aku melihat penyanyi jazz wanita yang bisa bermain keyboard. Mainmu asyik lagi.”
“Haha.. Ini malam pertama aku main keyboard sambil menyanyi.”
“Oh ya? Tapi tidak terlihat canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu banyak memakai scale altered dominant ya?” aku kemudian memainkan tangan kiriku di tangannya seolah-olah aku bermain piano.
“What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu bisa main piano yah?” Fella tampak terkejut. Mukanya terlihat penasaran.
“Yah, dulu main klasik. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan rumah Fella.
“Tinggal dengan siapa?” tanyaku ketika kami masuk ke rumahnya. Ya, aku menerima ajakannya untuk masuk sebentar walaupun ini sudah hampir jam 1 pagi.
“Aku kontrak rumah ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum pulang semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”

Fella masuk kamarnya untuk mengganti baju. Aku tidak mendengar suara pintu kamar dikunci. Wah, kebetulan. Atau Fella memang memancingku? Aku segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Benar! Fella berdiri hanya dengan bra dan celana dalam. Di tangannya ada sebuah kaos. Kukira Fella akan berteriak terkejut atau marah. Ternyata tidak. Dengan santai dia tersenyum.
“Maaf.. Aku mau tanya kamar mandi dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru aku yang gugup melihat pemandangan indah di depanku.
“Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk aja.”
Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya aku melihat ada sebuah keyboard. Aku tidak jadi ke kamar mandi malah memainkan keyboardnya. Aku memainkan lagu “Body and Soul” sambil menyanyi lembut. Suaraku biasa saja juga permainanku. Tapi aku yakin Fella akan tertarik. Beberapa kali aku membuat kesalahan yang kusengaja. Aku ingin melihat reaksi Fella.
“Salah tuh mainnya.” komentar Fella. Dia ikut bernyanyi.
“Ajarin dong..” kataku.
Dengan segera Fella mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Fella berdiri membelakangiku. Dengan posisi seperti memelukku dari belakang, dia menunjukkan sekilas notasi yang benar. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku.
Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Fella saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.

“Katanya mau ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.
“Oh ya..” aku berdiri.
Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!
“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Fella terkejut. Aku tertawa saja.
Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau mau marah ya aku terima saja. Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya. Ternyata Fella malah tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya!
Fella membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya.

Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Fella juga membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama tinggal hanya memakai celana dalam. Sambil terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku bisa meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.
“Agh..” kudengar rintihan Fella. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan aku merasakan penisku ereksi.
“Egh..” aku menahan nafas ketika kurasakan tangan Fella menggenggam batang penisku dan meremasnya.
Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku makin terangsang. Tubuh Fella kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak bisa berbaring. Sewaktu Fella duduk, aku hanya bisa merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak bisa kuraih. Fella tidak mau duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi puting dadaku!
Ternyata enak juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Fella cukup aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik.

Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan juga melepas celana dalam Fella. Kami bercumbu kembali. Lidahku menekan lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap. Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian membuat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin membuat kami saling merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berbeda bercinta ketika dalam keadaan basah. Waktu bercumbu, ada rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya dari biasanya.
Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh, membuat tubuh kami makin panas.
Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, sementara bibirku melumat makin ganas bibir Fella. Sesekali Fella menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat ringan pinggang, punggung dan bahu Fella. Dari bahasa tubuhnya, Fella sangat menikmati pijatanku.
“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Fella mengerang.
Lidahku mulai menjilati telinganya. Fella menggelinjang geli. Tangannya ikut meremas pantatku. Aku merasakan payudara Fella makin tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.
“Payudaramu seksi sekali, Fella.. Ingin kumakan rasanya..” candaku sambil tertawa ringan. Fella memainkan bola matanya dengan genit.
“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.
“Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya persis di ujung putingnya.
“Ergh..” desah Fella. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.
Mulai dari ujung lidah sampai akhirnya dengan seluruh lidahku, aku menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak kuat dan akhirnya kuat. Tak lama kemudian Fella kemudian membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.
“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Fella memintaku mulai beraksi.
Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Fella dengan terampil mengikuti tempo kocokanku.
Kamu bekerja sama dengan harmonis saling memberi dan mendapatkan kenikmatan. Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan perawan, kecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.
“Agh.. Agh..” Fella mengerang keras. Lama kelamaan suaranya makin keras.
“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.
Rupanya Fella adalah tipe wanita yang bersuara keras ketika bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku makin cepat.
Beberapa saat kemudian aku berhenti. Mengatur nafas dan mengubah posisi kami. Fella menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Fella sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, kemudian memasukkan jariku.

“Hey.. Perih tau!” teriak Fella. Aku tertawa.

“Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya tetapi tetap bermain-main di sekitar anusnya hingga membuatnya geli.
Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.
“Aku mau nyampe, Fella..”
“Keluarin di dalam aja. Udah lama aku tidak merasakan semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.
“Aman, Boy. Aku ada obat anti hamil kok..” Fella meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi dengan gencar. Fella berteriak makin keras.
“Yes.. Aku juga hampir sampe, Boy…come on.. come on.. oh yeah..”
Saat-saat itu makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..
“Aku orgasme. Sesaat kemudian kurasakan tubuh Fella makin bergetar hebat. Aku berusaha keras menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.
“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Fella menyusulku orgasme.
Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku. Kami kemudian bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan kemudian perutnya.
Aku membuatnya kegelian ketika hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya. Fella tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.
“Thanks Boy.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”
Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku hanya berusaha melayani setiap wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.
Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang wanita muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.
“Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Fella. Tadi malah sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Fella tertawa.
“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” aku menganggukkan kepalaku padanya.
“Hi Gladys..” sapaku.

Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terayun aku mencari kaos dan celana pendek Fella dan memakainya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku harus pulang.